
PADAT PENDUDUK: Sebuah spanduk berisi larangan memasuki permukiman warga Krukut terpampang. Pemerintah DKI memberlakukan micro lockdown kawasan itu karena belasan warganya kemungkinan terpapar varian Omicron.
TAMANSARI, koranindopos.com – Sekitar 14 dari 36 warga RW 002, Kelurahan Krukut, Tamansari, Jakarta Barat, dinyatakan probable terpapar Covid-19 varian Omicron. Sedangkan sisanya, masih menunggu hasil pemeriksaan sampel. ”Untuk warga krukut 14 orang di antaranya probable varian omicron, sementara yang lainnya masih menunggu hasil,” ujar Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi Senin (10/1).
14 sampel tersebut akan diperiksa lebih lanjut dengan Whole Genome Sequences (WGS) untuk memastikan keakuratan tertularnya varian Omicron itu. Nadia menyebut, mereka yang terpapar Omicron cenderung hanya bergejala ringan. ”Untuk sementara rata-rata temuan gejala warga yang terinfeksi Omicron di Indonesia cenderung tidak bergejala atau OTG dan bergejala ringan seperti batuk, flu, dan demam. Dan mereka sebagian besar telah selesai melakukan vaksinasi dosis dua,” katanya.
Pihaknya, kata Nadia, telah meminta pihak Kelurahan Krukut melakukan tracing lanjutan. Dengan begitu, dapat diketahui ada atau tidaknya warga lain yang terpapar. Saat ini juga telah diterapkan micro lockdown di wilayah tersebut.
”Warga di sana kita minta untuk menerapkan micro lockdown untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 khususnya varian Omicron, dan warga disana harus terus di tracing untuk mengetahui kontak eratnya,” terangnya.
Tercatat ada 600 jiwa yang terdiri dari 298 Kepala Keluarga di RT 08,11,14,10 RW 02 yang tengah menjalani micro lockdown. Lurah Krukut Ilham Nurkarin mengatakan, dari 36 warga positif, 35 diantaranya sudah dirujuk ke Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta Pusat, untuk isolasi. Sedangkan satu orang lainnya dibawa ke rumah sakit karena melahirkan.
Dia menjelaskan, temuan tersebut berawal dari salah satu warga yang melakukan tes PCR mandiri di rumah sakit di wilayah Taman Sari setelah tiba dari luar kota. Hasil tes PCR itu keluar tanggal 5 Januari dengan hasil positif.
Atas hasil itu, petugas kesehatan melakukan tracing di tempat pasien pertama tinggal. Mereka yang kedapatan pernah kontak dengan pasien langsung menjalani tes PCR dan tes usap (swab). Hasilnya, sebanyak 36 warga dinyatakan positif Covid-19.
Ilham menuturkan, saat ini pihaknya telah mendapatkan bantuan berupa bahan makanan dari Polres Jakarta Barat, Dinas Sosial dan lainnya. Bahan makanan itu nantinya akan disalurkan kepada warga yang menjalani micro lockdown.
Kapolres Metro Jakarta Barat Jumat Kombespol Ady Wibowo mengatakan, bantuan pangan yang diberikan pihak Polres Jakarta Barat berupa beras, minyak hingga beberapa dus mie instan. Dari data yang diterima, bantuan tersebut berjumlah 100 kilogram beras, 20 kotak mie instan, lima kotak masker dan satu dus minyak goreng kemasan. “Bantuan tersebut diberikan agar warga tidak harus bekerja ataupun beraktivitas ke luar rumah selama kebijakan micro lockdown berlangsung,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Dwi Oktavia menuturkan, dari temuan itu, tracing masih terus dilakukan. Sementara untuk kasus yang sudah terkonfirmasi positif, meski hasil belum semua WGS keluar, langsung diisolasi. ”’Hari ini (Kemarin, Red) masih tracing terus. Sampai kapan? sampai kalau sudah tidak ada lagi proses penularan yang berlanjut. Kemudian dari wilayah dilakukan micro lockdown yang dilakukan pimpinan setempat dan masyarakat di sana,” terang Dwi.
Dwi menjelaskan bahwa dari 36 kasus positif tersebut, salah satunya ibu hamil dan sudah dibawa ke Rumah Sakit (RS) untuk mendapatkan perawatan. Terkait penularan tersebut, dia menyebutkan sedang ditelusuri. Namun, Dwi menyebutkan bahwa kasus pertama diketahui tidak memiliki perjalanan dari luar negeri. ‘”Berarti transmisi lokal, tapi bisa jadi ibu R (kasus pertama, Red) ini ketularannya dari orang lain, yang tidak diketahui karena mungkin gejalanya ringan, jadi tidak disadari sumber penularannya. Jadi, yang diketahui paling awal si ibu R ini, kemudian tracing diteruskan dan kemudian kepada semua yang pernah berkaitan yang semuanya, juga yang tinggal di daerah Krukut tersebut kami lakukan tracing,” terangnya.
Dwi juga menjelaskan, meski DKI mengenali ibu R sebagai kasus pertama, tapi kemungkinan besar ibu R tertular dari orang lain yang ada di lingkungannya. Hanya saja, lanjutnya, tidak terdeteksi. Hal itu karena kasus positif varian Omicron memiliki gejala yang mayoritas ringan.
”Jadi, banyak yang gak menyadari. Itu susahnya Omicron, gak ngeh kalau dia terpapar Covid-19 karena ringan sekali gejalanya. Sehingga, tidak disadari. Itu makanya kami ingatin orang pakai masker, jaga jarak, karena Omicron gejalanya ringan tapi bisa nularin,” tambahnya. (wyu/brg)










