Koranindopos.com, JAKARTA – Krisis fatherless menjadi fokus Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji. Di hari pertama masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) pada Senin pagi (14/7/2025), Wihaji mendatangi SMAN 9 di Makasar, Jakarta Timur. Mantan Bupati Batang periode 2017–2022 itu ingin melihat langsung bonding antara anak dan ayah di hari pertama sekolah.
Menurut Wihaji, Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah menjadi simbol perubahan budaya pengasuhan di Indonesia. Dari yang semula terpusat pada peran ibu, menjadi lebih kolaboratif dan setara. ”Sekaligus bertujuan untuk mengatasi krisis fatherless di Indonesia, yakni minimnya keterlibatan figur ayah dalam pengasuhan anak. Berdasar data 20,9 persen anak Indonesia mengalami fatherless,” ujar Wihaji.
Gerakan tersebut merupakan bagian dari kampanye Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), sambung Wihaji, itu salah satu Quick Wins Kemendukbangga/BKKBN. Program tersebut dilandasi Surat Edaran Mendukbangga/Kepala BKKBN Nomor 7 Tahun 2025 tentang Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Sekolah.
Wihaji juga menyoroti penggunaan gawai yang kini seolah menjadi anggota baru keluarga. Meski tidak anti terhadap penggunaan handphone, namun Wihaji mengingatkan remaja bijak dalam penggunaannya. ”Rata-rata anak menggunakan handphone 8,5 jam dalam sehari. Akibatnya, mereka sangat kurang berinteraksi dengan orang tua,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Wihaji juga sempat berbicang dengan dengan salah seorang siswi. Pelajar tersebut mengakui kurang berkomunikasi dengan orangtuanya. ”Ketika saya pulang, orang tua saya belum pulang. Ketika orang tua saya pulang, saya sudah tidur. Dalam satu minggu saya ngobrol hanya 30 menit,” ujar siswi tersebut. (rls/mmr)










