Koranindopos.com – JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat merespons insiden dugaan keracunan makanan yang menimpa puluhan siswa di Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Sejumlah sampel menu Makan Bergizi Gratis (MBG) telah diamankan dan dikirim ke laboratorium untuk menjalani uji investigasi mendalam.
Juru Bicara BGN, Tysa Novenny, menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu hasil uji lab secara komprehensif guna memastikan akar penyebab gangguan kesehatan yang dialami para pelajar.
“Sampel makanan telah dibawa untuk diperiksa di laboratorium. Kita tunggu hasil investigasi dan pemeriksaan laboratorium yang lebih mendetail,” ujar Tysa dalam keterangan pers, Rabu (28/10/2026).
Berdasarkan hasil penelusuran awal di lapangan, BGN menemukan indikasi bahwa dugaan sementara pemicu keracunan mengarah pada komponen bumbu kacang. Bahan pelengkap tersebut diketahui diolah terlebih dahulu oleh pihak ketiga sebelum didistribusikan dan digunakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bogor Dramaga 4.
Kendati demikian, Tysa menegaskan bahwa kesimpulan tersebut belum final karena masih harus menunggu hasil validasi dari uji laboratorium resmi.
Sebagai langkah antisipasi serta bentuk kooperatif terhadap proses investigasi yang sedang berjalan, BGN telah memutuskan untuk menghentikan sementara operasional SPPG Bogor Dramaga 4.
“BGN juga memastikan kondisi para siswa terus dipantau dan langkah tindak lanjut akan ditentukan berdasarkan hasil investigasi serta pemeriksaan laboratorium,” imbuh Tysa.
Insiden keracunan massal ini bermula ketika ratusan siswa dari SMPN 1 dan SMPN 2 Dramaga mengeluhkan gejala mual, muntah, hingga sakit perut hebat pada Senin (26/10/2026) lalu. Sejumlah siswa bahkan harus dilarikan ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis intensif.
Menu MBG yang dikonsumsi para siswa pada hari kejadian terdiri dari nasi, orek tempe, sate ayam, dan buah.
Kepala Dapur SPPG Bogor Dramaga 4, M. Ilyas Abdi Perkasa, membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya mengaku menerima laporan pertama kali dari pihak guru SMPN 2 Dramaga setelah mendapati banyak siswa tidak masuk sekolah akibat mengalami gangguan pencernaan yang mendadak sejak dini hari.
“Sakit perutnya itu sudah mulai kejadian waktu malam-malam. Ya, ada yang waktu kebangun malam jam 02.00 WIB malam gitu baru sakit perut,” ungkap Ilyas.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memantau pemulihan para siswa korban keracunan, sementara investigasi lanjutan terhadap standar higienitas pengolahan makanan terus digulirkan.(dhil/kmps)










