Koranindopos.com, Jakarta – Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Namun, di balik semangat para pelaku usaha, tidak sedikit yang menghadapi kendala seperti keterbatasan pengetahuan manajemen, akses permodalan, hingga adaptasi teknologi digital. Untuk menjawab tantangan tersebut, berbagai program pembinaan hadir sebagai jembatan agar UMKM dapat berkembang dan naik kelas.
Salah satunya adalah Program Daya, program yang digagas Bank SMBC Indonesia yang fokus pada pengembangan kapasitas diri dan usaha, literasi keuangan, serta digitalisasi. Program Daya dapat diikuti semua nasabah Bank SMBC indonesia mulai dari segmen korporasi sampai masyarakat berpenghasilan rendah. Melalui pendampingan berkelanjutan, para pelaku UMKM tidak hanya dibekali keterampilan teknis, tetapi juga wawasan dalam mengelola bisnis secara berkelanjutan.
Selain itu Program Daya juga didukung program relawan bernama Sahabat Daya yang berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencapai visinya dan kesuksesan UMKM yang menjadi binaannya.
Salah satu contoh keberhasilan seperti yang di ceritakan di laman Bank SMBC Indonesia, datang dari dr. Agnes Sukenty Niken Puspitarini, sukses meracik jamu menjadi minuman kekinian yang disukai semua kalangan. Ketika mendengar kata Jamu stigma yang muncul dibenak setiap orang adalah minuman yang pahit, menyengat aromanya dan tidak enak rasanya.
Atas dasar pemikiran itu, dr. agnes terpanggil untuk memperkenalkan jamu yang diramu agar enak diminum tanpa harus mengurangi khasiat dan manfaat dari olahan jamu tersebut.
Ing Pawon adalah Merek Dagang yang dipilih Agnes, dia berharap dapat memperkenalkan cara nikmat minum jamu.
Sebagai dokter dan juga pebisnis pemula kendala yang dihadapi dr. Agnes adalah masalah manajemen waktu. Dia harus membagi waktunya antara jadwal praktik atau melayani pesanan jamu makanya dia harus pandai-pandai membagi waktu. Untuk menambah letarasi manajemen waktu dr.Agnes mulai mengikuti pelatihan usaha yang di inisiasi Bank SMBC Indonesia untuk menambah pengetahuannya dalam berbisnis dan pandai mengatur waktu.
Dari Warung Kecil Jadi Toko Online
Contoh keberhasilan nyata lainnya datang dari Siti Aminah, pemilik usaha keripik pisang di Lampung. Sebelum mengikuti pembinaan, usaha Siti masih dijalankan secara tradisional dengan pasar terbatas di lingkungannya. Setelah mendapatkan pelatihan literasi keuangan, ia mulai mengatur pencatatan keuangan dengan rapi, memisahkan uang usaha dan pribadi, serta memahami pentingnya perencanaan modal kerja.
Tidak berhenti di situ, Siti juga mendapat pendampingan digitalisasi. Produk keripiknya dipasarkan melalui media sosial dan marketplace, dengan foto produk yang lebih menarik serta deskripsi yang profesional. Hasilnya, omzet usahanya naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun. “Dulu saya hanya jualan di warung dekat rumah, sekarang sudah bisa kirim ke Jakarta dan Surabaya,” ungkap Siti dengan bangga.
Meningkatkan Daya Saing Lokal
Kisah serupa dialami Eko Prasetyo, perajin batik di Solo. Melalui program pembinaan, Eko belajar strategi branding, penggunaan media sosial, serta memanfaatkan pembayaran digital. Kini, ia mampu menjangkau konsumen dari luar negeri, sekaligus menjaga kelestarian budaya lokal. “Digitalisasi membuka peluang ekspor, meski saya hanya UMKM di daerah,” ujarnya.
UMKM Lebih Tangguh dan Berdaya
Program Daya Bank SMBC Indonesia membuktikan bahwa pendampingan yang tepat dapat memberikan perubahan besar. Literasi keuangan membantu UMKM lebih disiplin dalam mengatur cash flow, sementara digitalisasi memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.
Dengan semakin banyaknya cerita sukses dari UMKM binaan, harapannya semakin banyak pelaku usaha kecil yang terinspirasi untuk terus belajar dan beradaptasi. Sebab, UMKM yang kuat dan berdaya bukan hanya mengangkat ekonomi keluarga, tetapi juga menggerakkan perekonomian nasional. (doe)










