koranindopos.com – Jakarta. Nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat diperkirakan akan melanjutkan tren pelemahan pada hari pertama perdagangan setelah libur Lebaran, Rabu (25/3/2026). Rupiah bahkan diproyeksikan menyentuh level Rp17.050 per dolar AS.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat, terutama akibat faktor eksternal. “Saat pembukaan pasar di hari Rabu kemungkinan besar rupiah ini akan melemah. Target saya minggu depan di Rp17.050,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Salah satu penyebab utama pelemahan rupiah adalah penguatan dolar AS yang terus berlanjut. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut mendapatkan dukungan dari kebijakan bank sentral di berbagai negara yang masih mempertahankan suku bunga tinggi.
Kondisi ini membuat arus modal global cenderung mengalir ke aset berdenominasi dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor moneter, eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah juga turut memberikan tekanan tambahan. Ketegangan yang meningkat memicu lonjakan harga minyak dunia, yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas ekonomi global.
Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan Indonesia, sehingga semakin membebani nilai tukar rupiah.
Momentum pembukaan pasar setelah libur panjang Idul Fitri juga dinilai rawan gejolak. Aktivitas perdagangan yang kembali normal biasanya diiringi dengan penyesuaian harga dan respons terhadap sentimen global yang berkembang selama libur.
Pelaku pasar diimbau untuk mencermati perkembangan ekonomi global, kebijakan suku bunga, serta dinamika geopolitik yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar.
Meski demikian, stabilitas rupiah ke depan juga akan sangat bergantung pada langkah-langkah yang diambil otoritas moneter dalam menjaga keseimbangan pasar dan kepercayaan investor.(Dhil)










