Koranindopos.com – Jakarta – Saat harga Bitcoin mengalami penurunan, dua istilah yang paling sering muncul di kalangan investor adalah “buy the dip” dan “dollar-cost averaging (DCA)”. Meski sama-sama populer sebagai strategi investasi, keduanya memliki karakteristik, risiko, dan tujuan yang berbeda.
CEO dan Founder FLOQ, Yudhono Rawis, mengingatkan bahwa keputusan membeli aset kripto sebaiknya tidak didasarkan pada rasa takut ketinggalan (fear of missing out/FOMO), melainkan pada pemahaman terhadap risiko, kondisi keuangan, dan tujuan investasi.
“Ketika pasar terkoreksi, banyak orang merasa harus segera mengambil keputusan. Padahal, keputusan yang sehat dimulai dari pemahaman terhadap risiko, kondisi keuangan pribadi, dan tujuan yang jelas, bukan dari rasa takut ketinggalan,” ujar Yudhono.
Saat harga Bitcoin melemah, banyak investor berharap bisa membeli di titik paling rendah. Namun, menurut FLOQ, tidak ada pihak yang mampu memastikan kapan harga benar-benar telah mencapai dasar.
Harga yang terlihat murah hari ini masih berpotensi turun lebih dalam pada hari berikutnya. Sebaliknya, terlalu lama menunggu harga yang dianggap sempurna juga bisa membuat investor kehilangan kesempatan untuk mulai berinvestasi sesuai rencana.
Per 13 Juli 2026, harga Bitcoin berada di kisaran US$62.328. Sebagai perbandingan historis, Bitcoin pernah menyentuh level sekitar US$68.999,99 pada November 2021.
Meski berada di kisaran harga yang relatif berdekatan, FLOQ menegaskan bahwa kondisi pasar saat ini sangat berbeda dengan situasi pada 2021. Faktor ekonomi global, regulasi, partisipasi investor institusi, hingga kondisi likuiditas telah mengalami perubahan yang signifikan.
Sebagai aset yang diperdagangkan selama 24 jam setiap hari, harga Bitcoin dapat berubah dengan cepat mengikuti berbagai sentimen pasar.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga Bitcoin antara lain:
- Perubahan suku bunga dan kondisi likuiditas global.
- Situasi geopolitik serta perubahan minat terhadap aset berisiko.
- Aktivitas investor besar dan aliran dana institusional.
- Perkembangan regulasi aset digital.
- Likuidasi posisi perdagangan dengan leverage.
- Pergerakan pasar saham dan aset berisiko lainnya.
- Sentimen yang berkembang di media massa maupun media sosial.
FLOQ menekankan bahwa penurunan harga tidak selalu menunjukkan adanya masalah pada jaringan Bitcoin. Sebaliknya, kenaikan harga juga bukan berarti risiko investasi telah hilang.
Buy the dip merupakan strategi membeli aset setelah harganya mengalami penurunan dengan harapan memperoleh harga yang lebih menarik dibandingkan sebelumnya.
Namun, tantangan terbesar dari strategi ini adalah menentukan kapan koreksi dianggap cukup dalam. Investor bisa saja membeli setelah harga turun 10 persen, tetapi harga masih berpotensi turun lebih jauh.
Karena itu, risiko utama bukan hanya salah memilih aset, tetapi juga salah menentukan waktu pembelian dan mengalokasikan modal terlalu besar dalam satu transaksi.
Berbeda dengan buy the dip, Dollar-Cost Averaging (DCA) merupakan strategi membeli aset secara berkala menggunakan nominal tetap tanpa terlalu memperhatikan fluktuasi harga.
Sebagai contoh, seorang investor mengalokasikan dana Rp500.000 setiap bulan selama enam bulan. Dengan cara ini, harga rata-rata pembelian akan terbentuk dari beberapa transaksi pada periode yang berbeda.
Pendekatan ini dinilai dapat mengurangi tekanan untuk menebak waktu terbaik membeli aset. Meski demikian, FLOQ mengingatkan bahwa DCA bukan strategi tanpa risiko. Jika harga aset terus mengalami penurunan dalam jangka panjang, nilai investasi tetap dapat mengalami kerugian.
FLOQ menegaskan bahwa tidak ada satu strategi investasi yang otomatis menjadi pilihan terbaik bagi seluruh investor.
Pemilihan antara buy the dip maupun DCA sebaiknya disesuaikan dengan tujuan investasi, kondisi keuangan, toleransi terhadap risiko, jangka waktu investasi, serta tingkat pemahaman terhadap aset yang akan dibeli.
Daripada berusaha menebak arah pasar, investor justru disarankan memahami alasan mengapa ingin memiliki Bitcoin, berapa lama siap menahannya, dan seberapa besar risiko penurunan yang sanggup diterima.
Sebelum memutuskan menggunakan strategi buy the dip maupun DCA, FLOQ menyarankan investor memastikan beberapa hal berikut:
- Dana darurat telah tersedia.
- Dana investasi bukan untuk kebutuhan jangka pendek.
- Utang berbunga tinggi telah dipertimbangkan.
- Tujuan investasi dan jangka waktunya sudah jelas.
- Nominal investasi telah ditentukan sejak awal.
- Memahami volatilitas Bitcoin.
- Tidak menggunakan leverage tanpa memahami risikonya.
- Tidak mengambil keputusan hanya karena influencer, FOMO, atau tekanan sosial.
- Selalu mengecek harga dan informasi pasar terbaru.
- Siap menghadapi kemungkinan penurunan harga lebih lanjut.
FLOQ menilai koreksi harga dapat menjadi peluang bagi sebagian investor, tetapi juga bisa menimbulkan kerugian apabila keputusan diambil tanpa perencanaan yang matang.
Strategi buy the dip maupun DCA sama-sama memiliki kelebihan dan risiko masing-masing. Karena itu, investor disarankan selalu mengedepankan analisis, manajemen risiko, serta disiplin dalam menjalankan rencana investasi.
Sebagai platform perdagangan aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), FLOQ juga terus mendorong peningkatan literasi masyarakat melalui FLOQ Academy, yang menyediakan materi edukasi mengenai investasi dan manajemen risiko aset kripto secara gratis.
Disclaimer: Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga. Informasi ini bersifat edukatif dan bukan merupakan ajakan maupun rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor sesuai profil risiko dan kemampuan finansialnya.(dhil)










