Koranindopos.com, Jakarta – Kolaborasi lintas negara di bidang kecerdasan buatan kembali menguat seiring meningkatnya tekanan regulasi di kawasan Asia Tenggara. Kali ini, perusahaan teknologi asal Eropa Utara, Ebbot, memilih menggandeng konsultan regional Veda Praxis untuk membangun kerangka implementasi AI yang dinilai lebih terukur dan patuh aturan.
Berbeda dari kerja sama teknologi pada umumnya yang berfokus pada ekspansi pasar, aliansi ini justru menempatkan tata kelola sebagai titik masuk. Kedua pihak menyatakan bahwa percepatan adopsi AI di Asia Tenggara perlu diimbangi dengan kepastian kepatuhan, perlindungan data, serta penguatan sistem pengawasan internal organisasi.
Langkah tersebut muncul di tengah proyeksi ekonomi digital Asia Tenggara yang diperkirakan mencapai US$1 triliun pada 2030, dengan total nilai ekonomi kawasan menembus US$4,5 triliun. Dalam berbagai kajian industri, AI disebut berpotensi menyumbang hingga 18 persen terhadap produk domestik bruto regional. Namun, sektor-sektor seperti perbankan, jasa keuangan, dan lembaga publik menghadapi tuntutan regulasi yang semakin ketat ketika mulai mengintegrasikan AI ke sistem kritikal..
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan telah menerbitkan panduan tata kelola AI untuk sektor jasa keuangan. Di Singapura, Monetary Authority of Singapore terus memperbarui standar pengawasan teknologi finansial dan AI.
Sementara itu, Vietnam mengesahkan undang-undang AI komprehensif pada Desember 2025 yang mulai berlaku Maret 2026. Rangkaian kebijakan tersebut memperlihatkan bahwa ruang inovasi kini berjalan beriringan dengan peningkatan kewajiban audit dan akuntabilitas.
Dalam konteks itu, Ebbot menghadirkan platform agentic AI yang telah memenuhi ketentuan General Data Protection Regulation (GDPR) Uni Eropa dan tersertifikasi ISO 27001. Perusahaan berbasis di Stockholm tersebut menyebut teknologinya dirancang untuk diintegrasikan dengan sistem layanan yang telah ada, sehingga organisasi dapat mengoperasikan agen AI secara terkontrol di berbagai kanal.
Veda Praxis, yang berdiri pada 2005 dan memiliki jaringan di Indonesia, Singapura, serta Vietnam, membawa pengalaman lebih dari dua dekade dalam bidang governance, risk, and compliance (GRC), transformasi digital, serta cybersecurity. Perusahaan ini mencatat telah menyelesaikan lebih dari 2.000 engagement dengan institusi keuangan, BUMN, perusahaan multinasional, hingga usaha kecil dan menengah.
CEO Veda Praxis, Syahraki Syahrir, menilai bahwa keberhasilan implementasi AI bergantung pada fondasi tata kelola yang dibangun sejak awal.
“Asia Tenggara bergerak cepat dalam mengadopsi AI. Namun, keberlanjutannya hanya dapat terjaga jika kepercayaan, keamanan, akuntabilitas, dan auditabilitas menjadi bagian dari desain awal,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Dari sisi teknologi, Acting CEO Ebbot Johan Ekberg menyatakan bahwa kemitraan ini dirancang untuk mempercepat transisi organisasi dari tahap perencanaan menuju penerapan nyata.
“Kami ingin membantu organisasi bergerak lebih cepat dari strategi ke implementasi operasional, dengan tetap memastikan solusi yang dapat diskalakan secara global dan memberikan nilai bisnis jangka panjang,” kata Johan.
Aliansi ini menawarkan pendekatan terstruktur yang dimulai dari asesmen kesiapan AI, perancangan arsitektur, implementasi, hingga pengawasan berkelanjutan. Standar yang dirujuk mencakup ISO/IEC 42001 tentang manajemen sistem AI, selain penyesuaian terhadap kerangka regulasi di masing-masing negara.
Chief International & Marketing Officer Veda Praxis, Marek Kosmowski, menyebut kolaborasi tersebut sebagai jembatan antara inovasi teknologi Eropa dan kebutuhan praktis industri Asia Tenggara.
“Tata kelola dan cybersecurity kami integrasikan sejak tahap perancangan agar AI dapat diskalakan dengan keyakinan dan memberikan nilai tambah yang terukur,” ujarnya.
Selain menyasar institusi besar, kemitraan ini juga membuka peluang bagi sektor publik dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk mengadopsi AI secara bertahap. Skema implementasi dirancang agar organisasi dengan sumber daya terbatas tetap dapat membangun fondasi pengendalian risiko yang memadai sebelum melakukan ekspansi penggunaan AI.
Dengan meningkatnya pengawasan regulator dan ekspektasi publik terhadap transparansi teknologi, pendekatan kolaboratif antara penyedia platform dan konsultan tata kelola dinilai menjadi model yang semakin relevan. Aliansi antara Ebbot dan Veda Praxis menunjukkan bahwa pengembangan AI di kawasan tidak lagi semata soal kecepatan inovasi, tetapi juga kemampuan menjaga kepatuhan dan ketahanan operasional dalam jangka panjang. (BRG/Kul)










