Koranindopos.com – JAKARTA – Di tengah tren anak muda yang lebih gemar menghabiskan waktu nongkrong di kafe atau sibuk dengan media sosial, ada kisah berbeda dari seorang Gen Z bernama Ahmad Zidane Fauzan. Pria berusia 26 tahun itu justru menghabiskan pagi harinya dengan merawat burung-burung kicau di rumahnya di kawasan Manggarai.
Di teras rumah yang sederhana, sangkar-sangkar burung tergantung rapi. Suara kicauan nyaring menjadi musik sehari-hari yang menemani aktivitas Zidane. Siapa sangka, hobi yang sering dianggap kuno oleh sebagian anak muda itu justru menjadi sumber penghasilan yang sangat menjanjikan.
Bagi Zidane, dunia “kicau mania” bukan sekadar hiburan atau pelarian dari rutinitas. Ia melihatnya sebagai dunia kompetisi yang serius sekaligus peluang ekonomi yang besar. Ketekunannya merawat dan melatih burung membuahkan hasil ketika ia berhasil memenangkan lomba burung kicau dengan hadiah fantastis.
Sekitar tiga tahun lalu, Zidane mengikuti sebuah ajang lomba burung kicau bergengsi. Untuk ikut kompetisi tersebut, ia harus mengeluarkan biaya pendaftaran hingga Rp 10 juta. Nominal yang tidak kecil, apalagi bagi sebagian besar anak muda seusianya.
Namun keberanian itu terbayar lunas. Burung kicau miliknya tampil memukau dengan kemampuan menirukan suara burung lain yang dilombakan. Penampilannya berhasil mencuri perhatian juri dan mengantarkannya menjadi juara.
“Sering juara dong dan hadiah terbesar yang pernah didapat mobil Ayla,” ujar Zidane saat ditemui di kediamannya di Manggarai, Kamis (7/5/2026).
Mobil hadiah tersebut kemudian ia tukarkan dengan uang tunai senilai Rp 110 juta. Uang hasil kemenangan tidak dihabiskan untuk gaya hidup semata, melainkan diputar kembali untuk mengembangkan hobinya. Zidane membeli burung baru, mengikuti kompetisi lain, hingga berbagi hasil dengan tim yang membantunya selama persiapan lomba.
Keseriusan Zidane di dunia burung kicau terlihat dari rutinitasnya mengikuti berbagai perlombaan, baik mingguan maupun bulanan. Tak hanya di Jakarta, ia juga kerap membawa burung andalannya bertanding ke luar kota.
Salah satu lokasi terjauh yang pernah ia datangi adalah Malang. Menurutnya, setiap perlombaan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Jika lomba digelar di Jakarta, biaya yang harus dikeluarkan sekitar Rp 2 juta, termasuk tiket pendaftaran. Namun jika kompetisi berlangsung di luar kota, pengeluarannya bisa mencapai Rp 10 juta karena harus menambah biaya transportasi dan penginapan.
Meski demikian, mahalnya biaya lomba tidak menyurutkan semangat para pehobi burung kicau. Dunia kicau mania memang dikenal memiliki komunitas yang solid dan kompetisi yang prestisius, dengan hadiah yang bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Kisah Zidane membuktikan bahwa hobi tradisional seperti memelihara burung kicau masih memiliki tempat di kalangan generasi muda. Bahkan, di tangan anak muda yang serius dan tekun, hobi tersebut bisa menjadi ladang cuan yang menjanjikan.
Fenomena ini juga menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu datang dari tren modern atau pekerjaan digital. Dari suara kicauan burung di teras rumah sempit, seorang Gen Z mampu menghasilkan ratusan juta rupiah dan membangun jaringan komunitas yang luas.
Di balik sangkar-sangkar sederhana itu, tersimpan dedikasi, strategi, dan semangat kompetisi yang tidak kalah dari dunia profesional lainnya.(dhil)










