Senin, 12 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Kesehatan

Identitas Jasad ‘Green Boots’ di Gunung Everest Terungkap Lewat Tes DNA, Akan Dipulangkan pada 2027

Editor : Affandy oleh Editor : Affandy
12 Oktober 2026
in Kesehatan
A A
0
Identitas Jasad ‘Green Boots’ di Gunung Everest Terungkap Lewat Tes DNA, Akan Dipulangkan pada 2027

Foto: dok. getty images

Share on FacebookShare on Twitter

Koranindopos.com – JAKARTA – Identitas jasad pendaki yang membeku selama hampir 30 tahun di Gunung Everest akhirnya terungkap melalui tes DNA. Pendaki asal India bernama Dorje Morup tersebut dikenal luas di kalangan pendaki dengan julukan ‘Green Boots’ karena sepatu birunya yang mencolok di antara hamparan salju.

Jasad Morup ditemukan di sebuah ceruk kecil di jalur pendakian menuju puncak Everest setelah ia meninggal dalam badai dahsyat pada 1996. Kini, setelah identitasnya dipastikan, pemerintah India berencana memulangkan jasadnya ke kampung halaman pada 2027.

Selama puluhan tahun, jasad ‘Green Boots’ menjadi salah satu penanda yang dikenal para pendaki di jalur utara Everest. Keberadaannya juga menjadi pengingat tragedi pendakian yang menewaskan sejumlah orang di gunung tertinggi di dunia tersebut.

Tragedi itu turut diceritakan dalam buku Into Thin Air karya jurnalis sekaligus pendaki Jon Krakauer, yang mengulas bencana pendakian Everest pada Mei 1996.

Artikel Terkait

Strategic PCI Meeting 2026 Jadi Forum Pembelajaran Kasus Jantung Kompleks

5 Makanan Favorit Gen Z yang Bisa Memicu Kolesterol Tinggi, Ada Seblak hingga Boba

Perkuat Layanan Kesehatan Primer, Asuransi Astra Dorong Upaya Pencegahan Stunting di Padang

Sebelum tragedi terjadi, Morup merupakan anggota tim pendaki India yang berusaha mencapai puncak Everest melalui jalur utara. Ia bertugas di Indo-Tibetan Border Police (ITBP) bersama dua rekannya, Tsewang Paljor dan Tsewang Smanla.

Ketiganya dikenal sebagai pendaki berpengalaman yang memiliki hubungan dekat layaknya keluarga. Rekaman video yang baru terungkap memperlihatkan kebersamaan mereka sebelum pendakian, mulai dari menyiapkan perlengkapan hingga berbagi makanan di dalam tenda.

Pemimpin ekspedisi tersebut, Harbhajan Singh, menjadi salah satu orang terakhir yang melihat ketiganya sebelum tragedi terjadi. Dalam wawancara di kediamannya di Punjab, Singh mengenang ketahanan fisik para pendaki tersebut.

“Seingat saya, mereka tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelelahan,” kata Singh.

Ia menggambarkan Morup sebagai sosok yang mudah bergaul, pendiam, rajin bekerja, dan tidak suka menyombongkan diri.

Pada 10 Mei 1996, tim pendaki India menjalankan misi membuka jalur menuju Second Step sekaligus memeriksa kestabilan tangga yang terpasang di tebing. Bagian jalur sepanjang sekitar 40 meter itu merupakan salah satu titik paling menantang dalam pendakian Everest.

Singh memutuskan tidak melanjutkan perjalanan setelah melihat awan mulai terbentuk di sekitar puncak. Kondisi tersebut menjadi tanda kemungkinan datangnya cuaca buruk.

Namun, tiga pendaki lainnya tetap bertekad mencapai puncak. Mereka berkomunikasi dengan base camp melalui radio dan melaporkan keberhasilan mencapai puncak Everest.

Kabar tersebut sempat disambut gembira oleh tim di base camp. Akan tetapi, situasi berubah ketika badai menerjang dan membuat para pendaki kesulitan turun dari gunung.

Pendaki asal Norwegia, Jon Gangdal, yang berkomunikasi dengan tim India saat itu, memperingatkan betapa berbahayanya jalur pendakian dalam kondisi cuaca ekstrem.

“Mereka bisa diterjang embusan angin yang sangat kuat,” ujarnya.

