Koranindopos.com, Jakarta – Sekelompok remaja harus menjalani pembinaan selama 21 hari di tempat terpencil. Mereka dituntut mengikuti aturan, belajar bertanggung jawab, dan menghadapi masalah masing-masing. Kisah tersebut menjadi cerita utama film drama komedi remaja berjudul Yang Disebut Nakal.
Film produksi DLK Pictures bersama Inhype Pictures ini disutradarai Benni Setiawan. Diana Limbong bertindak sebagai produser, sementara Ryan Prasetyo menjadi eksekutif produser.
Yang Disebut Nakal mengambil sudut pandang anak-anak yang kerap mendapat cap nakal dari lingkungan sekitarnya. Lewat cerita ini, penonton diajak melihat persoalan yang mungkin tersembunyi di balik perilaku mereka, termasuk masalah keluarga dan keinginan untuk didengar oleh orang dewasa.
Latar camp pembinaan menjadi bagian penting dalam cerita. Selama berada di tempat tersebut, para remaja harus menyesuaikan diri dengan aturan baru dan hidup bersama orang-orang yang memiliki sifat serta latar belakang berbeda.
Situasi itu memunculkan berbagai kejadian, mulai dari pertengkaran dan tingkah konyol hingga momen yang membuat mereka memahami satu sama lain. Di tengah proses tersebut, mereka juga belajar menghadapi rasa malu, kehilangan, persahabatan, dan tanggung jawab.
Eksekutif Produser Inhype Pictures, Ryan Prasetyo, mengatakan film ini berangkat dari kebiasaan masyarakat yang mudah menilai seseorang berdasarkan perilakunya.
“Kadang kita terlalu cepat menilai seseorang dari perilakunya, tanpa benar-benar mengetahui apa yang sedang dia hadapi. Kami ingin Yang Disebut Nakal menjadi film yang menghibur sekaligus mengajak penonton membuka perspektif, terutama ketika melihat anak-anak dan remaja yang sedang mencari arah,” ujar Ryan Prasetyo.
Produser DLK Pictures, Diana Limbong, berharap cerita tersebut bisa dinikmati berbagai kelompok usia. Menurut dia, kehidupan remaja memiliki banyak persoalan yang dekat dengan keseharian, seperti hubungan keluarga, pertemanan, kedisiplinan, dan kebutuhan untuk didengar.
“Kami melihat ada banyak hal yang bisa dibicarakan melalui cerita remaja, mulai dari persahabatan, kedisiplinan, hubungan keluarga, sampai kebutuhan untuk didengar. Semua itu kami kemas dalam sebuah film yang punya humor dan kehangatan, tetapi tetap memberi ruang untuk merenung,” ungkap Diana Limbong.
Sementara itu, Benni Setiawan ingin menghadirkan karakter yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Setiap tokoh memiliki sifat dan cara sendiri dalam menghadapi persoalan, sehingga tidak ada karakter yang digambarkan sepenuhnya baik atau buruk.
“Saya ingin penonton mengenal karakter-karakter ini melalui keseharian mereka. Ada hal yang lucu, ada yang menyebalkan, ada juga yang menyentuh. Justru dari hal-hal kecil seperti itu, kita bisa melihat bahwa setiap orang punya cerita yang tidak selalu terlihat dari luar,” ujar Benni Setiawan.
Film ini dibintangi Donny Damara, Boris Bokir, Aming, El Putra Sarira, Fatih Unru, Giulio Parengkuan, Jeremie Moeremans, Andrew Baret, Richard Derick, dan Rafi Sanjaya.
Kehadiran para pemain dari generasi berbeda turut membangun dinamika cerita, terutama saat para karakter harus tinggal bersama dan menghadapi berbagai aturan di camp pembinaan.
Melalui perpaduan komedi dan drama keluarga, Yang Disebut Nakal menggambarkan bahwa perubahan membutuhkan waktu. Pengalaman selama 21 hari itu menjadi kesempatan bagi para remaja untuk mengenali diri sendiri, memahami orang lain, dan belajar melihat persoalan dari sudut pandang berbeda. (BRG/Kul)










