Rabu, 9 September 2026
  • Masuk
Indopos
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Indopos
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
Home Nasional

Rentetan Bencana Uji Indonesia, Kesiapsiagaan Harus Jadi Prioritas

Editor : Affandy oleh Editor : Affandy
9 September 2026
in Nasional
A A
0
Rentetan Bencana Uji Indonesia, Kesiapsiagaan Harus Jadi Prioritas

Foto: dok. istimewa

Share on FacebookShare on Twitter

Koranindopos.com – Jakarta — Indonesia tengah menghadapi rentetan bencana dalam sekitar satu bulan terakhir. Sejumlah bencana besar terjadi silih berganti, mulai dari gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan hingga Papua, hingga erupsi sejumlah gunung api.

Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi salah satu bencana terbaru yang berdampak luas. Abu vulkanik bahkan menyebar ke sejumlah wilayah dan mengganggu aktivitas masyarakat serta transportasi.

Presiden Prabowo Subianto mengatakan, rangkaian bencana tersebut merupakan konsekuensi dari kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan cincin api atau Ring of Fire.

Menurut Prabowo, kondisi tersebut membuat Indonesia harus memiliki kesiapsiagaan yang kuat dan dilakukan setiap saat, bukan hanya ketika bencana sudah terjadi.

Artikel Terkait

Menhut Segel Lahan Bekas Karhutla di Kalbar yang Mulai Ditanami Sawit

Disorot Publik, Kepala BPS Mutakhirkan DTSEN Anggota DPR RI Eva Stevany Rataba Jadi Dapil 10

Bandara Soetta Kembali Beroperasi, Layani 896 Penerbangan Hari Ini

“Ini adalah takdir kita. Negara yang berada di lingkaran api the ring of fire. Jadi ini membawa kita untuk kita harus siap menghadapi keadaan seperti ini setiap saat,” ujar Prabowo, Senin (7/9/2026) siang.

Rentetan bencana yang terjadi menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan tidak cukup hanya dengan memiliki peralatan maupun sistem pemantauan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan, kesiapsiagaan harus diukur dari kemampuan seluruh sistem untuk bergerak ketika ancaman bencana terdeteksi.

Menurut Berton, salah satu hal penting yang perlu diperkuat adalah mengubah peringatan dini menjadi tindakan nyata sebelum dampak bencana terjadi.

“Harus memastikan peringatan dini benar-benar menjadi tindakan. Karena kita sudah semakin kuat dalam pemantauan dan penyediaan sistem peringatan dini,” kata Berton kepada Kompas.com, Senin.

Menurutnya, tantangan yang masih dihadapi adalah memastikan masyarakat dan pemerintah daerah memahami langkah yang harus dilakukan setelah menerima peringatan.

Sistem peringatan dini tidak boleh berhenti hanya pada penyampaian informasi mengenai potensi bahaya. Informasi tersebut harus segera diterjemahkan menjadi keputusan dan tindakan di lapangan.

“Peringatan dini harus menjadi keputusan dan tindakan sebelum dampak terjadi. Ini juga menjadi fokus BNPB melalui penguatan aksi merespons peringatan dini,” ujarnya.

Penguatan kesiapsiagaan juga membutuhkan kemampuan mendeteksi ancaman sedini mungkin.

Sekretaris Utama sekaligus Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto mengatakan, deteksi dini menjadi salah satu aspek penting yang perlu terus ditingkatkan.

Kemampuan mendeteksi potensi bencana sejak awal memberikan waktu yang lebih panjang bagi pemerintah maupun masyarakat untuk mengambil langkah antisipasi.

Dalam kondisi tertentu, tambahan waktu beberapa menit hingga beberapa jam dapat menentukan keberhasilan evakuasi, perlindungan masyarakat, hingga pengamanan fasilitas penting.

Karena itu, sistem pemantauan harus diikuti dengan mekanisme penyampaian informasi yang cepat dan mudah dipahami masyarakat.

Berton menegaskan bahwa kesiapan menghadapi bencana tidak dapat hanya diukur berdasarkan jumlah peralatan yang dimiliki pemerintah.

Peralatan, teknologi pemantauan, dan sistem peringatan dini memang penting. Namun, seluruh komponen tersebut harus terhubung dengan prosedur yang jelas dan sumber daya manusia yang memahami apa yang harus dilakukan ketika peringatan dikeluarkan.

Masyarakat juga perlu mengetahui langkah konkret yang harus dilakukan sesuai jenis ancaman di wilayah masing-masing.

Dengan demikian, peringatan mengenai gempa, tsunami, erupsi gunung api, cuaca ekstrem, maupun karhutla tidak berhenti sebagai informasi, tetapi menjadi dasar untuk segera mengambil tindakan.

Rangkaian bencana yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi berbagai jenis ancaman secara bersamaan.

Kondisi geografis Indonesia membuat potensi bencana tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Namun, dampaknya dapat ditekan melalui kesiapsiagaan yang dilakukan sejak sebelum bencana terjadi.

Pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, hingga masyarakat memiliki peran dalam memastikan sistem peringatan dini dapat bekerja secara efektif.

