Koranindopos.com – Jakarta – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mencatat pelemahan sepanjang perdagangan sepekan pada periode 6–11 Juli 2026. Berdasarkan data Logam Mulia Antam, harga emas 24 karat turun sebesar Rp15.000 per gram, meski sempat mengalami penguatan pada dua hari terakhir perdagangan.
Pada awal pekan, Senin (6/7/2026), harga emas Antam dibuka di level Rp2.670.000 per gram. Setelah mengalami fluktuasi selama beberapa hari, harga akhirnya ditutup pada Rp2.655.000 per gram pada Sabtu (11/7/2026).
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pasar emas masih bergerak dinamis di tengah berbagai sentimen global yang memengaruhi permintaan aset safe haven.
Harga emas Antam mengalami penurunan berturut-turut pada paruh pertama pekan. Pada Selasa (7/7), harga turun sebesar Rp15.000 per gram, kemudian kembali melemah Rp14.000 per gram pada Rabu (8/7).
Tren penurunan masih berlanjut pada Kamis (9/7) dengan koreksi Rp8.000 per gram. Namun, memasuki akhir pekan, harga mulai menunjukkan pemulihan setelah naik Rp17.000 per gram pada Jumat (10/7), kemudian kembali menguat Rp5.000 per gram pada Sabtu (11/7).
Meski terjadi rebound pada dua hari terakhir, kenaikan tersebut belum mampu menghapus penurunan yang terjadi pada awal pekan.
Selain harga jual, harga buyback atau harga pembelian kembali emas oleh Antam juga mengalami penurunan.
Sepanjang periode yang sama, harga buyback turun Rp14.000 per gram, dari Rp2.429.000 per gram pada awal pekan menjadi Rp2.415.000 per gram pada Sabtu (11/7).
Harga buyback merupakan acuan yang digunakan Antam ketika membeli kembali emas dari masyarakat, sehingga menjadi indikator penting bagi investor yang berencana menjual kepemilikan emasnya.
Meski mengalami koreksi dalam jangka pendek, emas masih menjadi salah satu instrumen investasi yang banyak dipilih masyarakat karena dinilai mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang, terutama saat kondisi ekonomi global bergejolak.
Pergerakan harga emas dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari nilai tukar dolar Amerika Serikat, kebijakan suku bunga bank sentral, inflasi global, hingga perkembangan geopolitik internasional. Oleh karena itu, investor disarankan untuk terus memantau dinamika pasar sebelum mengambil keputusan investasi.
Dengan fluktuasi yang masih cukup tinggi, pelaku pasar diharapkan tetap mempertimbangkan strategi investasi sesuai profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.(dhil/dtk)










