Koranindopos.com – JAKARTA – Identitas jasad pendaki yang membeku selama hampir 30 tahun di Gunung Everest akhirnya terungkap melalui tes DNA. Pendaki asal India bernama Dorje Morup tersebut dikenal luas di kalangan pendaki dengan julukan ‘Green Boots’ karena sepatu birunya yang mencolok di antara hamparan salju.
Jasad Morup ditemukan di sebuah ceruk kecil di jalur pendakian menuju puncak Everest setelah ia meninggal dalam badai dahsyat pada 1996. Kini, setelah identitasnya dipastikan, pemerintah India berencana memulangkan jasadnya ke kampung halaman pada 2027.
Selama puluhan tahun, jasad ‘Green Boots’ menjadi salah satu penanda yang dikenal para pendaki di jalur utara Everest. Keberadaannya juga menjadi pengingat tragedi pendakian yang menewaskan sejumlah orang di gunung tertinggi di dunia tersebut.
Tragedi itu turut diceritakan dalam buku Into Thin Air karya jurnalis sekaligus pendaki Jon Krakauer, yang mengulas bencana pendakian Everest pada Mei 1996.
Sebelum tragedi terjadi, Morup merupakan anggota tim pendaki India yang berusaha mencapai puncak Everest melalui jalur utara. Ia bertugas di Indo-Tibetan Border Police (ITBP) bersama dua rekannya, Tsewang Paljor dan Tsewang Smanla.
Ketiganya dikenal sebagai pendaki berpengalaman yang memiliki hubungan dekat layaknya keluarga. Rekaman video yang baru terungkap memperlihatkan kebersamaan mereka sebelum pendakian, mulai dari menyiapkan perlengkapan hingga berbagi makanan di dalam tenda.
Pemimpin ekspedisi tersebut, Harbhajan Singh, menjadi salah satu orang terakhir yang melihat ketiganya sebelum tragedi terjadi. Dalam wawancara di kediamannya di Punjab, Singh mengenang ketahanan fisik para pendaki tersebut.
“Seingat saya, mereka tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kelelahan,” kata Singh.
Ia menggambarkan Morup sebagai sosok yang mudah bergaul, pendiam, rajin bekerja, dan tidak suka menyombongkan diri.
Pada 10 Mei 1996, tim pendaki India menjalankan misi membuka jalur menuju Second Step sekaligus memeriksa kestabilan tangga yang terpasang di tebing. Bagian jalur sepanjang sekitar 40 meter itu merupakan salah satu titik paling menantang dalam pendakian Everest.
Singh memutuskan tidak melanjutkan perjalanan setelah melihat awan mulai terbentuk di sekitar puncak. Kondisi tersebut menjadi tanda kemungkinan datangnya cuaca buruk.
Namun, tiga pendaki lainnya tetap bertekad mencapai puncak. Mereka berkomunikasi dengan base camp melalui radio dan melaporkan keberhasilan mencapai puncak Everest.
Kabar tersebut sempat disambut gembira oleh tim di base camp. Akan tetapi, situasi berubah ketika badai menerjang dan membuat para pendaki kesulitan turun dari gunung.
Pendaki asal Norwegia, Jon Gangdal, yang berkomunikasi dengan tim India saat itu, memperingatkan betapa berbahayanya jalur pendakian dalam kondisi cuaca ekstrem.
“Mereka bisa diterjang embusan angin yang sangat kuat,” ujarnya.
Angin yang membawa salju dan es dilaporkan mencapai kecepatan 150–200 kilometer per jam. Suhu di kawasan tersebut juga dapat turun hingga minus 60 sampai minus 80 derajat Celsius, sehingga risiko hipotermia dan paparan cuaca ekstrem menjadi sangat tinggi.
Morup berusaha turun di tengah badai, tetapi tidak pernah kembali dengan selamat. Jasadnya kemudian ditemukan di sebuah ceruk kecil di jalur pendakian, dengan sepatu birunya terlihat di antara salju.
Sejak saat itu, sosoknya dikenal dengan julukan ‘Green Boots’. Selama bertahun-tahun, keberadaan jasad tersebut menjadi penanda yang dikenali para pendaki ketika melintasi jalur utara menuju puncak Everest.
Setelah identitas Morup dipastikan melalui tes DNA, India mulai mencari tim Sherpa berpengalaman untuk menjalankan misi evakuasi jasadnya dari Everest.
Menurut pejabat ITBP, operasi pemulangan diperkirakan berlangsung pada musim pendakian April–Mei 2027. Namun, pelaksanaannya masih menunggu penyelesaian berbagai prosedur, termasuk persetujuan dan izin yang diperlukan.
Misi tersebut diperkirakan menghadapi tantangan besar. Setelah membeku selama hampir tiga dekade, kondisi tubuh Morup menjadi sangat kaku sehingga proses pemindahan diperkirakan lebih sulit.
Tim evakuasi juga harus menghadapi medan terjal, suhu ekstrem, serta cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu. Keselamatan para petugas akan menjadi pertimbangan utama selama operasi berlangsung.
Selama hampir 30 tahun, sepatu biru Morup menjadi penanda bagi para pendaki yang melewati jalur tersebut. Terungkapnya identitas ‘Green Boots’ melalui tes DNA kini membuka jalan bagi upaya pemulangan jasadnya ke India.
Jika misi berjalan sesuai rencana, pemulangan pada 2027 akan menjadi akhir dari penantian panjang untuk membawa Morup kembali ke kampung halamannya setelah meninggal dalam tragedi pendakian Everest pada 1996.(dhil/dtk)







