Koranindopos.com, Jakarta – Sroja Warna Indonesia (SWI) memamerkan koleksi terbaru mereka dalam menyambut Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Melalui gelaran prestisius Garis Poetih yang diinisiasi oleh Ivan Gunawan, SWI membawa visi kebersamaan dalam keberagaman. Perhelatan yang berlangsung di City Hall, Pondok Indah Mall (PIM) 3, Jakarta Selatan ini menjadi pusat perhatian para pecinta fashion pada Jumat, 30 Januari 2026.
Sebagai entitas yang menaungi tiga merek besar seperti Kudung, Blee, dan Sroja, SWI merancang peragaan busana ini sebagai sebuah narasi perjalanan. Penonton diajak menyelami transisi suasana, mulai dari ketenangan ibadah di bulan suci hingga kemeriahan hari kemenangan.
Koleksi ini tidak hanya mengejar estetika, tetapi juga menjawab kebutuhan fungsional masyarakat Indonesia yang dinamis selama momen Lebaran.
Panggung dibuka oleh Kudung yang membawakan koleksi bertajuk Ayana. Nama ini diambil dari makna “jalan menuju cahaya”, sebuah representasi visual dari kesederhanaan dan kedamaian selama bulan Ramadan. Dengan palet warna yang menenangkan seperti krem, putih, beige, hingga ivory, Ayana menghadirkan 11 tampilan busana wanita yang menggabungkan material premium mulai dari silk bridal hingga brokat yang elegan namun tetap terasa ringan.

Memasuki babak kedua, suasana panggung berubah menjadi lebih enerjik dengan kehadiran Blee melalui koleksi Haven. Mengambil inspirasi dari fenomena mobilitas dan perjalanan mudik, Haven yang berarti “tempat teraman” menawarkan gaya streetwear modern untuk pria.
Penggunaan material seperti katun, twill, dan fleece pada 10 tampilan yang dihadirkan memberikan kesan praktis tanpa menghilangkan karakter maskulin yang kuat bagi penggunanya.
Puncak peragaan busana ditutup dengan kemilau dari Sroja yang membawa koleksi bertajuk RUH. Koleksi ini menjadi representasi puncak kemenangan di hari Lebaran, di mana keanggunan dipadukan dengan detail yang rumit. Sroja berhasil mengemas kemewahan dalam busana yang tetap sopan, menutup rangkaian narasi perjalanan Ramadan-Lebaran SWI dengan kesan yang mendalam dan penuh makna bagi para tamu undangan yang hadir.
Keikutsertaan SWI dalam ajang Garis Poetih tahun ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi mereka di industri modest wear. Menghadapi kompetisi dari berbagai jenama besar tanah air, SWI menunjukkan bahwa inovasi material dan pemahaman terhadap gaya hidup konsumen adalah kunci utama.
Setiap helai pakaian yang ditampilkan bukan sekadar tren, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat dalam merayakan hari besar.
Ivan Gunawan selaku inisiator Garis Poetih mengapresiasi kehadiran koleksi yang mampu menerjemahkan tema tahunan menjadi busana siap pakai yang berkelas. Acara yang berlangsung selama tiga hari, 29-31 Januari 2026 ini, memang dirancang sebagai wadah bagi desainer dan merek lokal untuk memamerkan kreativitas terbaik mereka sebelum musim belanja Lebaran tiba. SWI sukses mencuri perhatian dengan konsistensi kualitas pada tiap lini mereknya.
Respon positif juga datang dari para pengamat mode yang hadir di PIM 3. Mereka menilai transisi dari gaya chic minimalis Kudung, gaya urban Blee, hingga kemewahan Sroja menciptakan harmoni yang lengkap untuk seluruh anggota keluarga. Hal ini selaras dengan misi Sroja Warna Indonesia untuk menjadi solusi fashion bagi masyarakat yang mencari keseimbangan antara kenyamanan dan gaya selama masa perayaan.
Melalui acara ini, SWI membuktikan bahwa setiap perjalanan spiritual di bulan Ramadan bisa diiringi dengan penampilan yang merepresentasikan diri. Dengan pilihan material yang beragam mulai dari semi wool hingga poetry, koleksi ini diprediksi akan menjadi tren utama di pasar fashion muslim tahun 2026.
Kesuksesan di panggung Garis Poetih menjadi awal yang manis bagi ekspansi pasar mereka menjelang Idul Fitri mendatang.
Secara keseluruhan, “Garis Poetih” tahun ini bukan hanya sekadar pameran busana, melainkan momentum bagi Sroja Warna Indonesia untuk merayakan nilai kebersamaan. (Ris/Hend)










