Koranindopos.com – JAKARTA – Kenaikan harga minyak dunia mulai sedikit mereda pada perdagangan Jumat (21/8/2026), setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian memberikan sinyal bahwa Iran menginginkan perang dengan Amerika Serikat (AS) segera berakhir.
Meski demikian, harga minyak mentah masih berada dalam tren penguatan setelah sebelumnya melonjak cukup tajam akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari CNBC, Sabtu (22/8/2026), harga minyak mentah Brent berjangka yang menjadi salah satu patokan harga minyak global naik 61 sen atau sekitar 0,65 persen menjadi US$94,39 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berjangka naik 23 sen menjadi US$87,06 per barel.
Kenaikan pada Jumat tersebut relatif terbatas dibandingkan lonjakan harga pada perdagangan sebelumnya. Dalam lima hari sebelum perdagangan Jumat, harga Brent telah menguat lebih dari 7 persen, sedangkan WTI melonjak lebih dari 8 persen.
Pergerakan harga minyak tidak terlepas dari perkembangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat.
Harga minyak sempat mengalami penurunan cukup signifikan selama dua pekan pertama Agustus setelah sejumlah pejabat AS memberikan sinyal bahwa kesepakatan dengan Iran berpotensi segera tercapai.
Kesepakatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kembali lalu lintas kapal dan distribusi energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Namun, kesepakatan tersebut tak kunjung terwujud. Ketegangan antara kedua pihak justru kembali meningkat sehingga pasar energi mulai mengantisipasi kemungkinan terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah dalam waktu lebih lama.
Dalam kondisi tersebut, pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengenai keinginan untuk mengakhiri perang memberikan sedikit ruang bagi pasar untuk bernapas.
Pezeshkian bahkan mengisyaratkan keterbukaan terhadap nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan AS.
“Lebih baik mengakhiri perang hari ini ketika Iran berada dalam posisi yang kuat dan bermartabat,” kata Pezeshkian, menurut kantor berita negara PressTV.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik lebih lanjut.
Meskipun kembali naik, harga minyak dunia saat ini masih berada cukup jauh di bawah level tertinggi yang sempat dicapai ketika perang di Timur Tengah pecah.
Namun, kondisi pasar energi global tetap menjadi perhatian karena gangguan pasokan tidak hanya datang dari satu sumber.
Pasar diesel, khususnya, menghadapi tekanan yang cukup besar. Persaingan pasokan diesel global semakin ketat di tengah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta pemadaman listrik di sejumlah wilayah Timur Tengah akibat gangguan di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena diesel merupakan bahan bakar penting bagi berbagai aktivitas ekonomi.
Diesel digunakan secara luas untuk transportasi barang, kendaraan komersial, sektor pertanian, serta sejumlah pembangkit listrik.
Managing Director and Global Head of Commodity Strategy di RBC Capital Markets, Helima Croft, menilai kondisi pasar diesel perlu mendapat perhatian serius.
“Harga solar berada pada level tertinggi sepanjang sejarah dan kita tidak memiliki kapasitas penyulingan solar yang berlebih. Itulah pasar energi yang perlu kita perhatikan dengan sangat, sangat cermat,” kata Croft.
Keterbatasan kapasitas penyulingan membuat pasar menjadi lebih sensitif terhadap gangguan pasokan.
Apabila konflik di Timur Tengah semakin meluas atau gangguan distribusi melalui Selat Hormuz berlangsung lebih lama, tekanan terhadap harga produk olahan minyak, termasuk diesel, berpotensi semakin besar.
Sebaliknya, apabila Iran dan AS benar-benar mencapai kesepakatan yang dapat meredakan konflik serta menjamin kelancaran lalu lintas energi, tekanan harga dapat kembali berkurang.
Untuk saat ini, sinyal damai dari Iran memang memberikan sedikit kelegaan bagi pasar minyak. Namun, investor masih menunggu bukti konkret bahwa ketegangan Iran-AS benar-benar memasuki fase deeskalasi.
Pergerakan harga minyak dalam beberapa hari ke depan kemungkinan masih sangat dipengaruhi perkembangan diplomatik, kondisi Selat Hormuz, serta potensi gangguan terhadap fasilitas produksi dan penyulingan minyak di kawasan.
Dengan demikian, meski lonjakan harga minyak mulai mereda, risiko di pasar energi global belum sepenuhnya hilang.
Pasar masih harus menghadapi ketidakpastian geopolitik, keterbatasan kapasitas penyulingan diesel, serta potensi gangguan distribusi energi yang dapat kembali mendorong harga minyak dan bahan bakar lebih tinggi.(dhil/dtk)










