Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Opini

“Growth Mindset” Gerbang Transformasi Pembelajaran Mendalam

Editor : Anggoro oleh Editor : Anggoro
6 Juli 2026
in Opini
A A
0
“Echo Chamber”, Pengganggu Pembelajaran Mendalam?

Prof. Suyanto, Ph.D.

Share on FacebookShare on Twitter

koranindopos.com – Sekolah sering terlalu sibuk membicarakan perangkat ajar, asesmen, teknologi digital, dan pelatihan. Semua itu penting. Namun, transformasi pembelajaran kerap berhenti di ruang rapat ketika cara berpikir guru tidak ikut berubah. Pembelajaran Mendalam (PM) tidak akan tumbuh hanya karena guru menerima modul baru. Ia memerlukan guru yang percaya bahwa dirinya masih dapat terus belajar, memperbaiki praktik pedagogis di kelas, meningkatkan kauliatas proses pembelajaran tanpa henti,  bahkan ketika pengalaman lamapun dirasa sudah cukup berhasil. Artinya, guru harus tetap bertumbuh cara berfikirnya.

Di sinilah growth mindset menemukan maknanya. Growth mindset adalah keyakinan bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang selesai, melainkan dapat berkembang melalui usaha yang tepat, strategi yang lebih baik, umpan balik, disiplin, dan dukungan lingkungan. Lawannya ialah fixed mindset, yakni anggapan bahwa kecerdasan, bakat mengajar, atau kemampuan siswa pada dasarnya sudah tetap sebagai pembawaan dari lahir. Dalam cara pandang ini, kegagalan mudah dibaca sebagai bukti ketidakmampuan; tantangan dianggap ancaman; kritik dipersepsikan sebagai serangan.

Perbedaan dua pola pikir itu tampak nyata di sekolah. Guru dengan growth mindset tidak malu mengakui bahwa sebuah pembelajaran kurang berhasil. Ia tidak berhenti pada keluhan bahwa siswa pasif, materi terlalu padat, fasilitas terbatas, atau orang tua kurang mendukung. Ia bertanya: bagian mana dari rancangan belajar saya yang belum mengundang rasa ingin tahu siswa? Pengalaman belajar apa yang perlu diubah agar anak sungguh memahami, mampu mengaplikasikan, lalu merefleksikan pengetahuannya? Pertanyaan demikian membuka jalan perbaikan. Perubahan yang tahan lama selalu dimulai dari keberanian meninjau kembali keyakinan yang selama ini dianggap paling benar dengan jujur.

PM menuntut keberanian keluar dari kebiasaan lama. Guru tidak lagi cukup menjadi penyampai isi buku, melainkan perancang pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Kelas perlu menjadi ruang aman untuk bertanya, mencoba, keliru, memperbaiki, dan menemukan. Tugas guru pun meluas: membangun lingkungan belajar, memilih praktik pedagogis yang relevan, memanfaatkan teknologi secara bijak, serta menghadirkan mitra belajar dari dalam dan luar sekolah. Semua itu sulit dilakukan oleh guru yang merasa cara mengajarnya tidak perlu disentuh.

Artikel Terkait

Memahami Makna Perubahan Skor TKA SMA/SMK 2026

Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

Fixed mindset membawa bahaya yang lebih serius daripada sekadar penolakan terhadap perubahan. Guru yang yakin bahwa “anak pintar memang dari sananya pintar” cenderung cepat memberi label. Siswa yang lambat dipahami sebagai lemah; siswa yang banyak bertanya dianggap merepotkan; siswa yang belum berhasil dipandang tidak berbakat. Akibatnya, guru menurunkan harapan, memberi tugas yang kurang menantang, dan tanpa sadar mempersempit masa depan anak. Kelas berubah menjadi tempat mengonfirmasi perbedaan, bukan ruang memperluas kemungkinan.

Pada diri guru, fixed mindset juga melahirkan sikap defensif. Pelatihan dipandang sebagai kewajiban administratif, bukan kesempatan bertumbuh. Observasi kelas dianggap mencari kesalahan. Teknologi ditolak karena dinilai merepotkan. Refleksi setelah mengajar diabaikan sebab guru merasa pengalaman puluhan tahun telah menjawab semuanya. Padahal, pengalaman yang tidak direfleksikan hanya akan mengulang dirinya sendiri. Sekolah akhirnya tampak bergerak karena banyak program, tetapi sesungguhnya berputar pada pola pembelajaran lama.

