Koranindopos.com, JAKARTA-Pencapaian Republik Demokratik (RD) Kongo di Piala Dunia 2026 menjadi perhatian publik dunia. Mereka berhasil lolos kembali di ajang kompetisi paling bergengsi di planet bumi itu setelah absen sejak 1974. Hebatnya lagi, prestasi itu mereka raih di saat negara mereka sedang darurat wabah Ebola.
Di bawah arahan pelatih Sebastien Desabre, Kongo lolos ke Piala Dunia 2026 melalui jalur playoff antarbenua setelah mengalahkan Jamaika 1-0. Itu berkat gol Axel Tuanzebe pada babak tambahan. Kemudian, mereka sukses menundukkan Uzbekistan 3-1 di pertandingan pamungkas Grup K Piala Dunia 2026 hingga membawanya ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 lewat jalur peringkat ketiga terbaik, usai mengoleksi 4 poin dari tiga laga di fase grup.
RD Kongo akan berhadapan dengan timnas Inggris di babak 32 besar Piala Dunia pada Rabu (1/7/2026) di Stadion Atlanta, AS. Di balik keberhasilan lolos ke babak 32 besar, RD Kongo menyimpan nestapa. Sebelum tiba di Amerika Serikat, skuad Kongo harus menjalani isolasi selama tiga minggu di Eropa karena wabah Ebola di negara asal mereka.
Skuad tersebut tiba dengan penerbangan dari Paris, setelah pihak berwenang AS bersikeras agar mereka menjalani masa karantina di Belgia atau berisiko ditolak masuk untuk turnamen tersebut. Pelatih kepala Sebastien Desabre mengatakan, dia berharap timnya akan menampilkan pertunjukan yang baik dan membawa sedikit kegembiraan bagi rekan senegaranya yang sedang menghadapi wabah virus. ”Sudah lama sejak orang-orang melihat tim ini di Piala Dunia,” kata pria Prancis itu seperti diberitakan Al Jazeera.
Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) sudah menyatakan bahwa bagian timur Republik Demokratik Kongo menghadapi benturan dahsyat antara penyakit dan konflik karena wabah Ebola yang menyebar dengan cepat melampaui upaya penahanan di wilayah yang sudah porak-poranda oleh kekerasan bersenjata, pengungsian massal, dan kelaparan akut.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, wabah virus Ebola Bundibugyo di provinsi Ituri menyebar di lingkungan di mana ketidakamanan, serangan terhadap fasilitas kesehatan, dan pergerakan penduduk membuat pelacakan kontak dan isolasi kasus menjadi hampir mustahil. ”Kita tidak bisa membangun kepercayaan masyarakat atau mengisolasi orang sakit sementara bom terus berjatuhan,” kata Ghebreyesus. (cnni/mmr)










