Koranindopos.com, Jakarta – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-46 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia berlangsung berbeda tahun ini. Tidak hanya diisi seremoni, Perpusnas memanfaatkan momentum tersebut untuk menegaskan arah kebijakan literasi nasional yang kini semakin dekat dengan transformasi digital, penguatan budaya baca, hingga pelestarian naskah kuno sebagai identitas bangsa.
Acara yang digelar di Jakarta, Minggu (17/5), itu mengusung tema “46 Tahun Perpusnas: Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”. Tema tersebut menjadi penanda bahwa perpustakaan kini tidak lagi dipandang sekadar ruang penyimpanan buku, melainkan bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia.
Kepala E. Aminudin Aziz mengatakan perjalanan Perpusnas selama 46 tahun harus dimaknai sebagai upaya menjaga pengetahuan agar tetap relevan di tengah perubahan zaman.
“Hari ini, 17 Mei 2026, kita mensyukuri 46 tahun perjalanan Perpusnas. Ini bukan sekadar perayaan angka, melainkan refleksi atas upaya tak henti dalam menjaga nyala api pengetahuan agar tetap abadi di bumi Nusantara,” ujar Aminudin.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi. Karena itu, perpustakaan dituntut lebih adaptif tanpa meninggalkan nilai sejarah dan budaya bangsa.
“Sejarah dan masa depan tidak boleh dipisahkan oleh sekat teknologi. Dalam semangat merawat pustaka, kita berkomitmen menjaga setiap jengkal akar budaya seperti kearifan dalam naskah lontar dan aksara kuno sebagai fondasi martabat kita sebagai bangsa yang besar. Namun pada saat yang sama, kita tidak ragu untuk berlari kencang memeluk digitalisasi demi memastikan kedaulatan intelektual Indonesia tetap tegak di masa depan,” katanya.
Dalam rangkaian HUT tersebut, Perpusnas juga meluncurkan dua buku reflektif yang membahas perkembangan literasi nasional dan tantangan dunia perpustakaan di era modern. Salah satu buku mengangkat isu transformasi digital, kecerdasan buatan, hingga inklusi sosial dalam ekosistem pengetahuan Indonesia.
Sementara buku lainnya membahas peran perpustakaan dalam menjaga memori kolektif bangsa serta memperkuat karakter kebangsaan melalui budaya baca yang lebih inklusif.
Perayaan HUT tahun ini juga diramaikan kegiatan Literacy Run yang melibatkan pegawai Perpusnas, komunitas pelari ASN, dan masyarakat umum. Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa gerakan literasi kini semakin terbuka dan dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Literasi hari ini adalah sebuah gerakan yang dinamis, sehat, dan menjadi perekat sosial yang menyatukan kita semua,” ujar Aminudin.
Selain itu, acara turut diisi pemberian penghargaan bagi pegawai berkinerja terbaik, santunan pendidikan dari Dharma Wanita Persatuan Perpusnas, hingga apresiasi dari PMI Provinsi DKI Jakarta.
Ketua panitia HUT ke-46 Perpusnas, Supriyanto, mengatakan seluruh kegiatan sengaja dirancang untuk memperkuat semangat bahwa perpustakaan harus tetap hadir mengikuti perkembangan masyarakat dan teknologi.
“Literasi adalah energi yang sehat dan menyatukan seluruh elemen bangsa,” ujarnya.
Perpusnas saat ini juga tengah mengarahkan kebijakan pada perluasan akses bahan bacaan bermutu, penguatan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, serta pengembangan layanan digital sebagai bagian dari target pembangunan sumber daya manusia dalam RPJMN 2025–2029.
Menutup sambutannya, Aminudin menegaskan bahwa pengetahuan harus terus hidup dan diwariskan lintas generasi.
“Buku mungkin memiliki halaman terakhir, namun ilmu pengetahuan dan martabat sebuah bangsa tidak boleh mengenal kata akhir,” pungkasnya.(BRG/Kul)










