koranindopos.com – Jakarta, Pemerintah memilih pendekatan diplomatik dalam merespons kebijakan tarif impor baru yang diberlakukan Amerika Serikat terhadap sejumlah produk ekspor asal Indonesia. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Koordinasi (Rakor) darurat yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin (7/4).
Dalam keterangannya, Menko Airlangga menegaskan bahwa Indonesia tidak akan bereaksi secara emosional terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump tersebut. “Kami tidak akan bereaksi emosional. Diplomasi dan dialog adalah jalan terbaik untuk melindungi kepentingan nasional,” ujar Airlangga.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menjelaskan bahwa tarif baru Amerika Serikat berpotensi memengaruhi sekitar 15 persen dari total produk ekspor Indonesia, termasuk komoditas utama seperti tekstil, elektronik, dan minyak sawit. Jika tidak ada penyelesaian yang tercapai, kerugian ekonomi bisa mencapai Rp12 triliun, menurut perhitungan Kementerian Perindustrian.
Rakor yang juga dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi kementerian menghasilkan beberapa langkah strategis, antara lain:
- Penyusunan dokumen keberatan ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO)
- Intensifikasi diplomasi melalui forum ASEAN-US Summit mendatang
- Identifikasi produk-produk rentan serta penyiapan strategi diversifikasi pasar ekspor
Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas menambahkan bahwa jalur diplomasi bilateral juga akan diperkuat untuk mencari solusi terbaik bagi kedua negara.
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) turut mendorong percepatan perjanjian dagang bilateral sebagai langkah konkret mengurangi ketergantungan terhadap pasar AS. Sementara itu, asosiasi industri tekstil mengaku resah karena beberapa pembeli dari AS mulai mempertimbangkan pembatalan kontrak akibat potensi kenaikan harga.
Untuk merespons cepat situasi ini, pemerintah akan membentuk satuan tugas (satgas) khusus yang bertugas memantau dinamika kebijakan AS dan menggelar forum darurat bersama pelaku usaha pekan depan.
Sebagai upaya jangka pendek, Kementerian Keuangan tengah menyiapkan insentif pajak bagi eksportir terdampak. Sementara untuk jangka panjang, strategi perluasan pasar ekspor ke kawasan Afrika dan Timur Tengah akan dipercepat guna menciptakan sumber permintaan baru.
Pertemuan lanjutan dengan Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia juga telah dijadwalkan guna membuka ruang negosiasi lebih lanjut dan mencegah eskalasi ketegangan dagang antar kedua negara.
Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap dapat menjaga stabilitas ekspor nasional serta menjamin keberlanjutan hubungan dagang Indonesia–Amerika Serikat. (hai)










