koranindopos.com – Jakrta. Tarian Soya-Soya kembali menjadi perhatian publik sebagai salah satu warisan budaya Maluku Utara yang kaya akan nilai sejarah dan semangat kepahlawanan. Tarian tradisional ini berasal dari Kesultanan Ternate dan telah diwariskan turun-temurun sebagai simbol keberanian para prajurit dalam mempertahankan tanah kelahiran.
Soya-Soya awalnya merupakan tarian perang. Dalam sejarahnya, tarian ini diciptakan pada masa Sultan Baabullah pada abad ke-16 untuk menyambut para prajurit yang kembali dari medan perjuangan. Gerakan-gerakannya yang dinamis, tegas, dan penuh energi mencerminkan kegigihan serta tekad kuat para pejuang Ternate dalam mengusir penjajah.
Biasanya, tarian ini dibawakan oleh sekelompok penari laki-laki, meski saat ini perempuan juga banyak ikut menarikan. Para penari mengenakan busana khas prajurit dengan ikat kepala merah, pakaian serba hitam, serta membawa pedang atau tongkat kayu sebagai simbol senjata. Musik pengiringnya menggunakan tifa dan gong yang dimainkan dengan ritme cepat, memperkuat kesan heroik dan membangkitkan adrenalin.
Makna “Soya-soya” sendiri sering dihubungkan dengan seruan semangat dan ajakan untuk terus berjuang. Karena itu, tarian ini kerap ditampilkan dalam berbagai acara adat, penyambutan tamu kehormatan, festival budaya, hingga perayaan Hari Kemerdekaan di Maluku Utara. Kehadirannya memberikan nuansa megah sekaligus mengingatkan masyarakat pada nilai-nilai perjuangan dan persatuan.
Selain bernilai estetika, Tarian Soya-Soya juga menjadi medium pelestarian identitas budaya bagi masyarakat Maluku Utara. Pemerintah daerah bersama para budayawan terus mendorong regenerasi penari muda melalui sanggar-sanggar seni dan kegiatan sekolah, agar tarian ini tetap hidup dan dikenal luas oleh generasi selanjutnya.
Dengan karakter kuat dan filosofi yang mendalam, tarian Soya-Soya tidak hanya sekadar pertunjukan seni, tetapi juga simbol kejayaan sejarah, keberanian, dan kecintaan masyarakat Ternate terhadap tanah leluhur mereka. Tarian ini kini menjadi salah satu ikon budaya Maluku Utara yang memperkaya khazanah seni tradisional Indonesia. (dni)