Karena itu, perubahan harus dimulai dari budaya profesional guru. Kepala sekolah dan pengawas perlu membangun percakapan yang tidak menghukum. Guru perlu diberi kesempatan mengamati praktik rekan sejawat, mencoba strategi baru dalam skala kecil, menerima umpan balik, lalu membahasnya secara terbuka. Kesalahan pedagogis tidak boleh disembunyikan, tetapi dijadikan bahan belajar bersama. Guru yang berani berkata, “Cara saya belum efektif; saya akan mencoba lagi,” sesungguhnya sedang memberi teladan paling kuat kepada siswanya. Ini semua hanya terjadi pada guru yang memiliki cara berfikir bertumbuh (growth mindset)

Lalu bagaimana mengubah siswa yang telah telanjur memiliki fixed mindset? Pertama, ubah bahasa di kelas. Jangan memuji anak semata-mata karena ia “pintar”. Apresiasi prosesnya: ketekunannya, strategi yang ia pilih, keberaniannya bertanya, dan kesediaannya memperbaiki jawaban. Pujian yang tepat mengajarkan bahwa kemajuan lahir dari proses, bukan dari label. Ketika siswa gagal, guru perlu menambahkan kata sederhana tetapi penting: “belum”. Nilai rendah bukan berarti tidak mampu; itu tanda bahwa pemahaman belum utuh dan perlu dibangun kembali.

Kedua, hadirkan tugas yang menantang tetapi bertahap. Siswa yang selalu diberi soal terlalu mudah akan takut menghadapi kesulitan. Sebaliknya, tugas yang terlalu berat tanpa penyangga hanya menumbuhkan frustrasi. Guru perlu merancang tangga belajar: dari contoh, latihan terbimbing, penerapan pada situasi nyata, hingga refleksi. Dengan demikian, siswa mengalami sendiri bahwa kemampuan tumbuh ketika mereka tekun berlatih dan memperoleh bantuan pada saat diperlukan.

Ketiga, jadikan refleksi sebagai kebiasaan. Di akhir pembelajaran, siswa tidak hanya ditanya, “Berapa jawaban yang benar?” Mereka perlu diajak menjawab, “Apa yang semula belum saya pahami? Strategi apa yang membantu saya? Kesalahan apa yang mengajarkan sesuatu? Apa langkah saya berikutnya?” Refleksi membuat siswa menyadari proses berpikirnya. Dari sanalah lahir kemampuan belajar bagaimana belajar, sebuah bekal penting untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Transformasi PM pada akhirnya bukan perkara mengganti istilah atau memperbanyak dokumen. Ia adalah perubahan keyakinan: bahwa guru dapat terus tumbuh dan setiap anak dapat berkembang. Growth mindset adalah gerbangnya. Ketika guru memasuki gerbang itu lebih dahulu, mereka tidak sekadar mengajarkan materi, melainkan menyalakan keberanian siswa untuk terus belajar, mencoba, dan menjadi lebih baik. Semoga begitu!

 

PENULIS:  Prof. Suyanto, Ph.D. 
(Ketua Dewan Pendidikan Nasional Dikdasmen; Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Negeri Yogyakarta)

 

Topik: Growth MindsetGuruOpiniProf. Suyanto

TerkaitBerita

Memahami Makna Perubahan Skor TKA SMA/SMK 2026
Opini

Memahami Makna Perubahan Skor TKA SMA/SMK 2026

oleh Editor : Anggoro
21 Oktober 2026
Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning
Opini

Inflasi Nilai, Kenaikan Kelas Otomatis, dan Koreksi Deep Learning

oleh Editor : Anggoro
18 Oktober 2026
Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik
Opini

Skor Baru TKA untuk Membaca Kemampuan Murid Lebih Baik

oleh Editor : Anggoro
10 Oktober 2026
Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan
Opini

Membawa Pulang Standar Dunia ke Sekolah Menengah Kejuruan

oleh Editor : Anggoro
28 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Direkomendasikan

Jakarta Financial Festival 2026 Dorong Pedagang Pasar Manfaatkan Layanan Keuangan

Jakarta Financial Festival 2026 Dorong Pedagang Pasar Manfaatkan Layanan Keuangan

23 Oktober 2026
WCCE 2026 di Jakarta: Ekonomi Kreatif Indonesia Serap 27,4 Juta Tenaga Kerja

WCCE 2026 di Jakarta: Ekonomi Kreatif Indonesia Serap 27,4 Juta Tenaga Kerja

23 Oktober 2026
Bee Frontier dan Bee Eclipse: Amazon Rilis Perangkat AI Pintar Pengelola Waktu dan Ingatan

Bee Frontier dan Bee Eclipse: Amazon Rilis Perangkat AI Pintar Pengelola Waktu dan Ingatan

23 Oktober 2026
Menjelajah Nusantara Tanpa Cemas, Chery Boyong Deretan Kendaraan Listrik Berdaya Jangkau Panjang

Menjelajah Nusantara Tanpa Cemas, Chery Boyong Deretan Kendaraan Listrik Berdaya Jangkau Panjang

23 Oktober 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    5043 shares
    Share 2017 Tweet 1261
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    1090 shares
    Share 436 Tweet 273
  • Singapura Ancam Tutup Bisnis Tujuh Perusahaan Dalang Karhutla

    320 shares
    Share 128 Tweet 80
  • The Pizza Company Buka Gerai Pertama di Jakarta Utara, Bidik Pasar Kelapa Gading

    315 shares
    Share 126 Tweet 79
  • MU Hanya Dua Kali Menang, Nasib Michael Carrick di Ujung Tanduk

    312 shares
    Share 125 Tweet 78
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya