Koranindopos.com – Jakarta – Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin cepat dan berorientasi pada pencapaian target, produktivitas kerap menjadi tolok ukur utama keberhasilan individu maupun organisasi. Namun, di balik tingginya tuntutan tersebut, muncul persoalan yang semakin nyata, mulai dari meningkatnya kelelahan kerja (burnout), hilangnya makna dalam bekerja, hingga menurunnya kesejahteraan psikologis para pekerja.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa produktivitas tidak cukup hanya diukur dari besarnya hasil yang dicapai. Organisasi modern kini menghadapi tantangan yang lebih besar, yakni bagaimana membangun manusia yang mampu bekerja secara optimal, bertumbuh secara sehat, dan memberikan kontribusi yang berkelanjutan.
Berangkat dari kondisi tersebut, praktisi human capital Agus Dwi Handaya memperkenalkan PeopleMath, sebuah buku yang menawarkan cara pandang baru dalam memahami produktivitas melalui pendekatan yang berpusat pada manusia.
Buku yang telah lebih dahulu beredar di pasaran itu resmi diperkenalkan kepada publik melalui launching ceremony pada 3 Juli 2026 di Jakarta. Kehadirannya menjadi tonggak lahirnya sebuah kerangka berpikir baru yang memadukan logika matematika dengan ilmu pengembangan sumber daya manusia.
Antusiasme masyarakat terhadap buku tersebut pun cukup tinggi. Dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu sejak diterbitkan, sebanyak 3.500 eksemplar cetakan pertama telah habis terjual. Tingginya permintaan membuat penerbit segera menyiapkan cetakan kedua sebanyak sekitar 2.000 eksemplar yang akan disertai label National Best Seller.
Agus menjelaskan, produktivitas sejati tidak dibangun semata-mata melalui target, sistem, maupun kemampuan teknis. Menurutnya, keberhasilan seseorang lahir dari proses panjang pembentukan manusia yang dipengaruhi oleh pengetahuan, keterampilan, karakter, motivasi, keyakinan, pengalaman, lingkungan, hingga kepemimpinan.
“Bila kita salah membaca manusia, kita hampir pasti salah mengelola produktivitas. Produktivitas sejati tidak hanya dibangun dari target, sistem, atau kemampuan teknis, tetapi dari manusia yang terus berkembang melalui pengetahuan, keterampilan, karakter, motivasi, keyakinan, lingkungan, dan kepemimpinan yang tepat,” ujar Agus.
Ia menegaskan, PeopleMath bukanlah upaya mengubah manusia menjadi sekadar angka atau rumus matematika. Sebaliknya, logika persamaan digunakan sebagai bahasa sederhana untuk membantu memahami kompleksitas manusia secara lebih utuh.
Melalui pendekatan tersebut, berbagai faktor pembentuk kualitas manusia dapat dipetakan secara sistematis, mulai dari fondasi kemampuan, faktor pendorong produktivitas, hingga elemen yang dapat memperkuat maupun menghambat perkembangan seseorang.
Menurut Agus, kemampuan teknis seperti pengetahuan dan keterampilan memang menjadi fondasi penting dalam menghasilkan produktivitas. Namun, faktor lain seperti karakter, motivasi, keyakinan (belief), pengalaman, kepemimpinan, sistem organisasi, teknologi, hingga kondisi kesehatan juga memiliki pengaruh besar terhadap kualitas kinerja seseorang.
Dalam buku tersebut, Agus memperkenalkan sebanyak 21 rumus PeopleMath, yang terdiri atas dua rumus inti dan 19 rumus turunan. Seluruh rumus tersebut dirancang sebagai kerangka berpikir untuk memahami bagaimana manusia dapat dibangun sehingga produktivitas yang dihasilkan tidak hanya terlihat dari angka, tetapi juga memberikan dampak terhadap kualitas hidup, hubungan sosial, serta keberlanjutan organisasi.
Gagasan PeopleMath lahir dari perjalanan panjang Agus di bidang human capital. Kariernya dimulai pada 1997 di Bank Exim Medan sebelum kemudian terlibat dalam transformasi besar merger yang melahirkan Bank Mandiri pada tahun 2000. Pengalaman tersebut menjadi salah satu laboratorium utama dalam membentuk konsep PeopleMath.
Saat buku ini diterbitkan, Agus menjabat sebagai Direktur Human Capital & Compliance Bank Mandiri sekaligus Managing Director Human Capital PT Danantara Asset Management. Ia juga aktif sebagai Ketua Forum Human Capital Indonesia periode 2024–2027, Ketua BUMN School of Excellence, serta Ketua Iluni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Agus mengungkapkan bahwa PeopleMath dibangun dari dua pengalaman kehidupan yang sangat berbeda.
Pengalaman pertama berasal dari masa remajanya di lingkungan pinggiran Kota Medan yang penuh tantangan. Dari sana ia melihat bagaimana karakter, loyalitas, keberanian, solidaritas, dan daya juang seseorang dapat terbentuk melalui lingkungan, disiplin, nilai, dan kepemimpinan.
Sementara pengalaman kedua diperoleh dari proses transformasi organisasi besar di sektor perbankan nasional. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana strategi bisnis, budaya organisasi, tata kelola, meritokrasi, teknologi, dan kepemimpinan mampu membentuk manusia yang memiliki semangat continuous improvement dan keberanian menghadapi perubahan.
“Dari dua pengalaman yang sangat berbeda tersebut, saya menemukan satu pola yang sama, yaitu manusia dapat dibentuk secara dahsyat. Lingkungan bisa berbeda, tantangan bisa berubah, tetapi ketika belief, pengalaman, disiplin, sistem, kepemimpinan, dan tanggung jawab pribadi saling menguatkan, manusia mampu menghasilkan perubahan yang luar biasa,” katanya.
Dalam PeopleMath, Agus juga memperkenalkan konsep kepemimpinan 3N Leader, yaitu Nagih, Nata, dan Nuntun.
Nagih menggambarkan pentingnya menetapkan standar dan target yang jelas. Nata menekankan pentingnya membangun sistem serta tata kelola yang baik. Sementara Nuntun menunjukkan peran pemimpin dalam membimbing setiap individu agar terus berkembang.
Konsep tersebut dipadukan dengan pendekatan 3N Individu, yakni Nyerap, Ngulang, dan Ngerefleksi, yang menjadi proses pembelajaran seseorang dalam membangun kompetensi sekaligus karakter.
Melalui pendekatan tersebut, Agus menilai produktivitas yang sehat hanya dapat tercipta apabila organisasi mampu menyeimbangkan tuntutan kinerja, sistem yang mendukung, serta kepemimpinan yang berorientasi pada pengembangan manusia.
PeopleMath memadukan perspektif manajemen, psikologi, neuroscience, serta pengalaman praktis ke dalam sebuah kerangka yang aplikatif. Buku ini mengajak organisasi untuk tidak hanya mengejar produktivitas tinggi, tetapi juga membangun manusia yang berkualitas, sehingga keberhasilan tidak hanya tercermin dalam angka, melainkan juga pada kualitas kehidupan, hubungan antarmanusia, dan kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat.
Sebagaimana ditegaskan Agus, PeopleMath hadir sebagai jalan baru untuk membangun manusia unggul tanpa kehilangan makna, kebahagiaan, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam bekerja, sekaligus menjadi fondasi menuju peradaban yang lebih baik.(dhil)










