Koranindopos.com, JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan bahwa program pendistribusian jutaan buku bacaan ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia harus diiringi strategi yang mampu menumbuhkan minat baca masyarakat. Menurutnya, peningkatan akses terhadap bahan bacaan berkualitas perlu dibarengi upaya membangun budaya literasi agar mampu memberikan dampak nyata terhadap kualitas pendidikan nasional.
“Pendistribusian buku adalah langkah awal yang penting untuk mengatasi salah satu problem utama literasi, yaitu rendahnya akses terhadap bahan bacaan bermutu. Namun, tanpa diikuti upaya peningkatan minat dan budaya baca, program ini dikhawatirkan tidak akan mencapai tujuan utamanya,” ujar Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis, Senin (3/8/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pendistribusian secara simbolis sebanyak 5,54 juta eksemplar buku bacaan ke 24.609 sekolah di seluruh Indonesia oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di Kudus, Jawa Tengah, pada akhir pekan lalu. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat budaya literasi di kalangan pelajar.
Lestari, yang akrab disapa Rerie, menilai langkah pemerintah memperluas akses terhadap buku bacaan patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan bahan bacaan, melainkan juga harus didukung ekosistem yang mampu mendorong masyarakat gemar membaca.
Menurutnya, tantangan literasi di Indonesia masih cukup besar. Berdasarkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dirilis Perpustakaan Nasional pada Maret 2026, skor nasional baru mencapai 40,6, yang masih berada dalam kategori rendah.
Selain itu, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 menunjukkan kemampuan pemahaman tekstual siswa baru mencapai 49,21 persen, sedangkan kemampuan memahami makna secara inferensial hanya 43,21 persen. Kondisi tersebut mencerminkan bahwa fondasi literasi peserta didik masih perlu diperkuat.
Rerie menilai rendahnya tingkat literasi dipengaruhi berbagai persoalan yang selama ini belum sepenuhnya teratasi. Mulai dari kesenjangan akses pendidikan antardaerah, masih kuatnya budaya lisan, harga buku yang relatif mahal, hingga kurangnya dukungan lingkungan keluarga dalam membangun kebiasaan membaca.
Ia juga menyoroti tantangan literasi digital yang dinilai belum menunjukkan perkembangan signifikan. Meskipun tingkat penggunaan internet di Indonesia terus meningkat, kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara produktif masih perlu diperkuat.
“Bahkan dengan penetrasi internet yang tinggi, skor indeks literasi digital nasional pada 2025 masih stagnan di angka 44,53. Akses teknologi saja tidak cukup tanpa dibarengi peningkatan kemampuan literasi digital itu sendiri,” tegas Anggota Komisi X DPR RI tersebut.
Sebagai Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem, Rerie menegaskan bahwa peningkatan literasi tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Menurutnya, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, keluarga, komunitas literasi, hingga masyarakat untuk membangun budaya membaca secara berkelanjutan.
Ia berharap berbagai program literasi yang selama ini dijalankan dapat terintegrasi sehingga memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
“Bangsa dengan tingkat literasi yang rendah akan kesulitan bersaing di tingkat global. Momentum pendistribusian jutaan buku ini harus dimanfaatkan untuk menggerakkan seluruh elemen bangsa dalam meningkatkan budaya membaca. Tidak ada jalan instan. Yang dibutuhkan adalah kolaborasi yang berkelanjutan agar setiap anak Indonesia memiliki kemampuan literasi yang semakin baik,” pungkas Rerie. (hai)










