Korainindopos.com, Jakarta – Menjelang peluncuran album terbarunya, Slank memperlihatkan bahwa mereka masih mempertahankan identitas yang telah melekat selama puluhan tahun. Lewat album ke-26 bertajuk Republik Fufufafa, grup band legendaris ini kembali memadukan lagu bertema cinta dengan kritik terhadap berbagai persoalan sosial yang terjadi di sekitar masyarakat.
Album tersebut akan resmi dirilis pada 7 Juni 2026 dan berisi 10 lagu dengan warna musik yang beragam. Sebelumnya, Slank telah memperkenalkan dua lagu lebih dulu kepada publik, yaitu “Republik Fufufafa” dan “PPN 12%”.
Bimbim menjelaskan bahwa album terbaru ini dibangun dari beberapa tema utama yang menjadi benang merah seluruh materi lagu di dalamnya. Selain kisah cinta, Slank juga menyoroti isu lingkungan, kondisi sosial, hingga kehidupan anak muda.
“Dalam album tersebut, Slank mengangkat empat unsur utama, yaitu cinta, alam, sosial, dan youth (anak muda). Sesuai dengan ciri khasnya, Slank juga masih menyelipkan kritik sosial dalam beberapa lagu, salah satunya ‘Jangan Rakus’,” kata Bimbim dalam jumpa pers di Markas Potlot, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (5/6/2026).
Lagu “Jangan Rakus” menjadi salah satu karya yang mendapat perhatian khusus. Melalui lagu tersebut, Slank mengangkat fenomena korupsi yang belakangan terus menjadi perbincangan publik.
“Berbeda dengan ‘Jangan Rakus’, itu juga soal kritik. Sebenarnya kita kan di hari-hari ini dikasih tontonan tentang korupsi. Korupsi kan basisnya merasa kurang terus sampai akhirnya butuh untuk korupsi. Lagu ini tentang korupsi yang nakal,” ujar Bimbim.
Meski demikian, album ini tidak hanya berisi kritik sosial. Slank tetap menghadirkan lagu-lagu yang berbicara mengenai cinta dengan makna yang luas dan bisa ditafsirkan dalam berbagai bentuk hubungan.
“Love song. Mungkin bisa dibilang ke Tuhan juga bisa, cinta saja pokoknya. Cinta kan bisa ke pacar, ibu, anak, Tuhan,” ungkap Bimbim.
Dalam kesempatan yang sama, Bimbim juga menegaskan bahwa lagu-lagu bertema cinta di album ini tidak selalu berbicara tentang hubungan romantis.
“Jangan Rakus” berbicara tentang cinta dalam makna yang luas,” tutur Bimbim.
Dari sisi musikalitas, Slank mencoba menghadirkan variasi yang lebih berwarna dibanding karya-karya sebelumnya. Album ini memadukan nuansa rock alternatif, rock n’ roll, hingga balada yang lebih lembut dan melankolis.
Lirik yang digunakan juga tetap mempertahankan gaya khas Slank yang sederhana, mudah dipahami, namun memiliki pesan yang kuat. Karakter slengean yang selama ini menjadi identitas mereka masih terasa dalam setiap lagu.
Tidak hanya dari sisi musik, Slank juga menghadirkan konsep visual yang berbeda. Kelima personel tampil dengan riasan badut nakal yang menjadi bagian dari konsep album terbaru mereka.
Proses pengerjaan album dilakukan pada bulan Ramadhan lalu. Meski dikerjakan dalam waktu yang cukup padat, Slank berhasil menyelesaikan seluruh materi hingga siap dirilis ke platform digital.
Album Republik Fufufafa menjadi penanda perjalanan panjang Slank yang kini telah menghasilkan 26 album studio. Kehadirannya sekaligus menunjukkan bahwa band yang lahir di Gang Potlot ini masih terus produktif berkarya dan menyuarakan berbagai isu melalui musik.
Album tersebut berisi 10 lagu, yakni “Republik Fufufafa”, “Rusak Ancur”, “Jangan Rakus”, “Di Dekatmu”, “My Rinduku”, “Papa Sid”, “PPN 12%”, “Bunga Rindu”, “Buka Baju”, dan “Ku Tak Mungkin”. (BRG/Kul)










