Sejumlah pengamat menilai bahwa MBG tidak boleh hanya dipandang sebagai program belanja konsumsi yang menghabiskan anggaran negara tanpa menghasilkan dampak ekonomi jangka panjang. Sebaliknya, program berskala nasional ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi penggerak ekonomi baru yang mampu menciptakan nilai tambah sekaligus memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara.
Selama ini, mekanisme program MBG berjalan dengan pola sederhana. Anggaran negara dialokasikan untuk pengadaan bahan makanan, distribusi, dan konsumsi oleh penerima manfaat. Setelah makanan dikonsumsi, siklus anggaran berakhir tanpa menghasilkan pendapatan baru bagi negara.
Model seperti ini dinilai rentan terhadap tekanan ekonomi global, terutama ketika harga komoditas dan energi meningkat atau nilai tukar rupiah mengalami pelemahan. Akibatnya, ruang fiskal pemerintah menjadi semakin terbatas untuk membiayai program pembangunan lainnya.
Karena itu, muncul gagasan untuk mengubah paradigma MBG menjadi sebuah ekosistem ekonomi yang produktif. Melalui pendekatan ini, setiap anggaran yang dikeluarkan tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi yang mampu menciptakan pendapatan berkelanjutan.
Dengan target penerima manfaat yang mencapai puluhan juta orang di seluruh Indonesia, MBG memiliki daya ungkit ekonomi yang sangat besar. Program ini dapat menjadi fondasi pembentukan rantai pasok pangan nasional yang melibatkan petani, nelayan, pelaku UMKM, koperasi, hingga industri logistik.
Apabila dikelola secara terintegrasi, MBG berpotensi menciptakan pasar yang stabil bagi produk pertanian dan perikanan lokal. Selain meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha kecil, langkah ini juga dapat memperkuat ketahanan pangan nasional.
Lebih jauh lagi, aktivitas ekonomi yang tercipta dari ekosistem MBG dapat menghasilkan berbagai bentuk pendapatan yang pada akhirnya berkontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
Salah satu sektor yang dinilai memiliki prospek besar adalah pembangunan jaringan penyimpanan dingin atau cold chain. Selama ini, Indonesia masih menghadapi tingkat kehilangan hasil panen dan produk perikanan yang cukup tinggi akibat keterbatasan fasilitas penyimpanan.
Melalui jaringan cold storage yang terhubung dengan kebutuhan MBG, pemerintah dapat membantu menjaga kualitas bahan pangan sekaligus mengurangi kerugian pascapanen. Fasilitas tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh petani dan nelayan di luar kebutuhan program, sehingga menciptakan sumber pendapatan baru.
Selain mendukung distribusi pangan bergizi, pengembangan cold chain juga berpotensi meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional.
Pilar berikutnya adalah penerapan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah pangan. Sisa makanan dan limbah organik yang dihasilkan dari kegiatan MBG dapat diolah menjadi kompos, pakan ternak, hingga energi terbarukan.
Pendekatan ini tidak hanya membantu mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membuka peluang usaha baru di tingkat daerah. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah yang sebelumnya dianggap sebagai masalah dapat berubah menjadi sumber nilai ekonomi.
Transformasi MBG menjadi program produktif membutuhkan tata kelola yang transparan, pengawasan yang kuat, serta pemanfaatan teknologi digital dalam setiap prosesnya. Sistem yang terintegrasi akan memastikan setiap aliran anggaran dapat dipantau secara terbuka dan akuntabel.
Selain itu, keterlibatan koperasi, UMKM, dan komunitas lokal menjadi faktor penting agar manfaat ekonomi program dapat dirasakan secara merata di berbagai wilayah Indonesia.
Program Makan Bergizi Gratis sejatinya memiliki potensi lebih besar daripada sekadar penyediaan makanan bagi masyarakat. Dengan pendekatan yang tepat, MBG dapat berkembang menjadi platform ekonomi nasional yang memperkuat sektor pangan, menciptakan lapangan kerja, mendorong inovasi, dan menghasilkan nilai tambah bagi negara.
Jika transformasi tersebut berhasil dilakukan, MBG tidak hanya akan dikenang sebagai program sosial berskala besar, tetapi juga sebagai investasi strategis yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam jangka panjang.(dhil)










