koranindopos.com, JAKARTA — Di tengah ritme kehidupan modern yang bergerak semakin cepat, banyak orang tanpa sadar kehilangan ruang untuk berhenti sejenak. Notifikasi yang tak pernah tidur, tuntutan untuk selalu sigap, dan aktivitas yang saling bertumpuk membuat ketenangan menjadi sesuatu yang langka. Dalam situasi ini, rumah dan ruang di sekitar kita kembali menemukan perannya bukan hanya sebagai tempat beraktivitas, tetapi sebagai ruang untuk memulihkan diri.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Dulux memperkenalkan Colours of The Year 2026 dengan tema Rhythm of Blues™, sebuah pendekatan warna yang mengajak setiap individu menemukan kembali ritme hidupnya melalui ruang yang lebih tenang dan seimbang. Diusung lewat kampanye #TemukanTenangmu, inisiatif ini lahir dari riset tahunan yang mendalami perubahan sosial, budaya, serta kebutuhan emosional manusia terhadap ruang dan warna.
Berbeda dari pendekatan warna tunggal, Rhythm of Blues™ hadir sebagai spektrum tiga nuansa biru yang mencerminkan bahwa ketenangan tidak pernah seragam. Setiap orang memiliki caranya sendiri untuk merasa pulih.
Slow Swing™, biru gelap yang dalam dan menenangkan, diciptakan untuk membantu memperlambat langkah dan memulihkan energi. Nuansa ini terasa pas untuk ruang istirahat, kamar tidur, atau sudut refleksi pribadi.
Mellow Flow™ menghadirkan biru terang yang lembut, membangun rasa seimbang dan kebersamaan—ideal untuk ruang keluarga dan area komunal. Sementara Free Groove™ menjadi biru yang lebih ekspresif dan hidup, memberi ruang bagi kreativitas tanpa kehilangan rasa nyaman.
Pilihan warna biru bukan tanpa alasan. Selama ini, biru kerap diasosiasikan dengan rasa aman, stabilitas, dan ketenangan. Dalam psikologi warna, biru dikenal mampu menurunkan intensitas emosi dan membantu menciptakan pengalaman ruang yang lebih seimbang. Melalui Rhythm of Blues™, warna tidak lagi hadir sekadar sebagai elemen visual, melainkan sebagai bagian dari pengalaman emosional sebuah ruang.

Niluh Putu Ayu Setiawati, Head of Marketing AkzoNobel Decorative Paints Indonesia, menjelaskan bahwa pendekatan ini berangkat dari pemahaman sederhana: ketenangan itu personal.
“Setiap individu memiliki ritme hidup yang berbeda. Lewat Rhythm of Blues™, kami ingin menunjukkan bahwa selalu ada biru yang bisa selaras dengan kebutuhan emosional setiap orang dan setiap ruang. Warna bukan hanya soal tampilan, tetapi tentang bagaimana ruang bisa mendukung kekuatan emosional penggunanya,” ujarnya.
Pendekatan ini juga sejalan dengan cara pandang arsitektur masa kini. Teguh Aryanto, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, melihat warna sebagai bagian integral dari perancangan ruang yang berorientasi pada kesejahteraan.
“Ruang yang baik bukan hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga memberi dampak mental. Biru membantu meredam intensitas visual dan menciptakan rasa stabil, sehingga ruang terasa lebih tenang tanpa kehilangan kehangatan,” jelasnya.
Dari sisi kesehatan mental, warna dan ruang memegang peran yang tak kalah penting. Sylvia M. Siregar, Founder & Board of Patrons Filoksenia Foundation, menyoroti dampaknya bagi anak-anak dengan neurodiverse.
“Lingkungan visual yang tepat dapat menurunkan kecemasan dan meredam overstimulasi. Dalam banyak pengalaman kami, warna biru sering menjadi penyeimbang emosional yang membantu anak merasa lebih aman dan fokus,” ungkapnya.
Sementara itu, dari perspektif feng shui, Jenie, Feng Shui Expert, memandang rumah sebagai pusat keseimbangan energi.
“Warna biru memiliki karakter yang lembut dan adaptif. Dengan pilihan Slow, Flow, dan Free dalam Rhythm of Blues™, warna bisa disesuaikan dengan fungsi ruang dan kebutuhan energi penghuninya, sehingga rumah terasa lebih personal dan menenangkan,” jelasnya.
Melalui Dulux Colours of The Year 2026: Rhythm of Blues™, Dulux mengajak masyarakat untuk melihat warna dari sudut pandang yang lebih dalam sebagai bagian dari perjalanan menemukan keseimbangan hidup. Karena pada akhirnya, ketenangan bukanlah kemewahan, melainkan hak setiap orang, di setiap ruang yang mereka huni. (sh)










