
AUSTRALIA, koranindopos–Rusia mulai mengalami tekanan politik. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengumumkan sanksi baru terhadap Rusia pada Jumat (23/2). Sanksi dijatuhkan kepada lebih dari 300 anggota parlemen Rusia yang menyepakati serangan ke Ukraina, termasuk pada kelompok elit oligarki yang menyokong pemerintahan Vladimir Putin. ”Kami akan bekerja dengan mitra kami untuk menyiapkan gelombang sanksi dan terus memberikan tekanan pada Rusia,” kata Morrison seperti dikutip dari Reuters.
Selain memberikan sanksi, Morrison juga mengkritik Beijing karena tidak memberikan respons yang kuat pada invasi Rusia. ”Pada saat dunia berusaha untuk memberikan sanksi tambahan pada Rusia, mereka telah melonggarkan pembatasan perdagangan gandum ke Rusia. Jadi saat Australia, bersama dengan Inggris, Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang bertindak untuk memotong Rusia, pemerintah China menindaklanjuti dengan pelonggaran pembatasan perdagangan, dan itu tidak dapat diterima,” kata Morrison.
Sementara itu, pemerintah Ukraina melarang pria berusia 18 – 60 tahun pergi meninggalkan negara tersebut selama periode darurat militer. Menurut Pelayanan Penjaga Perbatasan Negara terdapat pembatasan kepada laki-laki yang hendak mengungsi.
Situasi darurat militer di Ukraina telah ditetapkan Presiden Volodymyr Zelensky pada Kamis (24/2), setelah Rusia melakukan invasi ke negara tersebut. Zelensky telah menandatangani dekret mobilisasi massa atau komponen cadangan militer menyusul dua gelombang serangan Rusia pada Kamis (24/2).
Dengan berlakunya dekret ini, komponen cadangan militer yang berisikan masyarakat sipil berusia 18 – 60 tahun bisa dipanggil untuk memperkuat militer selama satu tahun ke depan. Ukraina juga menyatakan mobilisasi massa akan berlangsung selama 90 hari dari saat dekret ditandatangani. (cnni/mmr)









