Koranindopos.com, Jakarta – Ekosistem teknologi nasional kembali mendapat dorongan segar melalui peresmian Creative Hub for App Talent (CHAT) oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf). Acara peresmian program berbasis Learn. Build. Connect. Grow. ini digelar di Tempat Kumpul Kreatif (TKK) Jakarta Utara pada Kamis (8/10/2026) lalu.
Kehadiran program CHAT menjadi wadah penyeimbang yang mempertemukan potensi anak muda di bidang teknologi dengan kebutuhan nyata pasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang ingin go-digital.
Direktur Aplikasi Kementerian Ekraf, Tri Wahyudi, menjelaskan bahwa CHAT tidak hanya memfokuskan diri pada peningkatan hard skill pemrogram, tetapi juga memfokuskan solusi teknologi pada tantangan riil yang dihadapi pelaku ekonomi kreatif di lapangan.
Fokus utama dari pelatihan ini adalah memberikan pemahaman mendalam mengenai ekosistem pemasaran digital, sekaligus menghapuskan hambatan biaya pendaftaran dan potongan transaksi komersial yang sering dialami usaha kecil.
“Pelatihan digital ini diberikan kepada pelaku ekonomi kreatif di Jakarta Utara, khususnya UMKM, untuk membantu mereka dalam memasarkan produk dan meningkatkan penjualan. Selain itu, pelatihan ini memberikan solusi atas keluhan pelaku terhadap marketplace berbayar dan pajak,” jelas Tri Wahyudi.
Sebanyak 80 peserta dari kalangan akademisi muda dan pelaku bisnis lokal mendapatkan kesempatan emas untuk belajar membuat aplikasi praktis. Program gratis ini dinilai sangat berharga mengingat tingginya biaya investasi untuk mempelajari teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kepala Suku Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (PPKUKM) Kota Adminitrasi Jakarta Utara, Vicky Suryawan Jaya, mengapresiasi langkah konkret Kementerian Ekraf dalam menghadirkan intervensi teknologi secara inklusif dan bebas biaya.
“Ini yang kita butuhkan, binaan yang mengajarkan tentang teknik-teknik sistem pemasaran digital dengan notifikasi AI. Karena kalau bicara teknologi kan mahal, tapi Kementerian Ekraf memberikan binaan ini secara gratis untuk 80 orang pelaku. Jadi kami berterima kasih pada Kementerian Ekraf untuk kolaborasi yang sedang berjalan ini,” ucap Vicky.
Dampak langsung dari pelatihan ini dirasakan oleh para peserta berlatar belakang teknologi informasi yang kini dapat menerapkan ilmu teoritis kampus menjadi solusi konkrit bagi pedagang tradisional.
Manfaat program ini dirasakan langsung oleh Riyan Sohibul Anam, salah satu peserta berlatar belakang pemrograman. Ia menilai CHAT memberikan perspektif terapan yang tidak ia dapatkan di bangku kuliah, khususnya dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial (AI) untuk kebutuhan usaha lokal.
“Senang sekali pastinya, di sini belajar banyak hal yang belum saya dapat di kampus. Terlebih saat ini perkembangan AI semakin cepat, jadi beruntung bisa belajar secara gratis. Targetnya dari pelatihan ini saya mau membangun aplikasi katalog warung-warung kecil seperti ‘Warung Madura’,” pungkas Riyan. (RIS/Hend)










