Koranindopos.com, Jakarta – Kehadiran dua musisi papan atas Indonesia, Piyu dari Padi Reborn dan Doadibadai Hollo atau Badai, menjadi sorotan dalam peresmian kembali BUNTU Coffee, Kitchen & Space di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (30/09/2025). Momen ini bukan hanya sekadar pembukaan kafe, melainkan juga simbol optimisme bagi ruang kreatif di tengah masyarakat urban.
Piyu, yang pertama kali menginjakkan kaki di kafe tersebut, mengaku terkesan dengan atmosfer yang ditawarkan. Menurutnya, tata letak dan desain interior BUNTU Coffee menghadirkan kesan unik yang berbeda dari kafe kebanyakan. Hal itu, kata dia, menumbuhkan rasa nyaman sejak awal memasuki ruangan.
“Terus terang aja sih kita surprise ya. Baru pertama kali rame langsung dan ini kita lihat, eh, apa namanya, layout-nya, layout-nya sih oke banget,” ujar Piyu.
Musisi berusia 52 tahun itu menambahkan, pengalaman menikmati ruang di BUNTU Coffee semakin memikat setelah ia melihat penataan lantai atas. Ia menilai kesan modern dan rapi membuat pengunjung betah untuk berlama-lama. “Habis itu tiba-tiba kita masuk langsung ke atas, itu jadi keren. Oke. Oke banget gitu,” sambungnya.
Hal serupa diungkapkan oleh Badai. Mantan kibordis Kerispatih ini menyebut bahwa BUNTU Coffee memiliki desain yang berbeda dari banyak kafe di sekitarnya. Sebagai pecinta kopi dan penikmat suasana nongkrong, ia merasakan keistimewaan tersendiri saat pertama kali berkunjung.

“Karena saya juga nongkrongnya rata-rata memang suka yang di tempat-tempat yang memang tempat nongkrong. Kan banyak banget tempat kopi di sini, tapi ketika masuk di sini, eh, juga didesainnya juga keren banget,” ungkap Badai.
Tidak berhenti pada desain, Badai menaruh harapan besar agar BUNTU Coffee menjadi wadah bagi para pelaku kreatif, terutama musisi muda. Ia meyakini, keberadaan tempat nongkrong semacam ini bisa menjadi panggung alternatif yang melahirkan karya-karya baru.
“Iya, justru saya berharap Kopi Buntu bisa jadi tempat tongkrongan industri kreatif juga ya. Karena musisi-musisi kan memang di zaman sekarang tuh coffee shop menjadi tempat nongkrong yang paling enak untuk mereka bisa berkarya,” tuturnya.
Visi itu diperjelas dengan harapannya agar BUNTU Coffee berkembang lebih dari sekadar kafe. “Mudah-mudahan Kopi Buntu juga bisa, bukan hanya sekedar menjadi kedai kopi, tapi menjadi kedai musik, wadah karya cipta. Mudah-mudahan akan ada banyak musisi yang lahir dari sini juga, kan bisa aja,” pungkasnya.
Piyu turut menyetujui pandangan tersebut. Baginya, BUNTU Coffee adalah contoh nyata bagaimana sebuah usaha kecil dan menengah dapat bertransformasi menjadi ruang yang tidak hanya menjual produk, melainkan juga nilai kreatif. Hal itu sejalan dengan tren industri UKM kreatif yang terus berkembang di Indonesia.
Sementara itu, alasan di balik kehadiran Piyu dan Badai di acara ini ternyata cukup personal. Vicky Vero, pemilik BUNTU Coffee, mengungkapkan bahwa undangan tersebut berakar dari nostalgia. Lagu-lagu ciptaan Piyu dan Badai telah menemani masa mudanya, sehingga ia ingin menghadirkan mereka di momen penting ini.
“Alasannya, karena dulu saya angkatan apa teh ya? Angkatan milenial. Jadi, mmm, siapa ya? Kok pengennya denger lagu-lagu yang angkatan saya gitu kan,” ungkap Vicky Vero.
Undangan kepada dua musisi itu pun terjalin secara alami melalui jaringan pertemanan. Vicky menyebut nama Badai bahkan sudah lekat dengan musisi Bojes and Friends yang kerap tampil di kafenya. Dengan demikian, kehadiran mereka seolah menjadi kepingan nostalgia yang hidup kembali.
Lebih menarik lagi, Piyu dan Badai ternyata bukan hanya sekadar tamu, melainkan juga penikmat kopi sejati. Piyu bahkan mengaku dirinya memiliki latar belakang sebagai barista bersertifikat dan sempat mengelola kedai kopi sendiri di Yogyakarta. Sementara Badai lebih menyukai jenis kopi Robusta yang dipadukan dengan susu, ketimbang kopi dengan tingkat keasaman tinggi.
Kedekatan keduanya dengan dunia kopi melengkapi filosofi BUNTU Coffee sebagai rumah kedua bagi semua kalangan. Dengan semangat nostalgia, musik, dan aroma kopi yang menyatu, kafe ini diharapkan mampu menjadi ruang inspiratif bagi siapa saja yang datang. (Brg/Hend)










