Melalui implementasi sistem ini, Mattel Indonesia mengintegrasikan proses operasional logistik, pengelolaan inventori, hingga pelaporan kepabeanan dalam satu platform. Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas operasional, mempercepat proses bisnis, sekaligus memastikan kepatuhan terhadap regulasi kawasan berikat dan kepabeanan yang berlaku.
BZone juga telah terintegrasi dengan CEISA 4.0 milik Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, sehingga mendukung otomatisasi pelaporan kepabeanan dan pemantauan inventori secara real-time. Integrasi tersebut memungkinkan perusahaan memperoleh data yang lebih akurat, meningkatkan efisiensi proses logistik, serta meminimalkan risiko ketidaksesuaian pelaporan.
Chief Executive Officer (CEO) PT Eka Reka Palakerti Indonesia, Anang Ind Pratama, mengatakan kebutuhan industri manufaktur saat ini telah berkembang, tidak hanya sebatas digitalisasi proses bisnis, tetapi juga integrasi menyeluruh antara operasional perusahaan dan kepatuhan terhadap regulasi pemerintah.
Menurutnya, perusahaan yang beroperasi di kawasan berikat membutuhkan sistem yang mampu mengotomatisasi berbagai proses sekaligus terhubung langsung dengan sistem pemerintah agar aktivitas bisnis berjalan lebih efisien.
“Perusahaan manufaktur, khususnya yang beroperasi di kawasan berikat, membutuhkan sistem yang tidak hanya mampu memenuhi kewajiban regulasi, tetapi juga mengintegrasikan proses operasional secara menyeluruh. BZone kami kembangkan untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui otomatisasi proses, dan terintegrasi dengan sistem pemerintah sehingga perusahaan dapat meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga kepatuhan,” ujar Anang.
Ia menjelaskan, tantangan yang dihadapi Mattel Indonesia juga dialami banyak perusahaan manufaktur berorientasi ekspor yang memanfaatkan fasilitas Kawasan Berikat (Kaber), Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), maupun Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Perubahan sistem pengawasan kepabeanan yang semakin terdigitalisasi menuntut perusahaan memiliki sistem yang mampu menghubungkan aktivitas operasional dengan pelaporan kepabeanan secara real-time.
Anang menilai kepatuhan kini telah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Ketidaksesuaian data maupun pelaporan berpotensi menghambat arus logistik, memperlambat distribusi barang, hingga mengganggu kelancaran operasional perusahaan.
“Implementasi BZone di Mattel Indonesia menunjukkan bahwa solusi teknologi yang dikembangkan di Indonesia mampu memenuhi standar operasional dan kepatuhan yang dibutuhkan perusahaan manufaktur global,” tambahnya.
Sementara itu, Chief Commercial Officer (CCO) PT Eka Reka Palakerti Indonesia, Contardo Satria Gondokusumo, menyebut implementasi BZone di Mattel Indonesia menjadi tonggak penting dalam pengembangan solusi Enterprise Resource Planning (ERP) buatan Indonesia untuk sektor manufaktur.
Menurutnya, setelah lebih dari delapan tahun mendukung transformasi digital berbagai perusahaan manufaktur, kerja sama dengan Mattel Indonesia menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan BZone pada industri yang memiliki proses operasional kompleks dan standar kepatuhan tinggi.
Ke depan, BZone akan terus dikembangkan agar mampu mengikuti perubahan regulasi serta memperluas integrasi proses bisnis, khususnya di bidang logistik dan ekspor-impor. Sistem tersebut juga dirancang untuk memastikan setiap transaksi terdokumentasi secara akurat sehingga mendukung transparansi, efisiensi, dan kepatuhan perusahaan terhadap ketentuan pemerintah.
Dengan digitalisasi yang semakin terintegrasi, implementasi BZone diharapkan dapat menjadi contoh transformasi teknologi bagi perusahaan manufaktur nasional dalam meningkatkan daya saing, memperlancar aktivitas ekspor-impor, sekaligus mendukung ekosistem industri berbasis kepatuhan dan efisiensi operasional.(Dhil/dtk)










