
JAKARTA, koranindopos.com – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasmita menuntut anak buahnya agar meningkatkan kinerja. Termasuk aktif terlibat dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional yang selama pandemi Covid-19 ikut terdampak. Pesan itu disampaikannya saat melantik sejumlah 17 pejabat pimpinan tinggi pratama dan pejabat fungsional ahli utama di lingkungan Kementerian Perindustrian (Kemenperin).
Dari 17 pejabat tersebut, 15 pejabat di antaranya setingkat eselon II serta dua pejabat fungsional ahli utama untuk meningkatkan kinerja jajaran Kemenperin. Agus melakukan penyusunan kembali jajarannya dalam rangka percepatan pelaksanaan kegiatan dan peningkatan produktivitas kinerja pada tahun ini. Hal itu merespons arahan Presiden Jokowi dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional. “Sehingga Kemenperin perlu mengambil langkah-langkah konkret, termasuk dalam percepatan pelaksanaan anggaran,” tegas Agus dalam rilis yang diterima koranindopos.com, Sabtu (22/1).
Agus mengapresiasi kinerja jajaran Kemenperin yang dibuktikan dengan beberapa capaian prestasi. Di antaranya opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas audit laporan keuangan dari BPK sebanyak 13 kali berturut-turut sejak tahun 2008, 13 kali meraih Penghargaan Standar Tertinggi Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga, dan Juara I BMN Award dari Kementerian Keuangan. “Juga peringkat utama kategori kemitraan tingkat pusat pada Anugerah KPPU Award 2021 dan Predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani serta Wilayah Bebas Korupsi dalam Penganugerahan Zona Integritas 2021,” jelas dia.
Politisi Golkar itu menuntut jajaran Kemenperin untuk mempertahankan serta meningkatkan efektivitas kinerja dalam rangka membangun sektor industri manufaktur yang berdaulat, mandiri, berdaya saing, dan inklusif. Sektor industri manufaktur dipandang sebagai pendorong utama bagi Indonesia untuk keluar dari resesi yang merupakan dampak pandemi. “Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator, antara lain investasi, ekspor, impor, kontribusi pajak, kontribusi terhadap PDB, tingkat pertumbuhan, dan ketenagakerjaan,” ujar Agus.
Agus memaparkan tantangan-tantangan bagi industri manufaktur di Indonesia. Antara lain kesulitan bagi IKM untuk bermitra dengan industri besar dan masuk dalam Global Value Chain. Selain itu, juga belum dimanfaatkannya instrumen fiskal secara optimal untuk meningkatkan daya saing industri, dan masih enggannya pelaku pelaku industri untuk masuk ke Kawasan Industri Halal. “Kesiapan Kawasan Industri Halal, disrupsi dalam supply chain, serta perlu upaya mitigasi pada sektor industri terhadap risiko belum berakhirnya pandemi Covid-19,” tandas Agus.(hai)










