Koranindopos.com, Jakarta – Pemerintah Indonesia secara resmi membuka gelaran akbar Halal Expo Indonesia (HEI) di Jakarta pada hari Rabu. Perhelatan internasional ini diselenggarakan dengan target strategis guna memperdalam jalinan kerja sama investasi serta perdagangan produk halal dalam ruang lingkup Developing Eight (D-8). Melalui sinergi blok tersebut, aliansi negara berkembang ini optimistis mampu mendongkrak angka perdagangan intra-blok hingga menyentuh target fantastis sebesar US$500 miar pada tahun 2030 mendatang.
Di tengah perhelatan tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) muncul mencuri perhatian sebagai representasi konkret dari kokohnya ekosistem keuangan syariah yang inklusif di tanah air. Langkah nyata ini dipresentasikan secara lugas dalam sesi diskusi HEI Talk yang mengangkat tajuk “Social Collateral, Real Impact: Rethinking Poverty Alleviation through Islamic Finance”. Forum global ini menjadi panggung pembuktian bagi Indonesia dalam menggerakkan roda ekonomi dari sektor akar rumput.
Hadir langsung sebagai pembicara utama, Direktur Operasional dan Hubungan Kelembagaan PNM, Lalu Dodot Patria Ary, memaparkan signifikansi serta dampak masif dari skema keuangan syariah yang selama ini dijalankan oleh lembaganya. Pemaparan komprehensif tersebut disampaikan langsung di hadapan para delegasi dari sembilan negara anggota D-8, yang meliputi Bangladesh, Malaysia, Turki, Mesir, Nigeria, Pakistan, Iran, hingga Azerbaijan.
Efektivitas program pembiayaan ini dibuktikan oleh data performa impresif institusi yang kini telah menjangkau sebanyak 16,1 juta nasabah aktif Mekaar. Jaringan pelayanan luas tersebut ditopang oleh operasionalitas 58 kantor cabang yang tersebar merata di 36 provinsi, serta mencakup koordinasi di lebih dari 6.600 wilayah kecamatan di seluruh penjuru nusantara. Skala intervensi yang masif ini menjadi bukti kuat kapasitas domestik dalam mengelola sistem pembiayaan mikro yang berorientasi sosial serta berkelanjutan.
Dampak sosio-ekonomi yang dihasilkan dari ekosistem ini pun menunjukkan angka pertumbuhan yang sangat signifikan bagi kesejahteraan masyarakat kecil. Berdasarkan data evaluasi internal, tercatat sebanyak 74% nasabah memberikan laporan resmi mengenai adanya lonjakan pendapatan yang nyata setelah mereka bergabung dalam kepesertaan. Selain itu, sebesar 72% dari total pelaku usaha mikro tersebut kini memiliki peran aktif dan andil nyata dalam mekanisme pengambilan keputusan di ruang lingkup rumah tangga mereka, sementara 90% lainnya mengaku langsung merasakan dampak positif berupa kemandirian finansial.
Secara makro, kontribusi program pemberdayaan ekonomi perempuan ini tercatat memberikan stimulan yang sangat besar bagi roda perekonomian nasional sejak digulirkan pada tahun 2017. Intervensi keuangan mikro ini tercatat sukses menyumbang kenaikan pada angka konsumsi rumah tangga nasional dengan akumulasi nilai mencapai Rp55,81 triliun. Tidak hanya berhenti di sektor domestik saja, performa perdagangan internasional dari para pengusaha kecil binaan PNM ini pun mencatatkan pertumbuhan ekspor yang sangat gemilang hingga berhasil menembus angka di atas USD 3 miliar.
Karakteristik unik yang membuat model pembiayaan ini dinilai sangat distinktif di mata komunitas internasional terletak pada aspek inovasi metodologinya. Sistem penjaminan PNM berhasil menggantikan skema agunan fisik konvensional dengan sistem komunal berupa social collateral atau jaminan sosial antarnasabah. Skema unik ini diwujudkan melalui mekanisme kelompok perempuan yang saling memberikan jaminan satu sama lain dalam pertemuan yang digelar rutin setiap minggu, di mana asas akuntabilitas komunitas penuh menggantikan rumitnya tumpukan dokumen birokrasi, sebuah keterbaruan sistem yang sangat selaras dengan prinsip tanggung renteng dalam aturan keuangan syariah.
Dalam kesempatan terhormat di hadapan para delegasi internasional tersebut, Lalu Dodot Patria Ary menyampaikan sebuah penegasan penting terkait dengan visi mendasar institusinya. Pihaknya menyatakan dengan tegas bahwa kehadiran PNM dalam forum berskala global ini sama sekali bukan bertujuan untuk menyombongkan deretan angka statistik pencapaian semata, melainkan membawa misi yang jauh lebih besar guna merombak cara pandang dunia internasional terhadap eksistensi kaum perempuan prasejahtera.
”Enam belas juta perempuan tidak pernah meminta untuk diselamatkan. Mereka hanya ingin diberi ruang untuk bertumbuh dan tidak lagi dipandang sebelah mata. Ketika kepercayaan diberikan, mereka mampu mengubah kehidupan keluarga bahkan komunitasnya. Itulah hakikat pembiayaan ultra mikro berbasis syariah,” katanya.
Pernyataan mendalam tersebut sekaligus merangkum seluruh filosofi kerja kemanusiaan yang diusung oleh PNM di lapangan. Realitas di lapangan menunjukkan bahwa kaum perempuan di wilayah pedesaan terpencil di Indonesia yang tidak pernah memiliki akses ataupun rekening bank, bukanlah sebuah kelompok rentan yang semata-mata perlu dikasihani atau diselamatkan. Sebaliknya, mereka merupakan kelompok produktif yang selama ini tidak mendapatkan pintu kesempatan, dan di sinilah PNM hadir secara konsisten untuk membukakan akses tersebut di setiap sudut terpelosok Indonesia dalam setiap minggunya.
Partisipasi aktif serta pengakuan luas terhadap PNM dalam forum tingkat tinggi D-8 ini semakin mengukuhkan posisi geopolitik Indonesia di kancah global. Negara ini tidak hanya sekadar bertindak sebagai tuan rumah penyelenggaraan pameran, namun telah berevolusi menjadi sebuah laboratorium hidup bagi pertumbuhan keuangan syariah yang inklusif serta berdampak nyata. (RIS/Hend)










