Koranindopos.com, Jakarta – Aditya Zoni kembali tampil di layar lebar lewat film horor terbaru berjudul Menjelang Magrib 2: Wanita yang Di Rantai. Dalam produksi garapan Helroad Films tersebut, pria berusia 24 tahun ini dipercaya memerankan karakter dokter muda bernama Giandra. Peran tersebut disebutnya cukup menantang karena menuntut pendalaman karakter secara serius.
Saat ditemui di acara Gala Premier pada Sabtu (30/8/2025) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Aditya menceritakan bagaimana ia harus melakukan riset mendalam untuk memerankan sosok dokter di era Hindia Belanda. Ia mengaku bersyukur karena dalam tahap pra-produksi, dirinya diberi waktu yang cukup untuk mempelajari latar belakang profesi medis.
“Di sini itu gue sebagai dokter untuk melawan budaya-budaya lama masyarakat kayak percaya mistis, percaya masih hal-hal yang ilmu-ilmuan. Nah itu kan berbanding terbalik sama karakter gue sebagai dokter yang selalu mengedepankan logis dan medis. Jadi ini serunya sih di situ,” jelasnya.
Dalam mempersiapkan peran tersebut, Aditya tidak hanya mengandalkan riset literatur, tetapi juga belajar langsung dari beberapa temannya yang berprofesi sebagai dokter. Ia mengatakan mendapat banyak arahan teknis mengenai cara menjelaskan penyakit hingga bagaimana seorang dokter berinteraksi dengan pasien.
Selain pendalaman karakter, tantangan besar juga datang dari kondisi lokasi syuting. Sebagian besar pengambilan gambar dilakukan di Gunung Papandayan, Garut, dengan cuaca yang tidak menentu. Aditya mengaku sempat jatuh sakit selama dua hari akibat dinginnya udara dan hujan deras yang hampir setiap hari mengguyur lokasi.

“Kalau mistis-mistis, Alhamdulillah aman-aman aja. Cuma memang lebih ke medan syutingnya aja sih yang lumayan ya. Kadang-kadang syutingnya di gunung Papandayan ya. Jadi di situ memang dingin, terus cuaca waktu itu lagi nggak bagus, hujan terus kan,” ungkapnya.
Meski menghadapi hambatan, proses syuting tetap berjalan sesuai jadwal. Aditya pun berharap karya ini bisa memberikan kesan berbeda bagi penonton. Ia menegaskan bahwa film ini bukan hanya sekadar tontonan horor, melainkan juga sarat dengan pesan moral. “Ya, mudah-mudahan film ini bukan hanya menjadi tontonan aja buat temen-temen semua, tapi bisa menjadi hiburan juga, bisa menjadi pesan-pesan moral, pesan-pesan positifnya diambil semua dari film ini,” ujanya.
Film Menjelang Magrib 2: Wanita yang Di Rantai sendiri merupakan spin-off dari Menjelang Magrib yang rilis pada 2022 lalu. Cerita berfokus pada kehidupan di masa 1920, ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Latar utamanya adalah Universitas Stovia, tempat lahirnya para dokter pribumi di era kolonial.
Dalam alur cerita, Giandra membaca berita tentang seorang gadis desa bernama Layla yang dipasung karena dianggap mengalami gangguan jiwa. Pada masa itu, pemasungan dianggap sebagai metode penyembuhan, yang biasanya ditangani oleh seorang dukun. Giandra menentang cara tersebut dan berusaha mendekati Layla, hingga pertemuan itu justru memunculkan teror menyeramkan.
Layla, yang diperankan Aisha Kastolan, hidup bersama neneknya (Muthia Datau). Kehadirannya membuat Giandra mulai diteror hal-hal mistis. Bersama seorang jurnalis bernama Rikke (Aurelia Lourdes), Giandra berusaha mengungkap misteri penyakit Layla. Dari situlah tabrakan antara sains modern dan kepercayaan mistis semakin kuat tergambar dalam film.
Sutradara Helfi Kardit menegaskan bahwa tema pemasungan menjadi titik utama dari kisah ini. Ia mengaku terinspirasi dari pengalaman pribadi saat melihat praktik tersebut di daerah Sumatera. “Tema pasung menjadi energi cerita sedari awal saya membuat film Menjelang Magrib ini, karena ini berdasarkan pengalaman pribadi saya waktu saya tinggal di daerah Sumatera, melihat orang yang di pasung di sebuah rumah pasung sebagai bagian cara pengobatan orang yang bermasalah dengan kejiwaan atau mental illness,” pungkasnya.
Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 4 September 2025. Dengan kombinasi kisah horor, konflik budaya, dan drama sosial, Menjelang Magrib 2: Wanita yang Di Rantai diharapkan menjadi tontonan segar sekaligus menantang bagi pecinta film horor tanah air. (Brg/Hend)










