koranindopos.com – Jakarta Dalam beberapa hari terakhir, istilah “deep learning ful-ful” menjadi sorotan masyarakat Indonesia setelah disebut oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti. Istilah ini merujuk pada pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pembelajaran mendalam, bukan sebuah kurikulum baru yang menggantikan Kurikulum Merdeka, sebagaimana klarifikasi oleh Mu’ti.
Menurut Kamus Cambridge, deep learning adalah metode pembelajaran yang melibatkan pemahaman menyeluruh terhadap suatu topik, sehingga seseorang tidak akan melupakan materi yang dipelajari. Dalam konteks pendidikan, deep learning bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan berdampak jangka panjang bagi siswa. Deep learning ini memberi siswa kesempatan untuk memahami materi secara lebih mendalam, memicu daya pikir kritis, kreativitas, dan keterampilan sosial.
Di Indonesia, konsep ini dijelaskan oleh Mu’ti sebagai pendekatan belajar yang bersifat mindful, meaningful, dan joyful, yang kemudian disingkat sebagai ful-ful. Pendekatan deep learning ful-ful ini mendorong siswa untuk belajar dengan penuh kesadaran, memberi makna pada materi, dan melibatkan elemen kesenangan sehingga proses belajar terasa lebih ringan tetapi tetap mendalam.
Mu’ti menjelaskan bahwa pendekatan deep learning ful-ful diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna, mendorong keterlibatan penuh siswa, dan memudahkan guru untuk berimprovisasi dalam mengajar. Dengan kata lain, deep learning ful-ful bukan hanya soal menyerap informasi, tetapi juga memahami dan menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata, memicu kreativitas dan pemahaman mendalam.
Mu’ti menegaskan bahwa deep learning ful-ful bukanlah kurikulum baru. Sebaliknya, ini adalah metode atau pendekatan yang bisa diintegrasikan dalam pembelajaran sehari-hari. Konsep mindful, meaningful, dan joyful ini diharapkan mampu menciptakan suasana belajar yang lebih fleksibel dan responsif, mengajak siswa untuk lebih sadar dan paham akan apa yang dipelajari.
Pendekatan mindful, meaningful, dan joyful ini memungkinkan guru untuk menciptakan aktivitas belajar yang relevan dan menyenangkan. Misalnya, dalam pelajaran sains, guru dapat mengajak siswa untuk memahami hubungan antara konsep-konsep dasar dengan fenomena alam yang dekat dengan keseharian mereka. Dengan ini, siswa tidak hanya menghafal teori tetapi juga memahami relevansi konsep tersebut dalam dunia nyata.
Menurut Profesor Graham McPhail dari The University of Auckland, deep learning memiliki potensi untuk mendorong siswa berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengembangkan keterampilan sosial yang kuat. Dengan memahami materi secara mendalam, siswa akan lebih siap menghadapi tantangan di luar sekolah karena mereka tidak hanya belajar untuk ujian, tetapi juga belajar untuk hidup. Deep learning menumbuhkan pemahaman yang lebih mendalam serta kemampuan siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan ke dalam berbagai konteks.
Pendekatan deep learning ful-ful menjadi populer karena mendukung perkembangan holistik siswa. Dengan lebih memahami dan menghargai materi yang dipelajari, siswa dapat belajar secara lebih fleksibel dan mampu menghadapi permasalahan nyata dengan bekal pengetahuan yang kokoh.
Sebagai penutup, meski istilah ful-ful ini mungkin terdengar baru, konsep yang diusung mendalam dan sudah menjadi kebutuhan dalam dunia pendidikan modern. Pembelajaran yang mindful, meaningful, dan joyful ini diharapkan membawa perubahan positif dalam sistem pendidikan Indonesia, menciptakan generasi siswa yang tidak hanya pintar, tetapi juga bijak dan siap menghadapi tantangan di masa depan.(dhil)










