
JAKARTA, koranindopos.com – Serikat Petani Indonesia (SPI) mengeluhkan lonjakan harga pupuk nonsubsidi yang mencapai 100 persen pada pekan pertama Januari tahun ini. Hal tersebut menyebabkan kerugian bagi petani karena harga jual komoditas yang masih rendah di tingkat petani dan kenaikan harga komoditas yang tidak normal di tingkat pasar. Terlebih tren kenaikan harga pupuk nonsubsidi itu sudah berlangsung sejak Oktober 2021 lalu.
Wakil Ketua DPR RI Abdul Muhaimin Iskandar mendorong pemerintah untuk memastikan ketersediaan stok pupuk bersubsidi aman. Hal itu dimaksudkan untuk meringankan beban petani yang terdampak tingginya harga pupuk nonsubsidi. “Lonjakan harga pupuk nonsubsidi ini menyebabkan sejumlah masalah seperti terhambatnya produksi serta semakin tingginya harga komoditas pangan,” ujar Muhaimin di Jakarta, Rabu (11/1).
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu meminta pemerintah untuk menyiapkan langkah-langkah antisipasi potensi kelangkaan pupuk bersubsidi. Sebab, lonjakan harga pupuk nonsubsidi dan permainan oknum mafia pupuk akan membuat meledaknya permintaan pupuk bersubsidi. “Saya meminta pemerintah untuk mempertimbangkan pemberian insentif terhadap produsen pupuk dalam negeri sebagai upaya mengontrol kenaikan harga pupuk nonsubsidi yang terdampak akibat naiknya bahan baku pupuk internasional,” jelas dia.
Politisi yang akrab disapa Gus Muhaimin itu menuturkan, pemerintah juga harus mengoptimalkan pengawasan terhadap penyaluran pupuk bersubsidi ke petani. Selain itu, juga harus melakukan pemetaan masalah untuk menemukan solusi konkret dalam menyelesaikan permasalahan terhambat dan tidak meratanya distribusi pupuk bersubsidi. “Saya juga meminta pemerintah untuk melakukan evaluasi dan verifikasi kembali data petani penerima bantuan pupuk bersubsidi di lapangan sehingga penerima tepat sasaran,” tegas Gus Muhaimin.(hai)









