Koranindopos.com, Jakarta – Memasuki awal tahun 2026, banyak perusahaan di Indonesia mengalami lonjakan pertumbuhan yang signifikan. Namun, pertumbuhan ini sering kali membawa “penyakit” operasional berupa data yang tersebar dan proses antar-tim yang tidak sinkron. Masalah ini muncul bukan karena kurangnya kerja keras, melainkan karena sistem lama seperti pencatatan manual atau penggunaan spreadsheet yang mulai tertinggal dan tidak lagi mampu menopang kompleksitas bisnis yang kian meluas.
Menjawab tantangan tersebut, TiLabs (tilabs.co) hadir sebagai penyedia ERP Enablement yang menjembatani sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dengan realita operasional harian. TiLabs tidak hanya sekadar memasang perangkat lunak, tetapi memastikan sistem tersebut benar-benar berjalan, stabil, dan terukur. Dengan pendekatan ini, perusahaan yang sedang melakukan scale-up dapat tetap bergerak lincah tanpa harus kehilangan kendali atas operasional mereka yang semakin rumit.
”Jika Anda memiliki lebih dari 1 gudang/outlet, tim lintas fungsi saling bergantung. Dan spreadsheet sudah tidak memadai. Di sisi lain, ERP enterprise terasa terlalu berat. Di fase ini, risiko operasional mulai memakan waktu. TiLabs sudah ada sejak 2019 dan fokus membantu bisnis menengah hingga perusahaan yang sedang scale-up. TiLabs membantu banyak perusahaan menjalankan operasi lebih konsisten, tanpa membuat tim internal kewalahan,” ungkap Dwi Harsono selaku Owner TiLabs.

Narasi yang diusung TiLabs bergeser dari sekadar pamer fitur teknis yang panjang menuju hasil nyata berupa performa operasional yang mulus. Bagi banyak perusahaan, sistem enterprise yang terlalu kompleks sering kali justru menjadi beban. TiLabs mengisi celah tersebut dengan memberikan solusi yang mampu merapikan alur kerja antar-tim tanpa menguras energi karyawan untuk menyelesaikan masalah yang terus berulang secara manual.
”Respons dukungan yang cepat, monitoring proaktif, dan biaya yang lebih transparan. Visibilitas operasional menjadi lebih konsisten sehingga berkurangnya koreksi manual dan alur kerja antar tim lebih rapih. Bagi pembaca non-teknis, ini penting karena ERP enablement yang baik seharusnya membuat tim bisnis fokus ke pertumbuhan. Bukan lagi habis energi untuk menyelesaikan masalah yang berulang,” kata Dwi Harsono.
Keandalan TiLabs terbukti melalui rekam jejak implementasi di berbagai sektor, mulai dari manufaktur hingga perbankan. Salah satu portofolio menonjol adalah kolaborasi dengan Bank Jatim, di mana TiLabs membangun sistem ERP terintegrasi untuk mengelola vendor, armada, dan acara. Melalui sistem ini, alur persetujuan dan pelacakan aktivitas menjadi lebih rapi, sehingga kontrol operasional bank daerah tersebut menjadi jauh lebih kuat dan transparan.
Selain perbankan, TiLabs merambah industri otomotif bersama Kramat Motor untuk merapikan proses after-sales, serta mendukung Unitama dalam menangani kebutuhan operasional yang kompleks. Di sektor manufaktur, TiLabs melayani klien seperti Hartex dan Fluidco, sementara di industri F&B, nama-nama seperti Drinkology dan SudoBrew telah menggunakan jasa mereka untuk menyederhanakan supply chain yang rumit dan transaksi bervolume tinggi.
TiLabs juga mengembangkan ekosistem produk SaaS yang spesifik menjawab masalah konkret, seperti Absenly untuk manajemen HR dan payroll yang disiplin data. Terdapat pula Strukly sebagai solusi POS bagi UMKM menengah untuk mengontrol kas, serta FlowOps oleh SudoERP yang menangani kebutuhan trading dan distribusi secara end-to-end. Saat ini, mereka pun tengah menyiapkan modul MRP untuk membantu perusahaan manufaktur mengontrol perencanaan produksi secara lebih presisi.
Keamanan digital juga menjadi fokus TiLabs melalui Vulnersight, sebuah solusi Security-as-a-Service untuk mendeteksi celah infrastruktur IT. “Saat sistem menjadi tulang punggung proses harian, satu celah saja bisa membuat downtime, kebocoran data, hingga gangguan layanan ke pelanggan. Vulnersight membantu mendeteksi celah keamanan lebih cepat, lebih kontekstual, dan lebih mudah diprioritaskan sebelum berubah menjadi insiden yang mahal,” ujar Dwi Harsono menjelaskan pentingnya aspek keamanan dalam operasional. (Ris/Hend)