Pada akhirnya, kesiapsiagaan bukan sekadar kemampuan merespons ketika bencana sudah terjadi, melainkan kemampuan mengambil keputusan lebih cepat berdasarkan informasi yang tersedia.

Dengan memperkuat deteksi dini dan memastikan setiap peringatan segera diterjemahkan menjadi tindakan, Indonesia diharapkan dapat mengurangi risiko korban maupun kerugian ketika bencana kembali datang.(Dhil/kmps)

Topik: BencanaIndonesia

TerkaitBerita

Menhut Segel Lahan Bekas Karhutla di Kalbar yang Mulai Ditanami Sawit
Nasional

Menhut Segel Lahan Bekas Karhutla di Kalbar yang Mulai Ditanami Sawit

oleh Editor : Affandy
9 September 2026
BANTUAN SOSIAL: Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf memberi sambutan dalam sosialisasi DTSEN oleh Kementerian Sosial RI kepada para camat, kepala desa, lurah, dan operator Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) di Gedung Swatantra Wibawa Mukti, Kompleks Pemerintah Kabupaten Bekasi, Cikarang Pusat pada Rabu (4/3/2026). (FOTO: WAYTRI/KORANINDOPOS.COM)
Nasional

Disorot Publik, Kepala BPS Mutakhirkan DTSEN Anggota DPR RI Eva Stevany Rataba Jadi Dapil 10

oleh Editor : Memoarto
9 September 2026
Bandara Soetta Kembali Beroperasi, Layani 896 Penerbangan Hari Ini
Nasional

Bandara Soetta Kembali Beroperasi, Layani 896 Penerbangan Hari Ini

oleh Editor : Affandy
8 September 2026
Pria Lompat ke Rel Stasiun Tanah Abang, Nyaris Tertabrak KRL
Peristiwa

Pria Lompat ke Rel Stasiun Tanah Abang, Nyaris Tertabrak KRL

oleh Editor : Affandy
8 September 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bank Jakarta

Direkomendasikan

Jalan Protokol Jakpus Kembali Disemprot Water Mist untuk Bersihkan Abu Anak Krakatau

Jalan Protokol Jakpus Kembali Disemprot Water Mist untuk Bersihkan Abu Anak Krakatau

9 September 2026
Menhut Segel Lahan Bekas Karhutla di Kalbar yang Mulai Ditanami Sawit

Menhut Segel Lahan Bekas Karhutla di Kalbar yang Mulai Ditanami Sawit

9 September 2026
BANTUAN SOSIAL: Menteri Sosial RI Saifullah Yusuf memberi sambutan dalam sosialisasi DTSEN oleh Kementerian Sosial RI kepada para camat, kepala desa, lurah, dan operator Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation (SIKS-NG) di Gedung Swatantra Wibawa Mukti, Kompleks Pemerintah Kabupaten Bekasi, Cikarang Pusat pada Rabu (4/3/2026). (FOTO: WAYTRI/KORANINDOPOS.COM)

Disorot Publik, Kepala BPS Mutakhirkan DTSEN Anggota DPR RI Eva Stevany Rataba Jadi Dapil 10

9 September 2026
CARI CUAN: Presiden Donald Trump saat melempar buku pencapaian pemerintah AS. (Foto Ilustrasi: REUTERS/Nathan Howard)

Trump Cari Gara-Gara, Pamer Peta Kanada, Islandia, dan Greenland Tertutup Bendera AS

9 September 2026

Terpopuler

  • Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    Perdana, Kemenag-LPDP Siapkan 10.000 Kuota Beasiswa Pendidikan Profesi Guru

    4453 shares
    Share 1781 Tweet 1113
  • Mayoritas Menteri Disentil Presiden, Menag Ingatkan Bawahannya Membeli Produk Dalam Negeri

    846 shares
    Share 338 Tweet 212
  • Suami Leni Mariska Angkat Bicarakan Tuduhan Podcast: Dari Klaim Nafkah Kurang Hingga Laporan Pemalsuan Dokumen

    320 shares
    Share 128 Tweet 80
  • Tak Ada Tanda Kekerasan, Mahasiswa UI yang Tewas di Kos Depok Diduga Bunuh Diri

    319 shares
    Share 128 Tweet 80
  • 3 Motor Listrik Bertenaga Buas yang Diklaim Bisa Menandingi Motor 250cc

    317 shares
    Share 127 Tweet 79
  • Tentang Kami
  • Redaksi Indopos
  • Pedoman Media Siber
  • Sitemap
Kontak Kami : 0899 064 8218

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada Hasil
Lihat semua hasil
  • Home
  • Nasional
    • Politik
    • Peristiwa
    • Pendidikan
  • Megapolitan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Infrastruktur
    • Properti
  • Teknologi
    • Aplikasi
    • Elektronik
    • Gadget
  • Otomotif
  • Olahraga
    • Sepak Bola
    • Badminton
  • Opini
  • More
    • Edukatif & Inspiratif
    • Internasional
    • Iklan
    • Seni dan Budaya
    • Religi
    • Catatan Ringan
    • Ruang Pajak
    • Kuliner
    • Traveling
    • Film dan Musik

© 2026. Indopos Menyajikan Berita Aktual dan Terpercaya