Tekanan terhadap rupiah dipicu berbagai faktor eksternal, mulai dari penguatan dolar AS, ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik, hingga kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve yang membuat aliran modal asing keluar dari pasar negara berkembang.
Di tengah kondisi tersebut, tayangan “Belajar dari Habibie” kembali viral di media sosial. Potongan wawancara B. J. Habibie dalam program Mata Najwa ramai dibagikan warganet karena dianggap relevan dengan situasi ekonomi saat ini.
Dalam wawancara tersebut, Habibie menceritakan beratnya memimpin Indonesia ketika menghadapi krisis ekonomi 1997–1998. Saat itu, Indonesia mengalami inflasi tinggi, suku bunga melonjak, dan nilai tukar rupiah terpuruk hingga mengguncang hampir seluruh sektor ekonomi nasional.
Habibie mengaku harus menekan ego pribadi demi kepentingan bangsa, termasuk mengambil keputusan sulit menghentikan proyek pesawat N250 yang menjadi simbol kebanggaan industri teknologi nasional kala itu.
Menurut Habibie, keputusan tersebut dilakukan agar pemerintah dapat lebih fokus menyelamatkan ekonomi rakyat yang sedang tertekan akibat krisis moneter.
Langkah tersebut sempat menuai kritik karena proyek N250 dianggap sebagai salah satu pencapaian besar industri dirgantara Indonesia. Namun Habibie memilih mendahulukan stabilitas ekonomi nasional dibanding ambisi pribadi maupun kebanggaan teknologi.
Meski berada dalam situasi sulit, berbagai kebijakan yang diambil pada masa pemerintahannya perlahan berhasil memulihkan kepercayaan pasar. Stabilitas ekonomi mulai membaik, inflasi menurun, dan nilai tukar rupiah perlahan mengalami penguatan.
Banyak warganet menilai kisah tersebut menjadi pengingat penting tentang kepemimpinan, pengorbanan, dan keberanian mengambil keputusan besar di tengah tekanan ekonomi.
Fenomena viralnya kembali wawancara Habibie juga mencerminkan kerinduan publik terhadap figur pemimpin yang dianggap mampu berpikir visioner namun tetap mengutamakan kepentingan rakyat di masa krisis.
Saat ini, kondisi ekonomi Indonesia memang dinilai berbeda dibanding krisis 1998 karena fundamental ekonomi, sistem perbankan, dan cadangan devisa jauh lebih kuat. Namun pelemahan rupiah tetap menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada harga impor, inflasi, serta daya beli masyarakat.
Bank Indonesia bersama pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas ekonomi dan nilai tukar melalui berbagai kebijakan moneter serta penguatan sektor keuangan domestik di tengah ketidakpastian global.(dhil)










