Koranindopos.com, Jakarta – El Putra Sarira, Giulio Parengkuan, dan Fatih Unru harus menjalani kehidupan yang jauh berbeda dari keseharian mereka dalam film Yang Disebut Nakal. Ketiganya berperan sebagai remaja yang dikirim ke kamp pembinaan selama 21 hari setelah kerap dianggap bermasalah.
Di tempat tersebut, mereka bertemu dengan para pembina yang diperankan Donny Damara, Boris Bokir, dan Aming. Berbagai aturan dan tantangan harus mereka hadapi, termasuk ketika mencoba mencari cara untuk menghindari kedisiplinan yang diterapkan di kamp.
Situasi itu menjadi sumber komedi dalam film produksi DLK Pictures dan INHYPE Pictures tersebut. Namun, di balik tingkah para remaja yang kerap membuat masalah, ada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan keluarga, yakni perasaan anak yang tidak selalu tersampaikan kepada orang tua.
Film yang disutradarai Benni Setiawan ini mengambil sudut pandang anak-anak yang sering dicap nakal. Perilaku mereka kerap menjadi persoalan bagi orang tua, tetapi alasan di balik sikap tersebut belum tentu benar-benar dipahami.
Produser DLK Pictures, Diana Limbong, mengatakan hubungan orang tua dan anak menjadi salah satu bagian penting dalam cerita film ini.
“Kami ingin film ini membuka ruang percakapan tentang hubungan orang tua dan anak. Terkadang, perhatian diwujudkan dengan cara yang berbeda-beda, tetapi yang dibutuhkan anak mungkin sederhana, yaitu merasa didengar dan dipahami. Kami berharap penonton bisa melihat persoalan itu dari lebih dari satu sudut pandang,” ujar Diana Limbong.
Pandangan serupa disampaikan Eksekutif Produser INHYPE Pictures, Ryan Prasetyo. Menurutnya, persoalan keluarga tidak selalu bisa dilihat dari satu sisi karena orang tua dan anak memiliki pergulatan masing-masing.
“Keluarga punya dinamika yang kompleks. Orang tua memiliki kekhawatiran, anak juga punya pergulatan yang belum tentu bisa mereka jelaskan. Kami ingin mengajak penonton melihat bahwa memahami satu sama lain membutuhkan waktu, kesediaan untuk mendengarkan, dan keberanian untuk membuka percakapan,” kata Ryan Prasetyo.
Benni Setiawan pun memilih menyampaikan persoalan tersebut melalui kejadian yang dialami para karakter. Dengan begitu, penonton bisa memahami perasaan mereka dari tindakan sehari-hari, bukan hanya melalui percakapan yang menjelaskan persoalan secara langsung.
“Hubungan manusia sering kali terlihat dari hal-hal kecil, termasuk apa yang tidak mereka katakan. Saya ingin penonton merasakan bahwa di balik respons atau perilaku seorang karakter, ada sesuatu yang mungkin belum mampu diungkapkan. Dari situlah penonton bisa membangun pemahamannya sendiri,” ujar Benni Setiawan.
Meski membawa persoalan keluarga, Yang Disebut Nakal tetap mengandalkan komedi untuk menghidupkan cerita. Perbedaan sifat para remaja, aturan kamp yang harus mereka patuhi, serta interaksi dengan para pembina menghadirkan berbagai situasi yang menghibur.
Kehadiran Donny Damara, Boris Bokir, dan Aming juga mempertemukan gaya akting yang berbeda dengan para pemain muda. Benturan antara para remaja dan pembina menjadi bagian dari dinamika cerita selama program berlangsung.
Selain El Putra Sarira, Giulio Parengkuan, Fatih Unru, Donny Damara, Boris Bokir, dan Aming, film ini turut dibintangi Jeremi Moreman, Andrew Baret, Richard Deric, serta Rafi Sanjaya.
Melalui kisah di kamp pembinaan, Yang Disebut Nakal mengajak penonton melihat bahwa perubahan pada anak membutuhkan proses. Disiplin dan tanggung jawab tetap diperlukan, tetapi mendengarkan alasan di balik perilaku anak juga menjadi bagian penting dalam hubungan keluarga.
Yang Disebut Nakal berkisah tentang sekelompok remaja dari latar belakang berbeda yang mengikuti program pembinaan selama 21 hari di sebuah tempat terpencil.
Jauh dari kebiasaan sehari-hari, mereka harus beradaptasi dengan aturan baru sekaligus menghadapi persoalan pertemanan, kehilangan, rasa malu, dan masalah keluarga yang selama ini sulit dibicarakan. (BRG/Kul)










