Koranindopos.com, Jakarta – Aksi Musikal 19 November 2025 yang berlangsung di halaman Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, kembali menjadi arena rakyat menyalakan nyala keberanian. Kegiatan ini mempertemukan publik dari berbagai latar profesi, mulai dari seniman, musisi, aktor, hingga ulama muda untuk menyuarakan kegelisahan atas kondisi korupsi yang dinilai semakin menghebat dan mengancam masa depan generasi bangsa.
Pengumpulan massa di depan gedung antirasuah itu dipilih sebagai penanda bahwa korupsi bukan lagi sekadar persoalan moral, melainkan bahaya laten yang mencederai hak masyarakat. Sutradara Anggy Umbara, 43 tahun, tampil sebagai salah satu penggerak utama. Ia mengingatkan bahwa kemerosotan perilaku pejabat hari ini akan membentuk karakter buruk generasi berikutnya. Dalam orasinya, ia menegaskan, “Generasi koruptor melahirkan generasi pembully.”
Sejumlah nama publik hadir untuk memperkuat gema perlawanan tersebut, di antaranya musisi Sukatani, Armia and The Shadows, aktor Chicco Jerikho yang kini berusia 41 tahun, aktor muda Sinyo, serta ustadz Cholidi yang dikenal aktif berdakwah di berbagai komunitas. Turut hadir pula Jonathan Latumahina, ayah dari David Ozora, yang sejak 2023 terus menyuarakan keadilan bagi putranya.

Perpaduan orasi dan musik menjadikan aksi ini bukan hanya ruang protes, tetapi juga ruang ekspresi yang berdenyut hidup. Melalui panggung sederhana, para peserta menunjukkan bahwa suara publik tidak bisa diringkus. Justru ketika tekanan meningkat, keberanian masyarakat terlihat semakin menyala dan menolak bungkam.
Salah satu penampilan yang memantik perhatian datang dari musisi Sukatani. Ia mengemas lagu “Gelap Gempita” dalam aransemen yang penuh energi, mendatangkan keheningan sejenak sebelum tepuk tangan dan sorakan solidaritas memecah suasana. Pertunjukan itu menjadi penanda bahwa seni mampu tampil sebagai alat perlawanan yang setara dengan orasi.
Dari panggung yang sama, aktor Chicco Jerikho ikut menyampaikan ajakan moral kepada para peserta aksi. Baginya, memperjuangkan nilai kebenaran tidak bisa dipikul oleh segelintir orang. “Kebenaran tidak bisa dibungkam,” ujarnya, disambut tepuk tangan.
Sementara itu, Jonathan Latumahina menyoroti pentingnya persatuan masyarakat dalam menghadapi ketidakadilan. Ia menilai kekuatan rakyat tidak pernah kecil selama dilakukan secara damai. Baginya, gagasan bahwa “rakyat berkuasa” bukanlah semboyan kosong, melainkan peluang nyata yang selalu menunggu diwujudkan.
Aksi ini sekaligus menyoroti kembali perkara yang menimpa David Ozora. Kasus tersebut kini diangkat ke layar lebar dan dijadwalkan tayang pada 4 Desember 2025. Film tersebut, yang diklaim memuat 90 persen rangkaian kejadian asli, diharapkan mampu memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada publik tentang perjalanan kasus itu.
Aksi ini juga menjadi momentum untuk kembali mengangkat kisah perjuangan David Ozora, yang kini diadaptasi ke layar lebar. Film yang akan tayang pada 4 Desember 2025 mendatang disebut akan menyajikan 90 persen rangkaian kejadian nyata, sebuah upaya untuk mengabadikan potret petualangan mencari keadilan yang otentik. (Brg/Hend)










