koranindopos.com, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali tahun 2026 dengan mencatatkan rekor baru. Di tengah berbagai tantangan ekonomi domestik dan tekanan global, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia tetap memandang prospek pasar saham nasional secara konstruktif dengan target IHSG di level 10.500 sepanjang tahun ini.
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset, Rully Arya Wisnubroto, mengungkapkan bahwa IHSG menunjukkan tren penguatan sejak awal tahun, melanjutkan momentum positif dari 2025. Pada awal Januari, IHSG bahkan mencetak rekor tertinggi dengan penutupan di level 8.944,8 pada Rabu (7/1).
Menariknya, penguatan pasar saham tersebut terjadi di tengah rilis data ekonomi yang belum sepenuhnya menggembirakan. Inflasi Desember tercatat relatif tinggi, surplus neraca perdagangan menyempit, serta defisit fiskal melebar akibat penerimaan negara yang masih lemah. Di sisi eksternal, sentimen risk-off global turut menekan pasar keuangan domestik.
Penguatan indeks Dollar AS (DXY) mendorong depresiasi nilai tukar Rupiah, yang untuk pertama kalinya sejak April 2025 ditutup di atas level 16.800 per Dollar AS. Kondisi ini mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter, mengingat kombinasi tekanan inflasi dan pelemahan Rupiah membuat Bank Indonesia harus bersikap sangat hati-hati menjelang Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Januari 2026.
Meski demikian, Rully menilai pasar saham tetap bergerak positif karena pelaku pasar memandang prospek ekonomi ke depan lebih baik. Dalam jangka menengah, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksikan meningkat menjadi 5,3% pada 2026, dibandingkan sekitar 5,1% pada 2025, dengan dukungan kebijakan fiskal yang lebih efektif dan belanja produktif yang berkelanjutan.
Keselarasan antara kebijakan moneter dan fiskal dinilai menjadi faktor kunci dalam menopang likuiditas dan memperkuat fondasi pasar, sekaligus mendukung target IHSG di level 10.500. Dalam jangka panjang, konsistensi kebijakan serta kepastian arah ekonomi diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor.
Dari sisi sektoral, penguatan IHSG sejak awal tahun didorong oleh saham-saham komoditas dan pertambangan seperti AMMN, BUMI, BYAN, dan BRMS. Tren ini berpotensi berlanjut seiring penguatan harga komoditas, khususnya emas, di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global. Selain itu, sektor telekomunikasi dan infrastruktur telekomunikasi juga dinilai prospektif, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi digital dan kebutuhan investasi jaringan yang berkelanjutan.
Dengan kombinasi kinerja pasar yang solid, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, serta peluang sinergi kebijakan moneter dan fiskal, Mirae Asset tetap optimistis dan mempertahankan pandangan bullish terhadap pasar saham Indonesia sepanjang 2026. (rls/sh)










