Koranindopos.com – Jakarta – Sebagian besar kawasan Timur Tengah diperkirakan akan menghadapi gelombang panas ekstrem dalam beberapa hari ke depan. Fenomena ini dipicu oleh sistem tekanan tinggi yang menetap di atmosfer atau dikenal sebagai heat dome, yang menyebabkan suhu udara di sejumlah negara Arab mendekati bahkan menembus 50 derajat Celsius.
Berdasarkan laporan media regional Gulf News, sekitar 10 negara Arab diperkirakan terdampak kondisi cuaca ekstrem tersebut. Selain suhu siang hari yang sangat tinggi, kawasan tersebut juga diprediksi mengalami malam yang tetap panas serta potensi hujan lokal di beberapa wilayah setelah periode panas mereda.
Fenomena heat dome terjadi ketika sistem tekanan tinggi di lapisan atas atmosfer memerangkap udara panas di dekat permukaan bumi. Kondisi ini menghambat pembentukan awan dan sirkulasi udara sehingga panas terus terakumulasi selama beberapa hari.
Akibatnya, suhu di sejumlah wilayah diperkirakan melonjak signifikan, terutama di kawasan Teluk dan Semenanjung Arab.
Wilayah yang diperkirakan mengalami suhu paling tinggi meliputi:
Kuwait
Wilayah timur Arab Saudi
Kawasan gurun dan pedalaman Uni Emirat Arab (UEA)
Baghdad, Irak
Di daerah-daerah tersebut, suhu siang hari diprediksi mencapai sekitar 50 derajat Celsius, bahkan berpotensi melampaui angka tersebut di beberapa lokasi.
Dampak gelombang panas tidak hanya dirasakan negara-negara Teluk, tetapi juga meluas ke kawasan Levant.
Di Suriah, terutama wilayah timur dan kawasan gurun, suhu diperkirakan mendekati 40 derajat Celsius.
Sementara itu, Yordania, Lebanon, dan Palestina juga diperkirakan mengalami cuaca panas hingga sangat panas. Meski demikian, wilayah pegunungan di negara-negara tersebut diperkirakan masih memiliki suhu yang relatif lebih sejuk dibandingkan dataran rendah.
Menghadapi kondisi cuaca ekstrem ini, badan meteorologi di sejumlah negara Timur Tengah telah mengeluarkan berbagai peringatan kepada masyarakat.
Menghindari aktivitas di bawah sinar matahari pada jam-jam terpanas.
Memperbanyak konsumsi air untuk mencegah dehidrasi.
Mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan.
Meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko sengatan panas (heatstroke), terutama bagi lansia, anak-anak, dan pekerja luar ruangan.
Langkah-langkah tersebut dinilai penting mengingat suhu ekstrem dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan apabila tubuh terpapar panas dalam waktu lama.
Fenomena panas ekstrem bahkan telah mulai tercatat di Uni Emirat Arab.
Pusat Meteorologi Nasional (NCM) UEA melaporkan suhu tertinggi pada Sabtu mencapai 50,0 derajat Celsius di kawasan Al Shawamekh, Abu Dhabi, sekitar pukul 14.30 waktu setempat.
Meski demikian, NCM memperkirakan kondisi atmosfer pada awal pekan depan juga berpotensi memicu terbentuknya awan konvektif di wilayah timur dan selatan negara tersebut. Hal ini dapat menghadirkan hujan lokal pada Senin hingga Selasa sore.
Pusat Meteorologi Nasional Arab Saudi memperkirakan suhu di negara tersebut akan tetap berada di atas rata-rata, bukan hanya dalam beberapa hari ke depan, tetapi juga hingga Agustus, September, dan Oktober 2026.
Berdasarkan prakiraan iklim tiga bulanan, terdapat probabilitas 60–80 persen bahwa sebagian besar wilayah Arab Saudi akan mengalami suhu di atas normal.
Anomali suhu diperkirakan mencapai sekitar 2,5 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan rata-rata jangka panjang, terutama pada Agustus dan Oktober.
Meningkatnya frekuensi gelombang panas ekstrem di Timur Tengah menjadi salah satu indikator perubahan pola iklim global yang semakin nyata. Para ahli mengingatkan bahwa kawasan Timur Tengah merupakan salah satu wilayah paling rentan terhadap peningkatan suhu akibat perubahan iklim.
Karena itu, pemerintah di berbagai negara terus meningkatkan sistem peringatan dini serta mengimbau masyarakat untuk mematuhi panduan keselamatan selama periode cuaca ekstrem guna meminimalkan risiko terhadap kesehatan maupun aktivitas sehari-hari.(DHIL)










