Berdasarkan data pasar Bloomberg, kurs dolar AS pada pukul 10.10 WIB tercatat berada di level Rp17.520 atau menguat 106 poin (0,61 persen). Sementara saat pembukaan perdagangan sekitar pukul 09.06 WIB, dolar AS sudah berada di posisi Rp17.487 atau naik 73 poin (0,42 persen). Dalam kurun waktu sekitar satu jam, mata uang AS tersebut kembali menguat sekitar Rp33 terhadap rupiah.
Pelemahan ini menjadikan nilai tukar rupiah berada di titik terendah sepanjang sejarah dan memicu kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Puan menegaskan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus segera merespons kondisi tersebut agar dampaknya tidak semakin meluas terhadap perekonomian Indonesia.
“Tentu saja kita akan meminta kepada pemerintah dan stakeholder yang ada untuk mengantisipasi hal tersebut,” ujar Puan di Kompleks DPR RI Senayan, Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Menurutnya, gejolak ekonomi global saat ini harus diwaspadai karena dapat memengaruhi berbagai sektor strategis nasional, mulai dari perdagangan, investasi, hingga daya beli masyarakat.
Melemahnya rupiah terhadap dolar AS berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku dan barang konsumsi. Kondisi ini juga dapat berdampak pada kenaikan harga sejumlah komoditas dan menekan industri yang bergantung pada impor.
Selain itu, pelemahan kurs rupiah dapat memengaruhi beban utang luar negeri pemerintah maupun swasta yang menggunakan mata uang dolar AS.
Pengamat ekonomi menilai stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan pasar dan iklim investasi di Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Bank Indonesia diharapkan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi pasar, penguatan cadangan devisa, serta koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga fundamental ekonomi nasional.
Pemerintah juga diminta memperkuat sektor domestik agar ekonomi Indonesia tetap tumbuh dan tidak terlalu rentan terhadap tekanan eksternal.(dhil)