Angin yang membawa salju dan es dilaporkan mencapai kecepatan 150–200 kilometer per jam. Suhu di kawasan tersebut juga dapat turun hingga minus 60 sampai minus 80 derajat Celsius, sehingga risiko hipotermia dan paparan cuaca ekstrem menjadi sangat tinggi.

Morup berusaha turun di tengah badai, tetapi tidak pernah kembali dengan selamat. Jasadnya kemudian ditemukan di sebuah ceruk kecil di jalur pendakian, dengan sepatu birunya terlihat di antara salju.

Sejak saat itu, sosoknya dikenal dengan julukan ‘Green Boots’. Selama bertahun-tahun, keberadaan jasad tersebut menjadi penanda yang dikenali para pendaki ketika melintasi jalur utara menuju puncak Everest.

Setelah identitas Morup dipastikan melalui tes DNA, India mulai mencari tim Sherpa berpengalaman untuk menjalankan misi evakuasi jasadnya dari Everest.

Menurut pejabat ITBP, operasi pemulangan diperkirakan berlangsung pada musim pendakian April–Mei 2027. Namun, pelaksanaannya masih menunggu penyelesaian berbagai prosedur, termasuk persetujuan dan izin yang diperlukan.

Misi tersebut diperkirakan menghadapi tantangan besar. Setelah membeku selama hampir tiga dekade, kondisi tubuh Morup menjadi sangat kaku sehingga proses pemindahan diperkirakan lebih sulit.

Tim evakuasi juga harus menghadapi medan terjal, suhu ekstrem, serta cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu. Keselamatan para petugas akan menjadi pertimbangan utama selama operasi berlangsung.

Selama hampir 30 tahun, sepatu biru Morup menjadi penanda bagi para pendaki yang melewati jalur tersebut. Terungkapnya identitas ‘Green Boots’ melalui tes DNA kini membuka jalan bagi upaya pemulangan jasadnya ke India.

Jika misi berjalan sesuai rencana, pemulangan pada 2027 akan menjadi akhir dari penantian panjang untuk membawa Morup kembali ke kampung halamannya setelah meninggal dalam tragedi pendakian Everest pada 1996.(dhil/dtk)

Topik: green bootsgunung everestjasad

TerkaitBerita

TRANSFER ILMU: Tindakan live demo case 2 Strategic PCI Meeting 2026 di Mayapada Hospital Jakarta Selatan. (FOTO: SHANTY AULIA/KORANINDOPOS.COM)
Kesehatan

Strategic PCI Meeting 2026 Jadi Forum Pembelajaran Kasus Jantung Kompleks

oleh Editor : Memoarto
12 Oktober 2026
5 Makanan Favorit Gen Z yang Bisa Memicu Kolesterol Tinggi, Ada Seblak hingga Boba
Kesehatan

5 Makanan Favorit Gen Z yang Bisa Memicu Kolesterol Tinggi, Ada Seblak hingga Boba

oleh Editor : Affandy
11 Oktober 2026
Perkuat Layanan Kesehatan Primer, Asuransi Astra Dorong Upaya Pencegahan Stunting di Padang
Kesehatan

Perkuat Layanan Kesehatan Primer, Asuransi Astra Dorong Upaya Pencegahan Stunting di Padang

oleh Editor : Doe
9 Oktober 2026
Tak Cuma Bentol, Ini Tanda Alergi pada Anak yang Bisa Berbahaya
Kesehatan

Tak Cuma Bentol, Ini Tanda Alergi pada Anak yang Bisa Berbahaya

oleh Editor : Affandy
9 Oktober 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

TKA SMA 2026 Pakai Sistem Penilaian IRT 2PL, Jumlah Jawaban Benar Sama Bisa Beda Skor

TKA SMA 2026 Pakai Sistem Penilaian IRT 2PL, Jumlah Jawaban Benar Sama Bisa Beda Skor

12 Oktober 2026

Whales: Giants of the Ocean

12 September 2026

Whales: Giants of the Ocean

12 September 2026

Whales: Giants of the Ocean

12 September 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4989 shares
    Share 1996 Tweet 1247
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1034 shares
    Share 414 Tweet 259
  • Pemilahan Sampah Warga Rorotan Tembus 90 Persen, Biodigester Olah 1,2 Ton Sampah per Hari

    314 shares
    Share 126 Tweet 79
  • Jorge Jesus Enggan Menambah Besar Polemik Dengan Cristiano Ronaldo

    311 shares
    Share 124 Tweet 78
  • Real Madrid Buang Antonio Rudiger di Musim 2027/2028

    310 shares
    Share 124 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya