Koranindopos.com – Jakarta. Industri perbankan terus melakukan modernisasi layanan untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat pengalaman bagi nasabah maupun agen. Salah satu terobosan terbaru adalah penggunaan mesin Electronic Data Capture (EDC) Android yang kini menjadi andalan sejumlah bank, termasuk Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Mesin EDC Android tidak lagi sekadar digunakan untuk menggesek kartu debit atau kredit. Perangkat ini kini mendukung berbagai layanan digital, seperti QRIS, e-wallet, hingga penarikan tunai, yang membuatnya lebih fleksibel dan relevan dengan kebutuhan nasabah masa kini.
BRI melalui EDC BRILink Android menghadirkan perangkat yang lebih modern dan mudah digunakan. Dengan tampilan layar sentuh berwarna, agen BRILink kini dapat menavigasi menu transaksi lebih cepat dan jelas. Fitur ini tidak hanya mempercepat proses transaksi, tetapi juga meminimalkan kesalahan dan mengurangi kebutuhan pelatihan operasional.
EDC Android juga berfungsi sebagai platform multifungsi yang dapat menjalankan aplikasi lain dan terintegrasi langsung dengan sistem internal BRI maupun layanan non-tunai seperti dompet digital.
Dalam hal konektivitas, EDC Android mendukung jaringan 4G/LTE, Wi-Fi, dan Bluetooth. Jika salah satu koneksi mengalami gangguan, agen bisa langsung beralih ke opsi lainnya tanpa mengganggu operasional.
Selain itu, mesin ini mendukung efisiensi jangka panjang karena mampu melakukan diagnosa masalah dari jarak jauh. Hal ini secara langsung mengurangi kebutuhan kunjungan teknisi, mempercepat penanganan kendala, dan menekan biaya operasional.
Data transaksi juga bisa dikumpulkan secara detail untuk analisis kinerja, sehingga membantu BRI dan agen merumuskan strategi bisnis yang lebih efektif.
Sebagai bagian dari transformasi, BRI secara resmi akan menghentikan operasional EDC konvensional mulai tanggal 3 Maret 2025. Migrasi ke EDC Android atau MPOS menjadi langkah strategis dan wajib bagi seluruh agen BRILink yang ingin tetap beroperasi dan bersaing di era digital.
Langkah ini menunjukkan komitmen BRI dalam menjaga agar ekosistem BRILink tetap modern, efisien, aman, dan terus memberi pelayanan terbaik bagi masyarakat.
Layanan keuangan tanpa kantor seperti Agen BRILink terbukti menjadi solusi efektif bagi masyarakat, terutama di wilayah terpencil. Berdasarkan data BRI per tahun 2024, jumlah agen BRILink mencapai 1,06 juta, naik signifikan dari 740.000 agen pada tahun sebelumnya.
Dari sisi transaksi, nominal yang tercatat melalui BRILink pada 2024 mencapai antara Rp 1.583 triliun hingga Rp 1.589 triliun. Sedangkan fee based income dari layanan ini tercatat sebesar Rp 1,6 triliun.
Secara akumulasi sejak 2020 hingga 2024, total transaksi BRILink telah mencapai minimal Rp 5.500 triliun dengan total fee based income mencapai Rp 7,06 triliun.
Sebagai perpanjangan tangan perbankan, Agen BRILink tidak hanya menyediakan layanan keuangan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja bagi lebih dari 1 juta orang. Tak hanya itu, mereka turut menunjang kebutuhan pokok sekitar 3 juta hingga 5 juta anggota keluarga, serta memberikan efek ekonomi berganda bagi komunitas di sekitarnya.
Untuk menjadi agen BRILink dan mendapatkan EDC, calon agen wajib menyetorkan deposit sebesar Rp 3 juta yang akan diblokir selama masih aktif menjadi agen. Namun, BRI memberikan opsi bebas setoran jika calon agen memiliki rekening pinjaman aktif dengan kolektabilitas lancar selama enam bulan terakhir.
Transformasi layanan ke EDC Android menjadi bukti nyata bahwa BRI terus berinovasi untuk menjaga kualitas layanan, memperkuat sistem BRILink, dan memperluas inklusi keuangan. Dengan dukungan teknologi dan sumber daya manusia, BRILink hadir sebagai solusi keuangan yang adaptif dan berdampak luas bagi masyarakat Indonesia.










