Koranindopos.com – Jakarta. kisah cerita pengalaman konten kreator dalam agenda daring pada rabu 14 Agustus 2024 dengan memanfaatkan platform media sosial TikTok.
Kiki Nasution merupakan seorang pembuat film, fotografer, sekaligus kreator TikTok, Ia membagikan kisah perjalanannya lewat akun TikTok @sabda.bumi.
Sabda.bumi cerita kehidupan masyarakat adat yang menjaga hubungan baik dengan alam di sekitar mereka.
Selain menyorot pelestarian lingkungan, melalui konten-konten Sabda Bumi, Kiki juga ingin menghilangkan stigma seputar ritual adat yang kerap dianggap primitif. Ia percaya bahwa tradisi-tradisi tersebut merupakan warisan leluhur yang memiliki peran penting dalam masyarakat adat yang patut dihormati. Sebagai contoh, ia pernah menceritakan alasan masyarakat Baduy Dalam dilarang memakai sepatu seumur hidup. Menurut mereka, memakai sepatu memisahkan mereka dari alam, padahal kontak langsung dengan bumi memiliki manfaat kesehatan. Sontak, video ini pun menyentuh hati banyak penonton dan mengumpulkan lebih dari 6,6 juta penayangan dan 228 ribu likes.
Kiki juga berpesan kepada masyarakat yang ingin mulai berbagi tentang budaya di TikTok untuk memperkuat alasan dan cara mereka berkonten. “Temukan rasa kalian, temukan cerita kalian. Cari tahu bagaimana kalian bercerita, mengapa dan apa yang kalian ingin ceritakan. Ketika kedua fondasi ini kuat, hanya masalah waktu dan konsistensi saja hingga karya-karya kalian dikenal luas. Yang penting adalah why dan how,” pungkas Kiki.
Di kesempatan yang sama Konten kreator seorang pengajar tari tradisional Bali dan kreator TikTok bernama Ni Kadek Astini.
Ceritanya mengkisahkan Seni Budaya Bali dengan Jujur dan Autentik.
Perempuan yang akrab disapa ‘Mbok Dek’ ini juga membuka sanggar tari. Kadek menjelaskan, “Awal mulanya, saya membuka kelas untuk memfasilitasi anak dengan disabilitas dan memberikan ruang, karena mereka juga perlu berkarya.
Ia melihat ruang untuk penyandang disabilitas itu sama sekali tidak ada dan dipandang sebelah mata. Pelatihan yang ada di sanggar kami berusaha untuk mengimbangi. Jika yang normal bisa, penyandang disabilitas pun juga pasti bisa.”
Menurut kadek menggunakan jejaring sosial dengan upload video pendek di TikTok, jangkauannya menjadi sangat luas. Bahkan, banyak sekali warga lokal dari luar Bali dan mancanegara yang ingin tahu tentang budaya kita [Bali]. [Penonton] Dari luar negeri pun bisa melihat apa yang kita ajarkan, apa yang kita sampaikan, sehingga mereka jadi ingin tahu,” jelas Kadek.
Berkat popoularitas di TikTok, jumlah siswa di sanggar milik Kadek pun meningkat. Selain itu, Kadek untuk pertama kalinya menerima permintaan untuk memberikan pelatihan privat secara online untuk murid-murid di luar Bali, seperti Jerman, Australia, Malaysia, Jakarta, Surabaya, Kalimantan, dan Sulawesi.
Ayuan Prawida merupakan seorang musisi dan kreator siaran langsung di TikTok LIVE asal Pontianak, Kalimantan Barat, yang giat mempopulerkan instrumen musik tradisional khas Dayak, Sape; dengan memainkan lagu-lagu modern yang familiar di telinga generasi muda.
Ayuan menyampaikan alasan mengapa ia memilih Sape sebagai instrumen musik utamanya, “Sape adalah alat musik tradisional Dayak, jadi aku pun ingin membantu untuk melestarikan. Perempuan sendiri jarang ada yang memainkan alat musik ini. Aku awalnya diperkenalkan oleh temanku, lalu belajar secara otodidak.”
Mulai aktif membuat konten di tahun 2020, Ayuan kerap muncul dengan memainkan Sape untuk mengiringi lagu-lagu yang sedang populer, serta lagu nasional dan lagu khas daerah lain. Tak lama berkonten, ia pun diajak untuk berkolaborasi oleh sesama pemain Sape dan kreator asal Kalimantan Timur, Alif Fakod. Sejak kolaborasinya dengan Alif yang memainkan lagu-lagu barat modern, Ayuan menjadi semakin giat membuat konten. Konten-konten Ayuan pun berhasil menarik perhatian komunitas TikTok, seperti saat ia memainkan Sape untuk lagu dari Mario G Klau yang kini membuahkan 3,4 juta tayangan. Akun @ayuanprawid sendiri telah diikuti oleh lebih dari 900 ribu pengguna TikTok.
Kini, Ayuan tak hanya memainkan Sape sebagai hobi, tetapi juga menemukan misinya untuk terus berkarya agar menginspirasi sesama anak muda untuk melestarikan musik tradisional. Ia pun memilih TikTok untuk membagikan karyanya, berkat respons positif yang diberikan komunitas TikTok. “Awalnya coba [TikTok] LIVE untuk iseng-iseng saja. Lalu, aku mulai mencoba membangun kepercayaan diri, karena dulu agak kurang percaya diri untuk tampil. Antusiasme dan apresiasi dari para penonton ternyata sangat positif. Aku juga bisa ngobrol secara real time bareng mereka dan bisa menjangkau [penonton] lebih luas untuk memperkenalkan alat musik yang aku mainkan. Mereka antusias dengan hal-hal berbau tradisional, yang menunjukkan rasa cinta komunitas TikTok terhadap budaya itu besar.”
Selain di platform digital, peraih nominasi “TikTok LIVE Creator of The Year” di ajang TikTok Awards Indonesia 2023 ini juga semakin aktif mempopulerkan instrumen musik tradisional tersebut kepada khalayak global dengan tampil di berbagai acara yang dihadiri oleh tamu-tamu mancanegara, seperti World Water Forum 2024. Selain diundang untuk tampil di berbagai acara, popularitas Ayuan juga membawanya untuk bertemu dengan pemain Sape dan alat musik tradisional lainnya dari luar Kalimantan, bahkan dari luar negeri, seperti Bali, India, dan Malaysia. (why)










