Koranindopos.com, JAKARTA – Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi Krisdianto mengatakan, pemanfaatan yang tepat adalah kunci keberhasilan penyaluran dana bergulir bagi koperasi. ”Bagi saya, dana bergulir bukan sekadar instrumen pembiayaan. Di balik setiap rupiah yang disalurkan, ada harapan agar usaha tumbuh, anggota koperasi semakin berdaya, dan roda perekonomian masyarakat terus bergerak,” kata Krisdianto.
Karena itu, lanjut Krisdianto, ukuran keberhasilan dana bergulir tidak cukup dilihat dari seberapa besar dana yang tersalurkan. Namun bagaimana dana tersebut dimanfaatkan secara produktif dan memberikan dampak nyata bagi anggota serta lingkungan ekonominya.
Krisdianto mencontohkan, Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Balo’ta di Tana Toraja. Sulawesi Selatan. Menurut dia, sebagai salah satu koperasi tertua di Tana Toraja sekaligus mitra strategis LPDB Koperasi, KSP Balo’ta memiliki rekam jejak yang baik dalam memanfaatkan dan mengembalikan dana bergulir. Lebih dari itu, pembiayaan yang diterima telah mengalir kepada anggota yang menjalankan berbagai usaha kecil dan menengah. Sekitar 15 ribu anggota telah memperoleh fasilitas pembiayaan. ”Bagi saya, fakta ini menunjukkan bahwa koperasi simpan pinjam memiliki posisi penting dalam membuka akses permodalan bagi pelaku usaha yang menjadi bagian dari sektor riil,” ujarnya.
Namun, sambung Krisdianto, peran koperasi tidak seharusnya berhenti pada urusan pembiayaan. Koperasi juga harus mampu menjadi penggerak dan penguat ekosistem usaha di sekitarnya. Apa yang dilakukan KSP Balo’ta menjadi contoh menarik. Koperasi ini secara aktif mendampingi sekitar 40 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di dua kabupaten di Tana Toraja. Sekitar 200 pengurus KDKMP mendapatkan pendampingan, terutama dalam tata kelola dan manajemen koperasi. ”Saya melihat langkah tersebut sebagai bentuk gotong royong antarkoperasi. Koperasi yang telah lebih dahulu kuat berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan koperasi yang sedang bertumbuh,” ungkapnya.
Sinergi itu bahkan dapat dikembangkan ke sektor usaha. Anggota KSP Balo’ta yang juga menjadi anggota KDKMP dapat mengembangkan usaha melalui pembiayaan koperasi. Produk yang mereka hasilkan kemudian berpeluang menjadi bagian dari rantai pasok untuk memenuhi kebutuhan gerai-gerai KDKMP. Di sinilah dana bergulir menemukan makna strategisnya. Dana bergerak dari LPDB kepada koperasi, dari koperasi kepada anggota, lalu kembali bergerak melalui kegiatan produksi, perdagangan, dan pelayanan masyarakat.
Inilah wajah koperasi yang kita harapkan: bukan hanya kuat secara kelembagaan, tetapi juga mampu menggerakkan sektor ril. Koperasi mampu mempertemukan pembiayaan, anggota, usaha produktif, dan kebutuhan pasar, koperasi tidak lagi sekadar menjadi lembaga keuangan. la menjadi bagian penting dari mesin ekonomi desa. Dan ketika semakin banyak koperasi mampu memainkan peran tersebut, saya percaya ekonomi desa akan tumbuh dengan fondasi yang semakin kuat, inklusif, dan berkelanjutan. (bis/mmr)










