koranindopos.com, JAKARTA – Di balik penurunan angka stunting nasional, Indonesia kini menghadapi tantangan gizi lain yang tak kalah serius, yakni hidden hunger atau kelaparan tersembunyi pada anak. Kondisi ini terjadi ketika anak terlihat sehat dan aktif, namun sebenarnya mengalami kekurangan zat gizi penting yang berperan besar dalam tumbuh kembangnya.
Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional menurun menjadi 19,8 persen, dari 21,5 persen pada 2023. Meski demikian, para dokter menilai penurunan ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi gizi anak secara menyeluruh. Pasalnya, Indonesia masih menghadapi triple burden of malnutrition, yaitu stunting, obesitas, dan defisiensi mikronutrien.
Dokter Gizi Klinik Primaya Hospital Tangerang, dr. Monique Carolina Widjaja, M.Gizi, Sp.GK, menjelaskan bahwa hidden hunger kerap luput dari perhatian orang tua karena tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas.
“Banyak orang tua masih berfokus pada rasa kenyang, bukan kualitas gizi. Akibatnya, anak mendapat asupan karbohidrat berlebih, tetapi kekurangan protein hewani serta mikronutrien penting seperti zat besi, zinc, dan vitamin D,” ujar dr. Monique.
Makanan Praktis, Risiko Gizi Tersembunyi
Salah satu pemicu utama masalah gizi anak saat ini adalah meningkatnya konsumsi makanan ultra-proses (ultra processed food/UPF), seperti nugget, sosis, sereal manis, dan camilan kemasan. Makanan jenis ini memang praktis dan disukai anak, namun umumnya rendah kualitas gizi.
“Dalam jangka panjang, konsumsi UPF dapat mengganggu sinyal kenyang alami, memicu obesitas, serta meningkatkan risiko penyakit metabolik sejak usia dini,” jelas dr. Monique.
Gejala yang Sering Dianggap Sepele
Hidden hunger kerap tidak terdeteksi karena gejalanya samar dan sering dianggap bagian dari proses tumbuh kembang anak. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai orang tua antara lain anak mudah lelah dan sulit berkonsentrasi, sariawan berulang atau gusi mudah berdarah, rambut kusam dan mudah rontok, kuku rapuh, serta anak yang sering sakit atau mengalami infeksi berulang.
“Anak bisa tampak sehat dari luar, tetapi secara biologis tubuhnya kekurangan zat gizi penting. Inilah yang membuat hidden hunger berbahaya karena sering terlambat disadari,” tambahnya.
Pentingnya Skrining Gizi Rutin
Untuk mencegah dampak jangka panjang, dr. Monique menekankan pentingnya skrining gizi rutin, bahkan pada anak yang terlihat sehat dan aktif. Skrining ini bertujuan mendeteksi masalah gizi sejak dini, memantau pertumbuhan jangka panjang, serta mencegah stunting terselubung, obesitas, dan penyakit tidak menular di kemudian hari.
Skrining gizi ideal mencakup pengukuran antropometri seperti berat dan tinggi badan, lingkar kepala dan lengan, pemeriksaan fisik pada kulit, rambut, mulut, dan mata, evaluasi pola makan harian, serta pemeriksaan laboratorium bila diperlukan, termasuk darah lengkap dan status mikronutrien.
“Nutrisi anak tidak boleh ditunda atau disepelekan. Apa yang masuk ke piring anak hari ini akan menentukan kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitasnya di masa depan. Skrining gizi seharusnya menjadi bagian penting dari perawatan kesehatan anak, sama pentingnya dengan imunisasi,” tutup dr. Monique. (rls/sh)










