Koranindopos.com – JAKARTA — Kondisi kesehatan remaja berinisial LAZ (17), korban aksi pembakaran sadis oleh ipar neneknya sendiri berinisial M (64) di kawasan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, dilaporkan mulai menunjukkan perkembangan positif setelah sempat mengalami masa-masa kritis.
Korban sebelumnya sempat tak sadarkan diri dan berada dalam kondisi koma sejak peristiwa pembakaran yang terjadi pada Senin (26/10/2026).
Kasi Humas Polres Metro Depok, AKP Hendra Kurniawan, mengungkapkan bahwa korban kini sudah mulai sadar, meskipun tingkat kesadarannya masih fluktuatif.
“Kondisi korban sementara sudah membaik tapi masih naik turun ya untuk kesadarannya ya,” ujar Hendra saat ditemui di Mapolres Metro Depok, Jumat (6/11/2026).
Selain memantau pemulihan medis korban, penyidik Satreskrim Polres Metro Depok terus menggeber proses penyidikan terhadap pelaku M (64). Polisi telah merampungkan serangkaian pemeriksaan psikologi terhadap pelaku guna mengetahui kondisi kejiwaannya saat melakukan tindak kekerasan tersebut.
Saat ini, penyidik masih menunggu hasil resmi pemeriksaan kejiwaan yang dilakukan oleh tim ahli di RS Polri Kramat Jati.
“Perkembangan terakhir sudah dilakukan pemeriksaan psikologi dan sedang menunggu hasil,” kata Hendra.
Dalam proses pengusutan perkara ini, penyidik kepolisian telah memeriksa empat orang saksi kunci, termasuk dua orang tetangga korban yang turut menyelamatkan korban di lokasi kejadian, yakni Martin dan Aqil.
Sementara itu, pihak kepolisian belum dapat memintai keterangan langsung dari korban LAZ mengingat kondisi fisiknya yang masih tahap pemulihan pasca-koma. Penyidik akan menunggu hingga kondisi kesehatan korban benar-benar stabil dan diizinkan oleh tim dokter.
“Iya, belum (dimintai keterangan). Dia kemarin kan masih koma ya. Sekarang sudah mulai sadar,” ucap Hendra.
Sebelumnya, kuasa hukum keluarga korban, Ishaq Maulana Ismail, membeberkan bahwa LAZ menderita luka bakar yang sangat parah, yakni mencapai sekitar 80 persen, akibat aksi pembakaran tersebut.
Selama menjalani perawatan intensif di RS Fatmawati, korban sempat mengalami kritis parah dan membutuhkan pasokan 10 kantong darah golongan O untuk transfusi, yang kini telah terpenuhi berkat bantuan berbagai pihak.
Guna mencegah risiko infeksi akibat luka bakar yang luas, tim medis telah melakukan tindakan operasi pembersihan pada bagian wajah dan dada korban untuk mengangkat jaringan kulit yang telah mati (nekrosis). Kendati demikian, pihak keluarga dan tim dokter belum dapat memastikan apakah korban nantinya memerlukan tindakan lanjutan berupa pencangkokan kulit (skin graft), sembari terus memantau respons pemulihan tubuh korban.(dhil/kmps)









