Koranindopos.com – JAKARTA – Sejumlah negara di berbagai belahan dunia mulai membangun tanggul laut raksasa atau giant sea wall sebagai langkah strategis untuk menghadapi ancaman kenaikan permukaan air laut dan banjir pesisir. Infrastruktur berskala besar ini dinilai menjadi solusi penting dalam mitigasi dampak perubahan iklim, khususnya bagi kota-kota pesisir yang berada di dataran rendah dan rentan tenggelam.
Fenomena perubahan iklim yang memicu mencairnya es di kutub serta peningkatan volume air laut telah mendorong banyak negara untuk berinvestasi dalam sistem perlindungan pantai. Tanggul laut raksasa tidak hanya berfungsi menahan air laut, tetapi juga menjadi bagian dari sistem pengelolaan air terpadu yang mencakup pompa, waduk, dan pengendalian tata ruang.
Salah satu proyek yang tengah menjadi perhatian adalah pembangunan The Great Sea Wall Jakarta di Jakarta. Proyek ini merupakan bagian dari program National Capital Integrated Coastal Development (NCICD), yang dirancang sebagai sistem perlindungan terpadu untuk mengatasi banjir rob yang kerap melanda wilayah pesisir ibu kota.
Melalui proyek ini, pemerintah berupaya melindungi kawasan pesisir Jakarta dari ancaman tenggelam akibat kombinasi penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut. Selain itu, NCICD juga mencakup pembangunan waduk, normalisasi sungai, serta peningkatan sistem drainase kota.
Di tingkat global, beberapa negara telah lebih dahulu mengembangkan tanggul laut raksasa sebagai bagian dari strategi adaptasi iklim. Belanda, misalnya, dikenal dengan sistem Delta Works yang menjadi salah satu proyek perlindungan banjir paling canggih di dunia. Infrastruktur ini telah terbukti efektif melindungi wilayahnya yang sebagian besar berada di bawah permukaan laut.
Sementara itu, Korea Selatan membangun Saemangeum Seawall, salah satu tanggul laut terpanjang di dunia, untuk melindungi wilayah pesisir sekaligus mendukung reklamasi lahan. Di Jepang, tanggul laut juga menjadi bagian penting dari mitigasi bencana, terutama setelah pengalaman menghadapi tsunami besar.
Meski menawarkan perlindungan signifikan, pembangunan tanggul laut raksasa juga menuai tantangan, mulai dari biaya yang sangat besar hingga dampak lingkungan seperti perubahan ekosistem laut dan pesisir. Oleh karena itu, banyak negara kini mengombinasikan pendekatan infrastruktur keras (hard infrastructure) dengan solusi berbasis alam, seperti rehabilitasi mangrove.
Ke depan, keberadaan giant sea wall diperkirakan akan semakin penting seiring meningkatnya risiko perubahan iklim global. Bagi kota-kota pesisir seperti Jakarta, keberhasilan proyek ini akan sangat menentukan keberlanjutan wilayah dan keselamatan jutaan penduduk yang tinggal di sekitarnya.(dhil)










