Koranindopos.com, Jakarta – Operasi bariatrik dapat membantu menurunkan berat badan pada pasien obesitas. Namun, hasil tersebut tetap perlu dijaga karena berat badan bisa kembali naik jika pasien tidak menjalani perubahan pola hidup dan kontrol secara rutin, termasuk pola makan, aktivitas fisik, serta pemantauan medis jangka panjang.
Hal itu disampaikan Dr. dr. Peter Ian Limas, Sp.B., Subsp. B.D.(K), dokter spesialis bedah dengan subspesialisasi bedah digestif, dalam seminar awam yang digelar RS Sumber Waras, Jakarta, Sabtu (8/8/2026).
Menurut Dr. Peter, keberhasilan operasi tidak hanya diukur dari turunnya berat badan, tetapi juga kemampuan pasien mempertahankan hasilnya dalam jangka panjang, termasuk mencegah komplikasi metabolik yang bisa muncul kembali.
“Bedah bariatrik memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi dibandingkan terapi lain, dan sudah banyak contoh keberhasilannya. Namun, keberhasilan menurunkan berat badan itu berbeda dengan keberhasilan mempertahankannya. Istilah ‘bariatrik’ sendiri sering disalahpahami dengan ‘hiperbarik’, padahal bariatrik adalah bedah untuk penanganan obesitas,” jelas Dr. Peter.
Ia memperkirakan persoalan berat badan kembali naik mulai banyak ditemui pada pasien yang menjalani operasi sekitar tiga tahun lalu, terutama jika tidak disiplin menjalani kontrol rutin dan rekomendasi diet pascaoperasi.
“Setelah tiga tahun, saya sudah memprediksi bahwa akan banyak pasien yang mengalami weight regain dan mulai kembali berkonsultasi. Tren ini meningkat sejak 2023, dan tiga tahun kemudian jatuh pada tahun 2026 — sekarang,” tutup Dr. Peter.
Karena itu, RS Sumber Waras tidak menganjurkan pasien langsung menjalani operasi tanpa persiapan. Pasien terlebih dahulu perlu menyiapkan kondisi fisik dan mental, termasuk menjalani diet sebelum tindakan serta edukasi mengenai perubahan gaya hidup setelah operasi.
“Ini adalah kesempatan emas untuk memperbaiki gaya hidup kita. Hal yang penting adalah kita sudah menyiapkan diri — kalau mau bariatrik, kita siapkan dulu mentalnya. Sekarang banyak pusat bariatrik yang menjadi pesaing, bisa datang hari ini, besok langsung operasi,” katanya.
“Di tempat kami, kami berusaha untuk tidak melakukan itu. Kami mempersiapkan pasien terlebih dahulu, termasuk menjalani diet pre-operasi, karena selain membuat operasi menjadi lebih mudah, niat pasien juga akan terbangun. Ini bukan seperti membeli kacang goreng — begitu punya uang, datang ke toko, beli, lalu makan. Ini adalah perjuangan seumur hidup,” papar Dr. Peter.
Ia juga menegaskan bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang perlu ditangani secara serius dan berkelanjutan, bukan hanya dengan tindakan sesaat.
“Obesitas adalah penyakit. Ini penyakit yang sifatnya kronis. Kalau seseorang mengalami obesitas, maka ia senantiasa dalam keadaan meradang — nadinya sedikit tinggi, suhunya sedikit tinggi — karena jaringan lemak tubuh kita menghasilkan zat-zat yang meningkatkan peradangan. Itu akan menjadi beban bagi tubuh kita. Jadi, tidak ada istilahnya gemuk tapi sehat, itu tidak masuk,” ujar Dr. Peter.
Dalam seminar bertema “Berat Badan Turun, Kualitas Hidup Naik: Solusi Tuntas Obesitas dari Obat, Diet hingga Operasi Bariatrik” tersebut, RS Sumber Waras menjelaskan bahwa penanganan obesitas dapat dilakukan melalui perubahan pola makan, terapi obat hingga operasi bariatrik, sesuai kondisi dan indikasi medis masing-masing pasien, serta tetap membutuhkan pendampingan jangka panjang agar hasilnya bertahan optimal. (BRG/Kul)










