Koranindopos.com – Jakarta – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat setelah Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Washington menghentikan apa yang mereka sebut sebagai “tindakan agresi” terhadap Iran. Pernyataan tersebut memperkuat kekhawatiran dunia terhadap stabilitas pasokan energi global yang bergantung pada jalur pelayaran strategis tersebut.
Dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, IRIB, IRGC menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz merupakan bagian dari operasi balasan terhadap serangan militer Amerika Serikat. Organisasi militer elite Iran itu juga memperingatkan bahwa bukan hanya Selat Hormuz yang berpotensi terdampak, tetapi juga rute ekspor minyak dan gas lain di kawasan Timur Tengah.
“Operasi pembalasan para pejuang akan terus berlanjut, dan Selat Hormuz akan tetap tertutup sampai Amerika Serikat mengakhiri tindakan agresinya,” demikian pernyataan resmi IRGC.
IRGC menegaskan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya harus bersiap menghadapi konsekuensi jika terus mengganggu kepentingan Iran. Dalam pernyataannya, mereka menyebut bahwa jalur ekspor energi yang melayani kepentingan AS dan negara-negara sekutunya juga dapat menjadi sasaran.
“Musuh harus tahu bahwa sekarang setelah kapal-kapal perampok maritimnya memblokir rute Samudra Hindia untuk ekspor minyak dan gas ke dunia, mereka juga harus mengharapkan penutupan rute ekspor minyak dan gas lainnya yang melayani kepentingan Amerika Serikat dan sekutunya,” ujar IRGC.
Meski demikian, pihak Iran tidak merinci jalur ekspor mana yang dimaksud. Pernyataan tersebut langsung memicu kekhawatiran di pasar energi internasional karena kawasan Teluk merupakan pusat produksi minyak dan gas terbesar di dunia.
IRGC juga menegaskan bahwa distribusi energi dari kawasan tersebut tidak akan berjalan normal selama konflik masih berlangsung.
“Ekspor minyak dan gas dari kawasan ini akan tersedia untuk semua orang atau tidak untuk siapa pun,” tambah mereka.
Perang antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari lalu telah memberikan dampak besar terhadap rantai pasok energi global. Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak mentah dan gas alam cair dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional, mengalami gangguan akibat meningkatnya aktivitas militer di kawasan tersebut.
Selain mengumumkan penutupan Selat Hormuz, IRGC juga mengklaim telah melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait sebagai respons atas serangan Washington terhadap wilayah Iran.
Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas ke negara-negara Teluk lainnya dan mengganggu distribusi energi dalam skala yang lebih besar.
Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat menolak klaim Iran bahwa mereka dapat mengendalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz. Washington menegaskan bahwa jalur pelayaran internasional tersebut tetap terbuka dan tidak berada di bawah kendali sepihak Iran.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menegaskan bahwa tidak ada negara yang berhak memungut biaya ataupun tarif atas kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan setelah pemerintah AS membatalkan rencana penerapan tarif sebesar 20 persen terhadap setiap muatan kargo yang melewati jalur strategis tersebut.
“Kami ingin mereka melakukan investasi besar-besaran di Amerika Serikat, bukannya memungut biaya. Dan saya sebenarnya menyukai hal tersebut, karena menurut saya tidak seharusnya ada pihak yang memungut biaya untuk selat tersebut atau selat lainnya di mana pun yang melibatkan belahan dunia lainnya,” ujar Trump saat menerima Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi di Gedung Putih.
Pernyataan terbaru IRGC semakin memperbesar ketidakpastian di pasar energi dunia. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital bagi sekitar seperlima perdagangan minyak global, sehingga setiap gangguan terhadap arus pelayaran berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan gas serta meningkatkan biaya logistik internasional.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik antara Washington dan Teheran, mengingat eskalasi lebih lanjut dapat memberikan dampak luas terhadap perekonomian global, terutama negara-negara yang bergantung pada impor energi dari kawasan Timur Tengah.(dhil/dtk)










