koraindopos.com – Mina, Arab Saudi . Anggota Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menyampaikan kekecewaannya terhadap pelaksanaan ibadah haji tahun 1446 H/2025 M. Menurutnya, pelaksanaan di lapangan tidak mencerminkan perencanaan matang yang sebelumnya telah dipaparkan oleh Kementerian Agama RI.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Lalu Hadrian melakukan peninjauan langsung ke lokasi pemondokan jemaah haji Indonesia di Mina, Makkah, Arab Saudi.
“Kami sangat menyayangkan. Manajemen pelaksanaan haji yang sebelumnya disampaikan secara meyakinkan oleh Menteri Agama ternyata tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan,” ujarnya tegas.
Lalu Hadrian menjelaskan bahwa beberapa hari sebelum puncak ibadah haji di Arafah, pihaknya menghadiri rapat koordinasi yang dipimpin Menteri Agama. Dalam rapat tersebut, pemerintah memaparkan secara rinci kesiapan layanan haji. Namun, realitas di lapangan jauh dari ekspektasi. Ia menyoroti kasus jemaah yang terlantar karena keterlambatan armada bus serta tidak tersedianya tenda di Arafah untuk sejumlah jemaah.
“Kami berharap ini menjadi pelaksanaan haji yang lebih baik, apalagi ini haji terakhir yang sepenuhnya ditangani oleh Kementerian Agama. Tapi kenyataannya justru sebaliknya,” imbuh legislator dari Fraksi PKB itu.
Masalah tidak hanya datang dari sisi internal Indonesia. Lalu Hadrian juga menyoroti kebijakan baru otoritas Arab Saudi, termasuk implementasi sistem digital E-Hajj, yang menurutnya menyebabkan kekacauan data.
Salah satu dampak dari sistem ini adalah pemisahan data antara keluarga dan pendamping jemaah, yang pada akhirnya menyulitkan distribusi layanan di lapangan.
“Data yang tidak terintegrasi menyulitkan proses pelayanan di lapangan dan menjadi salah satu penyebab ketidakteraturan,” jelasnya.
Melihat berbagai kendala tersebut, Lalu Hadrian menyarankan agar ke depan pengelolaan ibadah haji diserahkan kepada lembaga baru yang lebih profesional, transparan, dan memiliki kendali teknis yang kuat. Menurutnya, sudah saatnya pelaksanaan haji dikelola secara terstruktur dan modern, dengan tujuan utama meningkatkan kenyamanan dan kekhusyukan jemaah.
“Harapan kami, tahun-tahun berikutnya tidak ada lagi pengalaman pahit seperti ini. Haji harus menjadi ibadah yang khusyuk dan nyaman, bukan menyulitkan jemaah,” tutupnya. (hai)










