JAMBI, koranindopos.com – Presiden Joko Widodo yang melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Jambi, Kamis (07/02/2022) pagi disambut hangat oleh ratusan para aktivis.
Mereka menuntun agar Presiden Jokowi mengambil sikap tegas kepada para pengusaha minyak kelapa sawit yang dinilai lebih mementingkan ekspor dari pada memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Yoga Aditya, dalam orasinya menyebut Indonesia sebagai penghasil Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia sudah seharusnya rakyat dengan sangat mudah mendapatkan minyak goreng, namun salah satu kebutuhan pokok tersebut setelah ditetapkan Harga ECER Tertinggi (HET) oleh Pemerintah terkesan menghilang dari peredaran.
” Kementerian Pertanian mencatat luas perkebunan kelapa sawit 15,08 juta hektare (Ha) pada tahun 2021, sedangkan produksi CPO indonesia 46,88 juta ton di 2021, Menteri Perdagangan Indonesia menjelaskan kebutuhan minyak goreng pada tahun 2022 sebanyak 5.7 juta kilo liter, B30 Biodisel untuk menghemat devisa negara sebesar 30 % ” Kata Yoga, Kamis (07/04/2022).
Tidak hanya sebatas itu saja, ada beberapa poin yang disampaikan para aktivis untuk Presiden Jokowi, dimana
pendistribusian minyak goreng dan pengawasan dalam pendistribusian turut menjadi atensi Yoga dalam orasinya.
” Tindak tegas pengusaha maupun ritel modern yang menimbun minyak goreng, utamakan masyarakat dan pangan dari pada Biodisel B.30 program pemerintah ” Sebutnya
Disamping itu para aktivis minta presiden memastikan 20% pajak untuk ekspor minyak sawit serta turunannya keluar negeri memang di subsidi untuk masyarakat dalam negeri.
Namun situasi sempat memanas antara personil Penegak Hukum, terjadi aksi saling dorong ketika para aktivis ingin menembus blokade yang di jaga ketat.
Perlu di ketahui selain memberikan bantuan modal kerja dan BLT minyak goreng ke ratusan pedagang, dalam Kunkernya Presiden Jokowi juga meninjau perusahaan biji pinang siap ekspor yang ada di Provinsi Jambi.(her)










