koranindopos.com – Sekolah sering terlalu sibuk membicarakan perangkat ajar, asesmen, teknologi digital, dan pelatihan. Semua itu penting. Namun, transformasi pembelajaran kerap berhenti di ruang rapat ketika cara berpikir guru tidak ikut berubah. Pembelajaran Mendalam (PM) tidak akan tumbuh hanya karena guru menerima modul baru. Ia memerlukan guru yang percaya bahwa dirinya masih dapat terus belajar, memperbaiki praktik pedagogis di kelas, meningkatkan kauliatas proses pembelajaran tanpa henti, bahkan ketika pengalaman lamapun dirasa sudah cukup berhasil. Artinya, guru harus tetap bertumbuh cara berfikirnya.
Di sinilah growth mindset menemukan maknanya. Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang selesai, melainkan dapat berkembang melalui usaha yang tepat, strategi yang lebih baik, umpan balik, disiplin, dan dukungan lingkungan. Lawannya ialah fixed mindset, yakni anggapan bahwa kecerdasan, bakat mengajar, atau kemampuan siswa pada dasarnya sudah tetap sebagai pembawaan dari lahir. Dalam cara pandang ini, kegagalan mudah dibaca sebagai bukti ketidakmampuan; tantangan dianggap ancaman; kritik dipersepsikan sebagai serangan.
Perbedaan dua pola pikir itu tampak nyata di sekolah. Guru dengan growth mindset tidak malu mengakui bahwa sebuah pembelajaran kurang berhasil. Ia tidak berhenti pada keluhan bahwa siswa pasif, materi terlalu padat, fasilitas terbatas, atau orang tua kurang mendukung. Ia bertanya: bagian mana dari rancangan belajar saya yang belum mengundang rasa ingin tahu siswa? Pengalaman belajar apa yang perlu diubah agar anak sungguh memahami, mampu mengaplikasikan, lalu merefleksikan pengetahuannya? Pertanyaan demikian membuka jalan perbaikan. Perubahan yang tahan lama selalu dimulai dari keberanian meninjau kembali keyakinan yang selama ini dianggap paling benar dengan jujur.
PM menuntut keberanian keluar dari kebiasaan lama. Guru tidak lagi cukup menjadi penyampai isi buku, melainkan perancang pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Kelas perlu menjadi ruang aman untuk bertanya, mencoba, keliru, memperbaiki, dan menemukan. Tugas guru pun meluas: membangun lingkungan belajar, memilih praktik pedagogis yang relevan, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menghadirkan mitra belajar dari dalam dan luar sekolah. Semua itu sulit dilakukan oleh guru yang merasa cara mengajarnya tidak perlu disentuh.
Fixed mindset membawa bahaya yang lebih serius daripada sekadar penolakan terhadap perubahan. Guru yang yakin bahwa “anak pintar memang dari sananya pintar” cenderung cepat memberi label. Siswa yang lambat dipahami sebagai lemah; siswa yang banyak bertanya dianggap merepotkan; siswa yang belum berhasil dipandang tidak berbakat. Akibatnya, guru menurunkan harapan, memberi tugas yang kurang menantang, dan tanpa sadar mempersempit masa depan anak. Kelas berubah menjadi tempat mengonfirmasi perbedaan, bukan ruang memperluas kemungkinan.
Pada diri guru, fixed mindset juga melahirkan sikap defensif. Pelatihan dipandang sebagai kewajiban administratif, bukan kesempatan bertumbuh. Observasi kelas dianggap mencari kesalahan. Teknologi ditolak karena dinilai merepotkan. Refleksi setelah mengajar diabaikan sebab guru merasa pengalaman puluhan tahun telah menjawab semuanya. Padahal, pengalaman yang tidak direfleksikan hanya akan mengulang dirinya sendiri. Sekolah akhirnya tampak bergerak karena banyak program, tetapi sesungguhnya berputar pada pola pembelajaran lama.
Karena itu, perubahan harus dimulai dari budaya profesional guru. Kepala sekolah dan pengawas perlu membangun percakapan yang tidak menghukum. Guru perlu diberi kesempatan mengamati praktik rekan sejawat, mencoba strategi baru dalam skala kecil, menerima umpan balik, lalu membahasnya secara terbuka. Kesalahan pedagogis tidak boleh disembunyikan, tetapi dijadikan bahan belajar bersama. Guru yang berani berkata, “Cara saya belum efektif; saya akan mencoba lagi,” sesungguhnya sedang memberi teladan paling kuat kepada siswanya. Ini semua hanya terjadi pada guru yang memiliki cara berfikir bertumbuh (growth mindset)
Lalu bagaimana mengubah siswa yang telah telanjur memiliki fixed mindset? Pertama, ubah bahasa di kelas. Jangan memuji anak semata-mata karena ia “pintar”. Apresiasi prosesnya: ketekunannya, strategi yang ia pilih, keberaniannya bertanya, dan kesediaannya memperbaiki jawaban. Pujian yang tepat mengajarkan bahwa kemajuan lahir dari proses, bukan dari label. Ketika siswa gagal, guru perlu menambahkan kata sederhana tetapi penting: “belum”. Nilai rendah bukan berarti tidak mampu; itu tanda bahwa pemahaman belum utuh dan perlu dibangun kembali.
Kedua, hadirkan tugas yang menantang tetapi bertahap. Siswa yang selalu diberi soal terlalu mudah akan takut menghadapi kesulitan. Sebaliknya, tugas yang terlalu berat tanpa penyangga hanya menumbuhkan frustrasi. Guru perlu merancang tangga belajar: dari contoh, latihan terbimbing, penerapan pada situasi nyata, hingga refleksi. Dengan demikian, siswa mengalami sendiri bahwa kemampuan tumbuh ketika mereka tekun berlatih dan memperoleh bantuan pada saat diperlukan.
Ketiga, jadikan refleksi sebagai kebiasaan. Di akhir pembelajaran, siswa tidak hanya ditanya, “Berapa jawaban yang benar?” Mereka perlu diajak menjawab, “Apa yang semula belum saya pahami? Strategi apa yang membantu saya? Kesalahan apa yang mengajarkan sesuatu? Apa langkah saya berikutnya?” Refleksi membuat siswa menyadari proses berpikirnya. Dari sanalah lahir kemampuan belajar bagaimana belajar, sebuah bekal penting untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Transformasi PM pada akhirnya bukan perkara mengganti istilah atau memperbanyak dokumen. Ia adalah perubahan keyakinan: bahwa guru dapat terus tumbuh dan setiap anak dapat berkembang. Growth mindset adalah gerbangnya. Ketika guru memasuki gerbang itu lebih dahulu, mereka tidak sekadar mengajarkan materi, melainkan menyalakan keberanian siswa untuk terus belajar, mencoba, dan menjadi lebih baik. Semoga begitu!
PENULIS: Prof. Suyanto, Ph.D.
(Ketua Dewan Pendidikan Nasional Dikdasmen; Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Yogyakarta)










